Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
43


__ADS_3

Hari semakin sore, Ayumi berpamitan kepada Bunda Andara dan Kak Zura yang baru saja pulang dari tempat kerjanya untuk segera pulang ke rumah.


Pekerjaan Ayumi untuk membuat kue sudah selesai. Ada sekitar lima loyang bolu pelangi yang Ayumi buat. Satu untuk Bunda Icha, satu untuk Nenek Arsy, satu untuk Rara, dan dua untuk Bunda Andara serta Kak Zura.


Rara sudah terbangun dari tidurnya dan mengungkapkan terima kasih kepada Ayumi yang sudah membuatkan bolu pelangi untuk dirinya.


"Ay, jangan lupa bilang Kak Kahfi untuk mengantarkan Rara besok ke Solo," ucap Rara pelan.


"Kamu yakin mau berangkat besok? Malam ini kamu tidur disini kan, Ra?" tanya Ayumi kepada Rara.


"Iya Ay, ada beberapa hal yang harus Rara selesaikan disana Ay," ucap Rara pelan.


"Pakaianmu bagaimana, Ra?" tanya Ayumi pelan.


"Nanti Om Broto titipkan ke supir sekalian uang untuk Rara sekolah," jawab Rara pelan.


"Baiklah kalau begitu, Ayumi pulang dulu, Ra," ucap Ayumi pelan lalu memeluk sahabatnya itu.


Ayumi pulang ke rumah dengan perasaan bingung. Ingin membantu Rara untuk memberitahu Kahfi perihal acara besok.


"Assalamu'alaikum... Nek," panggil Ayumi dari teras depan rumah.


"Waalaikumsalam... Ayumi, kenapa sampai sore?" tanya Nenek Arsy khawatir.


"Maaf Nek, tadi Ayumi mengantarkan Rara bertemu Bunda Andara, lalu membuat kue, ini ada satu buat Nenek, dan satu lagi mau Ayumi antar ke rumah Bunda Icha," ucap Ayumi pelan menjelaskan.


"Nenek khawatir, tidak biasanya kan kamu pulang terlambat. Bagaimana kelulusan hari ini?" tanya Nenek Arsy kepada Ayumi.


"Alhamdulillah Nek, Ayumi berhasil mendapatkan nilai terbaik, tapi sayang Kak Afnan tidak bisa melihat Ayumi lulus hari ini. Apa kabarnya disana?" ucap Ayumi pelan.


"Pikirkan sekolah dulu, kalau Afnan jodoh kamu, pasti tidak akan pergi," ucap Nenek Arsy menasehati.


"Iya Nenek, kayak gak pernah muda aja," ucap Ayumi sambil tersenyum.


"Karena Nenek pernah muda, Nenek menyesal dulu menikah muda, lebih baik Nenek kejar cita-cita Nenek menjadi seorang pramugari," ucap Nenek dengan polos.


Kedua bola mata Ayumi membola mendengar ucapan Nenek Arsy yang cukup mengejutkan, ternyata cita-cita Nenek Arsy luar biasa keren di masa itu.


"Serius Nek? Cita-cita Nenek menjadi seorang pramugari?" tanya Ayumi dengan rasa tidak percaya.


"Iya, Nenek biar begini dulu juga secantik kamu, yang suka Nenek juga banyak, tapi yang nyangkut di hati Nenek cuma Kakekmu. Beliau baik, tulus dan tanggung jawab, itu yang Nenek suka," ucap Nenek Arsy pelan mengingat kebaikan suaminya.


"Sudah Nek. Jangan dibahas lagi, nanti Nenek sedih," ucap Ayumi pelan.


"Mana kue untuk Nenek?" tanya Nenek Arsy kepada Ayumi.

__ADS_1


"Ini Nek," jawab Ayumi.


Ayumi membuka kantong plastik yang berisi dua kardus bolu pelangi, dikeluarkan satu kardus untuk Nenek Arsy.


"Nek, Ayumi tinggal dulu, mau mandi. Titip ini, untuk Bunda Icha, Ayumi akan antar kesana, boleh kan Nek?" tanya Ayumi pelan.


"Iya Ayumi, boleh, tapi ingat jangan pulang terlalu malam ya," ucap Nenek Arsy menasehati.


Ayumi masuk ke dalam rumah menuju kamarnya. Di dalam kamarnya, Ayumi duduk di tepi ranjang lalu merebahkan tubuhnya yang lemah di atas kasur empuk miliknya.


Pikirannya menerawang, merindukan sosok lelaki yang Ayumi kagumi. Dia adalah Ayah Bayu, Ayah Ayumi, Ayah yang baik dan bertanggung jawab.


'Ayumi rindu Ayah, juga rindu Bunda. Ayumi sudah lulus dengan nilai terbaik, terima kasih Ayah dan Bunda yang selama ini mengajarkan Ayumi agar rajin, giat belajar dan disiplin waktu,' batin Ayumi di dalam hatinya.


Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, Ayumi sudah bersiap-siap menuju rumah Bunda Icha dan membawa buah tangan titipan dari Bunda Andara.


"Nek, Ayumi pergi dulu," pamit Ayumi kepada Nenek Arsyb yang masih duduk santai di teras rumah untuk menikmati senja yang terlihat indah.


Ayumi menghampiri Nenek Arsy dan mencium punggung tangan Nenek Arsy dengan hormat.


"Hati-hati Ayumi," ucap Nenek Arsy pelan.


Perjalanan dari rumah Ayumi kira-kira sekitar lima belas menit untuk sampai ke rumah Bunda Icha dengan berjalan kaki.


Ayumi sudah sampai di rumah Bunda Icha, rumahnya terlihat sepi dan sunyi.


"Waalaikumsalam..." jawab Bunda Icha dari balik pintu rumahnya.


Pintu itu terbuka, Bunda Icha menatap Ayumi dengan senyum yang lebar.


"Ayumi!!" teriak Bunda Icha dengan senang.


Padahal baru dua hari yang lalu, Bunda Icha ke rumah Ayumi untuk menitipkan Ayumi pada Nenek Arsy atas permintaan Afnan, putra sulungnya.


"Bunda Icha, apa kabar?" ucap Ayumi dengan lembut.


Ayumi mencium punggung tangan Bunda Icha dan memeluk Bunda Icha penuh kasih sayang. Bunda Icha sudah dianggap seperti Bundanya sendiri oleh Ayumi. Apalagi, Ayumi akan menjadi menantu Bunda Icha sudah dipastikan akan lebih dekat lagi hubungan mereka berdua.


"Bunda baik-baik saja, Ayumi gimana kelulusannya? Tadi Afnan tanya Bunda, tapi Bunda bilang kurang tahu, Bunda belum ketemu Ayumi," ucap Bunda dengan jujur.


"Alhamdulillah Bunda, Ayumi lulus dengan nilai terbaik," ucap Ayumi pelan.


"Selamat anakku, Bunda telepon Afnan ya, biar bicara sama kamu?" tanya Bunda Icha kepada Ayumi.


"Jangan Bunda, jangan diganggu, nan mti Bunda kasih kabar saja, Ayumi lulus," ucap Ayumi pelan dengan senyum yang mampu membius orang banyak untuk mengagumi keanggunannya.

__ADS_1


"Sampai lupa nyuruh masuk, keasikan ngobrol di depan pintu. Masuk Ay," ucap Bunda Icha sambil menarik tangan Ayumi untuk masuk ke dalam.


Ayumi dan Bunda Icha berjalan menuju ruang keluarga. Disana ada Kyai Toha dan Kahfi yang tengah asyik bermain catur, hingga kedatangan calon menantunya tidak sempat terlirik.


"Mas, ini ada Ayumi," pangg Bunda Icha kepada suaminya.


Ayumi menghampiri Kyai Toha dan menyalami dengan hormat. Kahfi yang berada di depannya hanya menatap Ayumi tanpa berkedip.


"Makin cantik aja, Ay," celetuk Kahfi apa adanya sambil mengedipkan satu matanya pada Ayumi.


"Fi, itu calon Kakak iparmu, jangan digodain," ucap Bunda Icha menasehati.


"Iya Bunda, gak digodain. Kahfi cuma jagain jodohnya orang, biar gak ketulungan sama doa di sepertiga malam," ucap Kahfi sambil terkekeh.


"Kahfi," panggil Kyai Toha dengan keras.


"Iya Pak," jawab Kahfi dengan sopan.


"Jatah kamu main tuh, skakmat," ucap Kyai Toha pelan sambil tertawa lepas.


"Lho kok bisa? Tadi gak begini," ucal Kahfi kesal.


"Makanya jaga pandangan kamu!!" ucap Kyai Toha menasehati.


"Ulang Pak," ucap Kahfi memohon.


"Bapak lelah, mau ke rumah Ustad Yusuf, ada perlu sebentar," ucap Kyai Toha pelan.


Ayumi mengikuti Bunda Icha yang masuk kedalam dapur, lalu meletakkan bungkusan plastik dibatas meja makan.


"Apa itu Ay?" tanya Bunda Icha menatap bungkusan yang dibawa Ayumi.


"Ini Bunda, ada kue dari Bunda Andara," ucap Ayumi pelan sambil membuka plastik tersebut.


"Kue apa?" tanya Bunda Icha sambil menghampiri Ayumi untuk melihat kue yang dibawanya.


"Ini Bolu Pelangi," ucap Ayumi pelan.


"Mana Bolu Pelanginya? Kahfi mau coba," ucap Kahfi yang datang tiba-tiba dan mengambil satu potongan kue bolu itu.


Kahfi mengunyah kue bolu itu dengan nikmat.


"Ini buatan kamu, Ay?" tanya Kahfi pada Ayumi.


"Kenapa Kak?" tanya Ayumi kepada Kahfi.

__ADS_1


"Tekstur buatan kamu itu khas," ucap Kahfi pelan.


Ayumi terdiam dan menatap Kahfi dengan lekat. Lelaki ini begitu perhatian, hingga ciri khas kue yang Ayumi buat pun dia hapal tanpa harus menanyakan.


__ADS_2