
Sudah setengah jam kegai sahabat itu berada di dapur, Bulan sejak tadi mendiamkan Ayumi yang terkejut dengan berita pernikahan Rara dan Kahfi yang begitu mendadak.
Bagi Ayumi, berita ini bagaikan batu besar dan runcing yang menghujam dadanya berkali-kali hingga rasanya begitu sakit dan nyeri. Pedih sekali namun tidak membekas jelas, hanya luka yang menggores hatinya itu terasa perih dan menganga.
"Sudah Ay, jangan nangis aja, nanti Kak Afnan curiga," ucap Bulan mengingatkan Ayumi dengan suara yang sangat pelan.
Ayumi menganggukkan kepalanya pelan dan melanjutkan memasak dengan mata yang sudah sedikit bengkak dan merah.
Bulan berjalan ke lemari pendingin untuk mengambil minuman dingin disana, satu kaleng besar buah leci yang terlihat segar dan nikmat. Kaleng buah itu di buka dengan alat pembuka kaleng dan di tumpahkan ke dalam dua gelas besar dan di beri es batu serta air putih sedikit agar tidak terlalu manis.
"Minum dulu Ay, sekalian nunggu sop baksonya matang," ucap Bulan pelan sambil memberikan. satu gelas besar kaleng buah leci segar itu.
Ayumi menerima gelas buah itu setelah memasukkan bumbu dan sayuran sop serta potongan bakso ke dalam panci yang airnya sudah mendidih.
"Harum banget buah lecinya, ini enak banget," ucap Ayumi saat mencium aroma dari gelas buah leci itu dan mencicipi minuman itu dan memakan satu buah leci yang sudah terkupas dari bijinya, memang terasa enak, nikmat,dingin dan terasa segar di tenggorokan.
"Gimana? enak kan? Ini favoritnya Ustad Ikhsan, huh jadi rindu," ucap Bulan dengan lirih.
"Memang tidak ikut ke tempat Kk Fi dan Rara?" tanya Ayumi masih menyeruput air berperisa buah leci itu.
Bulan menggelengkan kepalanya pelan lalu duduk di kursi makan. Gelas buahnya diletakkan dan mulai memakan buah lecinya dengan pelan.
"Katanya tidak jadi, mendadak ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan dari sekolah, tapi entah apa itu. Seharian ini juga tidak menelepon Bulan, alasannya hari ini sibuk, pesan chat Bulan juga belum dibaca, sedih kan rasanya," ucap Bulan pelan. sambil menatap Ayumi yang masih menikmati minuman dingin berperisa buah leci itu.
"Nanti coba lagi, mungkin memang sedang sibuk, seharusnya kamu bisa mengerti kondisi dan keadaan Ustad Ikhsan, Bulan," ucap Ayumi pelan menasehati Bulan.
Bulan tampak menganggukkan kepalanya pelan sambil menyuapkan satu buah leci itu ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Bulan paham kok dan sangat mengerti, tapi setidaknya itu bilang atau pamit, mau kesini atau kesana atau kemana, jangan cuma diem," ucap Bulan dengan kesal.
Ayumi tersenyum dan terkekeh pelan.
"Maklum pengantin baru jadi galau begini," ucap Ayumi pelan lalu mematikan kompornya dan menyiapkan satu mangkuk besar untuk tempat sop baksonya lalu diletakkan di meja makan.
Ayumi menyiapkan beberapa piring kosong dan menumpuknya. Memindahkan telur dadar yang sudah digoreng di piring pipih besar lalu di potong dan diletakkan diatas meja makan.
"Sudahlah biarkan saja, mau makan sekarang?" tanya Ayumi yang sudah mengambil piring dan menyendokkan nasi dengan sendok besar.
Ayumi dan Bulan sedang menyantap makan siang menjelang sorenya, setelah ini mereka berdua segera mandi dan berangkat menuju bandara.
"Ay, jam segini kenapa Kak Afnan belum pulang?" tanya Bulan dengan suara pelan kepada Ayumi.
Ayumi menatap jam tangannya dan melihat waktu saat ini. Sudah sangat sore dan Kak Afnan belum pulang, apa yang dilakukannya di kampus sapai sore begini.
"Coba kamu telp, Ay," ucap Bulan menitah kepada Ayumi.
"Assalamu'alaikum, Afnan ada?" tanya seorang laki-laki dewasa dengan brewok yang agak lebat itu menatap lekat kedua mata Ayumi.
"Waalaikumsalam, tidak ada," ucap Ayumi pelan kepada laki-laki tersebut.
Roland menatap cincin yang melingkar di jari manis Ayumi dengan lekat, bentuk dan ukirannya sama persis dengan cincin yang melingkar di jari manis Afnan.
"Kamu pasti Ayumi? Tunangannya afnan, bukan?" tanya Roland dengan pandangan mata yang tajam dan senyum smirknya.
Ayumi menatap lekat kedua mata berwajah garang seperti menyimpan sesuatu. Ayumi menganggukkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Iya betul sekali, Ayumi adakah tunangan Kak Afnan, tapi Kak Afnan belum kembali ke rumah mungkin masih ada kerjaan di kampus," jawab Ayumi menjelaskan.
Laki-laki itu tertawa terbahak-bahak, lalu mengunci tubuh Ayumi dengan kedua lengan kekarnya itu.
"Namaku Roland, senang berkenalan dengan gadis cantik secantik dirimu, Ayumi," ucap Roland dengan sangat pelan dan meniup telinga Ayumi yang tepat berada didepan wajah Roland, karena Ayumi memalingkan wajahnya ke arah samping.
Ayumi melepaskan diri dari kungkungan lengan kekar itu, wajah Ayumi sudah terlihat sedikit pucat, jantungnya juga berdegup lima kali lebih kencang dari biasanya, tubuhnya sudah dingin dan berkeringat karena rasa takut seolah pria itu ingin melukai Ayumi.
Ayumi berhasil melepaskan dirinya dari Roland dan masuk ke dalam apartemen itu lalu menguncinya dengan rapat.
Ayumi bersandar di belakang pintu apartemen itu dan menangis sesegukan. Teringat akan menelepon Afnan, Ayumi langsung memencet nomor Afnan dan menyambungkan sambungan teleponnya.
Nada sambungnya selalu terputus seperti tidak ada jaringan atau ponsel sedang dimatikan.
Ayumi menundukkan kepalanya dan menutup kedua matanya. Rasanya tubuh Ayumi masih bergetar dan lututnya terasa sangat lemas.
'Perasaan Ayumi kok tiba-tiba tidak enak seperti ini. Apalagi Kak Afnan tidak bisa dihubungi seperti ada sesuatu yang terjadi dengan Kak Afnan,' batin Ayumi di dalam hatinya.
Ayumi mengulang kembali beberapa kali mencoba menghubungi Kak Afnan tunangannya yang sejak pagi tidak bertemu sama sekali.
"Ay, kamu kenapa? Kenapa wajah Ayumi begitu pucat dan terlihat takut, ada apa Ay, siapa yang baru saja datang?" tanya Bulan dengan cemas melihat keadaan Ayumi yang terlihat terpuruk di belakang pintu kamar tersebut.
Bulan langsung ikut berjongkok di dekat Ayumi dan memeluk tubuh sahabatnya itu yang masih terasa bergetar dan lemas.
"Kamu kenapa Ay?" tanya Bulan dengan suara pelan sambil mengusap kepala Ayumi yang terbalut hijab panjang dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.
Ayumi hanya terdiam dalam pelukan Bulan, Isak tangisnya terdengar sangat pilu sekali.
__ADS_1
"Ada apa sebenarnya, ceritakan pelan-pelan kepada Bulan, tarik napas kamu, Ay perlahan dan hembuskan, coba beberapa kali hingga hari kamu mulai tenang dan jantung kamu mulai berdetak dengan normal," ucap Bulan. pelan menitah Ayumi.
Ayumk melepaskan pelukan itu dan mencoba mengikuti saran dan arahan Bulan untuk menarik napas panjang dan mengeluarkan secara perlahan dan diulang beberapa kali hingga tubuhnya mulai tenang dan tidak bergetar lemas.