
Mendengar suara keras dari salah satu kamar membuat Ayumi langsung mendorong tubuh Afnan hingga terhuyung ke belakang. Tatapan kedua mata Ayumi lekat menatap ke arah Zura lalu menoleh lagi ke arah Afnan. Ayumi semakin lekat dan tajam menatap Afnan seolah meminta penjelasan soal ini.
"Maaf kalau ada salah paham. Lelaki ini yang tiba -tiba memleuk saya," ucap Ayumi bergegas pergi dari sana.
Tidak ada lagi yang perlu di jelaskan soal ini. Semua toh sudah jelas, Kak Afnan dan Kak Zura sepertinya sudah bersatu danmereka sudah pasti berada dalam ikatan pernikahan yang SAH. Apalagi perut Kak Zura yang sama besranya seperti Rara.
"Ayumi!!" teriak Afnan berusaha mengejar Ayumi yang sudah berbelok menuju pintu lift untuk kembali ke lobby.
Ayumi sengaja tak merespon dan menutup telinganya agar tak mendengar teriak panggilan itu. Sudah bagus ia terlepas dari belenggu cinta yang mengikatnya selama ini. Cinta yang tak pernah ada untuk Afnan.
"Ayumi!!" teriak Afnan keras menatap pintu lift sudah tertutup rapat dan turun ke bawah.
Zura mengikuti Afna dan menarik lengan Afnan untuk ekmbali ke kamarnya.
__ADS_1
"Untuk apa mengejar gadis itu?!! Aku istrimu!! Ini anak kamu, Mas!!" teriak Zura dengan suara keras.
Afnan melepas tarikan di tangannya dengan keras. Lalu menatap tajam ke arah Zura.
"Kamu pikir aku lelaki bodoh? Aku menikahi kamu karena kamu sudah hamil!! Kamu hanya jadikan aku tumbal Zura. Kamu wanita licik yang jahat!! Tak sekali pun aku menyentuh kamu, Zura!! Aku hanya kasihan dengan kamu, Zura. Bukan berarti aku mencintai kamu, kan!! Menikah itu bisa tanpa cinta. Cintaku akan tetap abadi untuk Ayumi!!" teriak Afnan dengan suara lantang di koridor hotel.
Bunda Icha dan Kyai Toha segera keluar kamar mendengar pertengkarang putanya dengan Zura. Zura hanya menunduk dan meremat ujung pakaiannya.
"Zura, ayo kembali ke kamar. Tidak baik berteriak di sini," pinta Bunda Icha pada menantunya yang sedang hamil besar.
"Kalian kenapaa? Kalian itu sudah menikah dan sebentar lagi akan menjadi orang tua, seharusnya kalian belajar dengan baik untuk sabar dan bijak bukan malah mencari masalah baru. Ada apa sebenarnya?" tanya Bunda Icha pada Zura.
"Kak Afnan masih mengejar Ayumi. Dia tidak memikirkan perasaan Zura dan bayinya," ucap Zura dengansuara keras penuh emosi dan kesal.
__ADS_1
"Ayumi? Coba ulangi Zura? Benar kamu bilang Ayumi?" tanya Bunda Icha tak percaya.
"Iya Bunda. Ayumi. Mantan Tunangan Kak Afnan!! Zura benci!!" ucap Zura makin frustasi.
"Ayumi ada di hotel ini juga?" tanya Bunda Icha pada Zura memastikan. Pandangan Bunda iCha berpindah ke arah Afnan untuk mendapatkan kejelasan.
"Benar Bunda. Ayumi salah satu karyawan di hotel ini. Afnan juga baru tahu soal ini," ucap Afna pelan.
"Wahh ... Akhirnya Ayah bisa ketemu Ayumi. Ada hal yang mau Ayah bicarakan soal rumah singgah," ucap Kyai Toha.
Bunda Icha langsung berdiri dan berjalan keluar kamar dan bergegas mencari lift untuk mencari Ayumi. Satu tahun lebih Bunda Icha mencari keberadaan Ayumi yang tiba -tiba saja pergi tanpa pamit dan emnghilang begitu saja bagai di telan bumi.
Bunda Icha sempat sakit karena kepergian Ayumi. Biar bagaimana pun juga, Ayumi sudah dianggap seperti putrinya sendiri.
__ADS_1
"Ayumi!!" panggil Bunda Icha saat melihat Ayumi berada di lobby sedang melayani para tamu yang sdeang memesan kamar hotel.