Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
90


__ADS_3

Mempelai laki-laki sudah berada di ruangan khusus untuk mengucapakan ijab kabul. Ustad Ikhsan terlihat beberapa kali mengeluarkan sapu tangan dari kantung celananya dan menghapus keringat yang selalu muncul di keningnya.


Rasa gugup dan panik bercampur menjadi satu. Sudah berkali-kali Udtad Ikhsan menghapal pengucapan ijab kabul itu hingga hapal diluar kepala, namun tetap saja ada perasaan ragu saat melihat meja ijab kabul di depan mata.


Ustad Ikhsan masuk ke dalam ruangan khusus itu dijemput oleh Pak Sukoco sebagai wali Bulan. Ayah Bulan sudah meninggal sejak lama karena sakit, keluarga Ayahnya tidak mau mengakui Mama Anna dan Bulan sebagai bagian dari keluarga oleh Keluarga Besar Ayahnya karena pernikahan orang tua Bulan saat itu tidak mendapatkan restu. Lebih menyakitkan lagi, jika Mama Anna adalah penyebab kematian Ayah Bulan yang saat itu sedang sakit keras.


Ustad Ikhsan di antar hingga ke meja pengucapan ijab kabul oleh Pak Sukoco. Penghulu dan para saksi pernikahan sudah duduk di kursinya masing-masing. Ustad Ikhsan duduk di kursi yang telah disediakan berhadapan dengan penghulu yang akan menikahkan Ustad Ikhsan dan Bulan pada malam itu.


"Sudah siap?" tanya penghulu kepada mempelai pria yang tak lain adalah Ustad Ikhsan.


Semua keluarga inti sudah hadir dan duduk di kursi tamu untuk menjadi saksi pada acara yang sakral ini. Rara dan Ayumi sudah hadir dan duduk di kursi paling depan. Kahfi dan Afnan sudah hadir sejak tadi dan duduk di dekat pintu ruangan tersebut.


Bunda Icha dan Mama Anna bersiap di dekat pintu untuk membawa Bulan ke meja pengucapan ijab kabul itu setelah Ustad Ikhsan berhasil mengucap ijab kabul dengan lancar dan SAH menurut para saksi dan para tamu yang hadir ikut menyaksikan prosesi akad nikah tersebut.


Terdengar suara lantang dan mantap yang keluar dari mulut Ustad Ikhsan saat mengucapkan ijab kabul dan diiringi kata SAH dari para saksi dan hadirin yang datang.


Semua orang bernapas lega saat Ustad Ikhsan berhasil dan tidak ada pengulangan dalam mengucapkan ijab kabul tersebut.


Bunda Icha dan Mama Anna menggandeng Bulan disisi yang berbeda menuju meja ijab kabul. Disana sudah ada Ustad Ikhsan yang telah SAH menjadi suami Bulan dunia akhirat.


Bulan sudah berdiri di samping Ustad Ikhsan, senyumnya terus mengembang tanda bahagia lahir batin.


Bulan berdiri menghadap Ustad Ikhsan, lalu saling menukar cincin di masing-masing jemari manis mereka. Bulan mencium punggung tangan Ustad Ikhsan yang sudah SAH menjadi suaminya dan Ustad Ikhsan pun mencium kening Bulan yang sudah SAH menjadi istrinya.


Bulan tersenyum bahagia, senyuman itu dilbalas dengan senyuman bahagia ustad ikhsan yang sudah bisa membuat hati Bulan melayang.


Semua keluarga besar dari kedua mempelai memberi ucapan selamat kepada pengantin baru.

__ADS_1


"Selamat Bulan, menjadi istri yang baik dan taat pada suami, sakinah, mawadah dan warahmah selalu," ucap Ayumi pelan sambil memeluk sahabatnya yang sudah melepas masa lajangnya.


"Terima kasih Ayumi, tetap menjadi sahabat terbaikku ya," ucap Bulan dengan penuh kebahagian.


Bulan sejak tadi tersenyum, saat semua keluarga, saudara dan sahabatnya memberi salam, Bulan malah meneteskan air matanya. Rasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu membuat perasaan menjadi tidak karuan.


"Bulan, selamat menempuh hidup baru, tetaplah menjadi saudara dan sahabat yang baik yang selalu menjaga dan menyayangi. Rara kehilangan saudara karena pasti akan diboyong oleh Suami. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah, jadi pasangan dunia akhirat," ucap Rara pelan mendoakan saudara tirinya itu.


"Rara, sayang. Jaga kesehatan kamu ya, cepet sembuh dan cepet nyusul sama Kahfi biar cepet halal," ucap Bulan lirih dan tersenyum manis.


"Doain ya Bulan, semoga semuanya lancar sesuai harapan dan cita-cita Rara," ucap Rara pelan sambil tersenyum menatap Bulan.


Acara sakral sudah selesai dilanjutkan dengan makan malam bersama.


Afnan mendekati Ayumi dan mengajaknya makan malam bersama duduk dalam satu meja. Acara malam itu bertemakan greengarden, sudah tentu acaranya outdoor.


Ayumi menatap Afnan lalu tersenyum manis.


"Iya Kak, sebentar," jawab Ayumi pelan.


Afnan menatap Ayumi dan menganggukkan kepalanya pelan lalu menunggu Ayumi untuk berpamitan kepada sahabat-sahabatnya.


"Bulan, Rara, Ayumi duluan, Kak Afnan mau mengajak makan malam bersama," ucap Ayumi pelan kepada kedua sahabatnya itu.


"Iya Ay, nikmati acara dan makan malamnya," ucap Bulan pelan.


"Iya Ayumi, sudah sana, jangan buat Kak Afnan menunggu," ucap Rara pelan sambil mendorong tubuh Ayumi ke arah Afnan.

__ADS_1


Afnan hanya tersenyum tersipu kepada kedua sahabat Ayumi.


"Bulan selamat menempuh hidup baru, cepet dapet momongan," ucap Afnan singkat lalu terkekeh pelan.


"Kok dapet momongan Kak? Bulan masih sekolah," ucap Bulan pelan kepada Afnan.


"Astagfirullah, iya semoga jadi pasangan yang diridhoi Allah SWT, sakinah, mawadah dan warahmah," ucap Afnan pelan memberikan ucapan kepada Bulan.


"Terima kasih Kak Afnan," ucap Bulan pelan.


Afnan dan Ayumi meninggalkan kedua sahabatnya dan berjalan ke meja yang sudah dipesan oleh Afnan. Meja yang terletak di pojok dekat pagar pembatas yang bisa melihat pemandangan dari lantai dua itu ke segala arah.


Lampu-lampu kota yang terlihat kecil dan kelap-kelip makin menambah suasana romantis yang terbangun dari keduanya. Mereka berdua memang saling mencintai, namun perlahan cinta itu mulai sirna karena kesibukan mereka masing-masing. Disaat yang bersamaan ada kenyamanan dengan yang lain disaat hati mulai hampa dan kosong serta membutuhkan sesuatu yang bisa membuat bahagia setiap saat.


Afnan sudah memesan beberapa makanan favorit Ayumi. Mereka berusaha menunggu pesanan mereka dengan sabar dan ikhlas.


Rara dan Bulan masih duduk bersama dalam satu meja. Ustad Ikhsan sejak tadi sudah sibuk dengan beberapa rekan kerja yang bisa dipercaya untuk ikut menghadiri acara khitbah antara Bulan dan Ustad Ikhsan yang dilaksanakan dengan sangat sederhana ini.


Rara mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari sosok Kahfi. Rara berharap, Kahfi sama seperti Kak Afnan yang mau mengajak gadis kesayangannya itu untuk makan malam bersama dalam satu meja dengan pesanan makanan favorit serta saling menyuapi.


Tapi sepertinya Rara harus lebih ikhlas menerima bila Kahfi bukan seorang laki-laki dengan tipe romantis seperti itu. Kahfi mengajaknya makan malam bersama saja, Rara pasti sudah akan sangat senang sekali. Apalagi bersikap manis dan romantis dengan sedikit rayuan gombal yang membuat kaum hawa itu tersenyum bahagia.


"Kamu cari Kak Fi, Ra?" tanya Bulan pelan kepada Rara yang sejak tadi terlihat gelisah dan cemas. Pandangan Rara mengedar kemanapun seperti sedang mencari sesuatu yang tidak kunjung datang.


Rara menganggukkan kepalanya pelan.


"Sabar ya Ra, pasti ada masanya, Kahfi menyesal berbuat hal ini kepada kamu Ra," ucap Bulan pelan.

__ADS_1


__ADS_2