Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
17


__ADS_3

Sesampai di rumah Nenek Arsy, Afnan bertemu dengan Nenek Arsy dan mengantarkan Ayumi ke dalam rumah. Afnan menjelaskan tentang keterlambatan mereka berdua untuk pulang ke rumah. Kejadian hari ini adalah suatu momen yang mungkin tidak akan terlupakan. Afnan berpamitan untuk segera pulang karena hari sudah sore.


"Hati-hati Nak Afnan. Terima kasih sudah membantu Ayumi untuk mendapatkan beasiswa dan bisa masuk ke sekolah terbaik," ucap Nenek Arsy dengan tulus.


"Iya Nek. Sudah menjadi tanggung jawab Afnan sebagai wali kelas Ayumi di sekolah. Itu hanya kewajiban yang seharusnya dilakukan Afnan kepada Ayumi sebagai sesama umat muslim untuk saling membantu," ucap Afnan menjelaskan.


Afnan berjalan ke arah halaman rumah Nenek Arsy dan menaiki motor besarnya yang terparkir disana.


"Kak Afnan makasih untuk hari ini. Makasih udah bantu Ayumi untuk bisa menggapai cita-cita Ayumi," ucap Ayumi pelan dengan senyum yang tulus.


Ayumi mengantarkan Afnan hingga ke halaman rumah. Afnan melambaikan tangannya dan melajukan motor besarnya dengan pelan.


Ayumi menatap kepergian Afnan hingga punggung lelaki yang Ayumi cintai itu menghilang di depan jalan depan yang masih terlihat dari rumahnya. Kedua mata Ayumi menatap awan diatas yang begitu indah berwarna putih dan biru. Ayumi menarik napas dalam lalu menghembuskan dengan penuh pelan.


Pikiran Ayumi menerawang ke segala arah mengikuti arah pandangan awan sore yang ikut berjalan mengikuti angin. Hari ini adalah hari baik bagi Ayumi. 'Ayah, Bunda, Ayumi sudah diterima di Al Azhar, sekolah favorit dan terbaik disini, selain itu Ayumi juga mendapatkan beasiswa. Langkah Ayumi masih panjang untuk menggapai cita-cita Ayumi sebagai dokter, tapi Ayumi akan tetap berusaha dengan baik,' batin Ayumi di dalam hatinya.


"Ayumi ... cepat masuk sudah sore!," panggil Nenek Arsy dengan suara agak lantang kepada Ayumi.


"Iya Nek," jawab Ayumi keras dan berlari masuk ke dalam rumah.


Ayumi langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Waktu sudah memasuki adzan Maghrib, sudah saatnya untuk melaksanakan sholat Maghrib.


"Nek, Ayumi mau sholat di kamar lalu mau mengerjakan tugas dulu. Makan malamnya nanti saja, kalau sudah selesai mengerjakan tugas saja," ucap Ayumi dengan sopan kepada Nenek Arsy.


"Ya sudah. Sholatlah dulu, sudah terdengar adzan. Sholat itu penting karena tiangnya agama. Jangan pernah meninggalkan sholat, apapun keadaannya," ucap Nenek Arsy pelan menasehati Ayumi.


"Iya Nek. Ayumi paham dan sangat mengerti. Nek?" panggil Ayumi pelan kepada Nenek Arsy.


"Kenapa Ayumi?" tanya Nenek Arsy kepada cucu kesayangannya itu.

__ADS_1


"Ayumi ingin memakai hijab seperti Bunda," ucap Ayumi lirih yang masih terdengar oleh Nenek Arsy.


Nenek Arsy tidak terkejut sama sekali dengan ucapan Ayumi. Hanya saja, ini terlalu cepat untuk Ayumi, tapi bila memang sudah mendapatkan hidayah dari Allah, manusia bisa apa. Nenek Arsy menoleh ke arah Ayumi lalu tersenyum dengan tulus.


"Sholatlah Ayumi. Tahajudlah, minta petunjuk ini hanya sebuah keinginan karena nafsu atau memang tergerak dari hati karena Allah SWT," ucap Nenek Arsy pelan menasehati.


"Iya Nek. Ayumi mengerti. Ayumi Sholat Maghrib dulu," ucap Ayumi pelan.


Ayumi langsung menuju kamarnya dan melaksanakan Sholat Maghrib.


Seusai Sholat Maghrib, Ayumi berdo'a kepada Allah SWT untuk kedua orangtuanya yang telah meninggal dan untuk keberkahan hidupnya dan Nenek Arsy.


Sajadah masih tergelar rapi, Ayumi pun enggan untuk beranjak dari duduknya. Rasanya terlalu nyaman berdzikir dan bersholawat. Hati dan pikirannya juga ikut tenang dan adem.


Setiap ujian dan cobaan yang Allah SWT berikan tentu ada hikmah dan pembelajaran yang terbaik. Sekuat apa iman kita, pondasi agama kita untuk tetap yakin dan bertawakal hanya kepada Allah SWT.


Sabar itu tidak ada batasannya, jika kita berpikir sabar itu ada batasnya maka sebenarnya kita hanya mengulur waktu untuk marah, kecewa dan sakit hati.


Ayumi ingat betul saat Bunda Alisha selalu berucap, 'SABAR ITU UNLIMITED, AYUMI.'


"Ayumi ... Ada Nak Afnan," panggil Nenek Arsy dari arah luar pintu kamar Ayumi sambil mengetuk pelan pintu kamar tersebut.


Ayumi membuka matanya saat mendengar suara Nenek Arsy memanggil.


"Iya Nek. Sebentar lagi Ayumi keluar," jawab Ayumi dari dalam kamarnya.


Ayumi merapikan alat sholatnya dan diletakkan di atas meja rias, lalu mengganti pakaiannya yang lebih sopan. Tidak lupa Ayumi mencari hijab di dalam lemari milik Bunda Alisha.


'Ayumi akan mencoba dan berusaha Istiqomah,' batin Ayumi didalam hatinya.


Hijab instan berwarna hitam telah dipakai untuk menutupi mahkota auratnya. Ayumi terlihat semakin cantik dan tampak lebih anggun. Kaos panjang dan celana panjang bahan yang longgar menambah aura kecantikan Ayumi sebagai wanita muslimah.

__ADS_1


Ayumi keluar dari kamarnya dengan wajah dan penampilan yang baru. Nenek Arsy dan Afnan sedang berbincang di teras depan.


"Assalamu'alaikum, Nenek, Kak Afnan," ucap Ayumi pelan memberikan salam saat keluar menuju teras.


Nenek Arsy dan Afnan menjawab salam itu secara bersamaan dan menoleh ke arah asal suara yang tak lain suara Ayumi tepat berada di dekat pintu masuk rumah.


"Waalaikumsalam," ucap Nenek Arsy dan Afnan serempak. Keduanya terpana melihat penampilan Ayumi yang berbeda dari biasanya. Kecantikan yang dimiliki Ayumi menurun dari Bunda Alisha.


"Ayumi? Kakak tidak salah lihat bukan?" tanya Afnan pelan yang masih takjub menatap Ayumi tanpa berkedip.


"Nak Afnan, tolong dijaga pandangannya. Masih haram belum halal," ucap Nenek Arsy menggoda Afnan lalu terkekeh.


"Cucu kesayangan Nenek cantik," ucap Afnan pelan dan tampak ragu memuji.


Sedangkan Ayumi hanya tersenyum dan menundukkan kepalanya ke bawah. Jujur, hatinya sangat berbunga-bunga, walaupun pujiannya hanya seperti itu. Kata-kata tulus yang membuat Ayumi melayang hingga ke negeri awan.


"Ayumi, hijab itu bukan sekedar penampilan tapi juga harus diikuti hati yang tulus bukan sekedar memamerkan untuk kepentingan nafsu dunia," tegas Nenek Arsy menasehati.


Ayumi mendengarkan nasihat Nenek Arsy dengan baik, lalu duduk di dekat Nenek. Menyenderkan kepalanya di lengan sang Nenek. Kedua matanya basah, ada ingatan yang mengingatkan keadaan sama saat bersama Bundanya ketika masih hidup.


Telapak tangan Nenek menyentuh pipi Ayumi dan mengusap dengan lembut.


"Kalau sudah dipakai jangan pernah dilepas lagi, apapun keadaan kamu," ucap Nenek Arsy pelan menjelaskan.


"Iya Nek. Ayumi mengerti, doakan Ayumi untuk Istiqomah dijalan Allah," ucap 'Ayumi pelan.


Afnan menatap Ayumi dengan perasaan iba. Tatapan penuh rasa kasih sayang dan cinta yang tulus dan tanpa pamrih. Semua tercurah dari hati yang paling dalam hayan untuk gadis pujaannya selama ini.


Ayumi mengusap air mata di pipi yang terlanjur menetes walaupun sudah ditahan agar tidak tumpah. Kesabaran dan keimanannya sedang diuji.


Ujian dan cobaan adalah suatu bentuk rasa cinta Allah SWT kepada hamba-nya agar setiap manusia itu mengingat Allah SWT dan hanya memohon dan menggantungkan hidupnya kepada Allah SWT. Allah SWT akan selalu menunjukkan jalan yang benar dan lurus, karena Allah SWT tahu apa yang terbaik untuk hamba-nya bukan memberikan apa yang menjadi keinginan hamba-nya.

__ADS_1


Setiap keinginan itu pasti ada nafsu, namun jika Allah SWT berkehendak makan Kun fayakun semua akan terjadi sesuai kehendak Allah SWT dan tentunya itu terbaik untuk kita.


Belajar sabar yang diikuti keikhlasan itu sangat sulit. Kata-katanya sederhana, SABAR, IKHLAS, namun menerapkan dalam kehidupan yang nyata itu gak mudah, bahkan banyak rintangan yang membuat kita menyerah dan marah.


__ADS_2