
Waktu makan siang sudah tiba, semua orang sudah duduk di kursi makan masing-masing dengan memilih menu makan siang sesuai selera masing-masing dengan berbagai jenis makanan yang tersaji di atas meja makan itu.
Suara dentingan antara sendok dan piring yang bersentuhan membuat semakin riuh acara makan siang itu, dengan obrolan unfaedah, candaan, ejekan, guyonan, semua bercampur menjadi satu dan berakhir pada menyatunya dua keluarga besar menjadi satu kesatuan.
Semua orang sangat menikmati makan siang itu hingga menambah nasi dan lauk serta sayur berkali-kali.
"Icha, dari dulu gak berubah, masakannya selalu enak dan terbaik," puji Sukoco pelan sambil mengedipkan satu matanya kepada Kyai Toha yang sejak tadi terkekeh geli.
Ketiganya dulu berasal dari sekolah yang sama, mereka berteman dan akhirnya menikah.
"Sudah ya, gak perlu pake kedip-kedip mata segala, kalau gak enak, Mas Sukoco gak bakal habis tiga piring," ucap Bunda Icha dengan nada mengejek.
"Skakmat," teriak Kyai Toha dengan suara lantang lalu tertawa terbahak-bahak hingga terbatuk-batuk.
"Minum Mas?" ucap Bunda Icha dengan perhatian memberikan satu gelas air putih kepada Kyai Toha, suaminya.
Mama Anna sejak tadi hanya menyimak dan mendengarkan celotehan ketiga sahabat lama itu saling mengejek. Sesekali tertawa menanggapi hal-hal konyol yang mereka perbuat.
"Pak Kyai, lusa kita berangkat menyusul Rara dan Kahfi," ucap Pak Sukoco dengan suara pelan dan raut wajah yang mulai terlihat serius.
"Ada apa Bro, kita harus kesana juga?" tanya Kyai Toha pelan kepada Pak Sukoco.
"Kemarin sudah menelepon Kahfi, dan Kahfi bersedia untuk menikahi Rara. Bagaimana menurutmu? Bukankah itu lebih baik, secara merek tinggal bersama," ucap Pak Sukoco pelan menjelaskan secara detil.
"Kamu yakin Mas Sukoco? Kahfi bicara seperti itu?" tanya Bunda Icha yang tiba-tiba menyela karena sedikit heran dengan apa yang dibicarakan oleh Pak Sukoco.
'Apa benar Kahfi sudah berubah pikiran dan mau menerima Rara Dnegan tulus dan ikhlas,' batin Bunda Icha di dalam hatinya.
Bunda Icha adalah orang yang paling tahu tentang isi hati Kahfi, orang yang tidak bisa menolak apalagi membuat orang yang dia cintai sepenuh hati itu bersedih atau mungkin ada alasan lain yang lebih penting atau ada paksaan, entahlah semua kemungkinan bisa saja terjadi dan membuat Kahfi bisa merubah keputusannya dengan mudah.
__ADS_1
Tapi, sebenarnya Kahfi bukan tipe lelaki yang mudah mengambil keputusan, terlebih jika Kahfi sudah memiliki keputusan sendiri maka itu tidak akan bisa digoyahkan oleh siapapun.
"Apa kamu tidak percaya padaku Icha?" tanya Pak Sukoco pelan kepada Icha yang masih menatap Pak Sukoco dengan rasa heran.
"Bukan itu, setahu Icha, Kahfi itu bukan tipe orang yang dengan mudah mengambil keputusan sebelum bertanya kepada orang tuanya," ucap Bunda Icha membela putra bungsunya itu.
Kyai Toha menatap Bunda Icha dan Pak Sukoco secara bergantian.
"Sudahlah Istriku, mungkin ini jalan terbaik untuk keduanya. Mereka tinggal bersama dalam satu rumah, satu atap bahkan mungkin satu kamar, itu bisa mengikis iman mereka, dan lebih baik memang agar segera diresmikan," ucap Kyai Toha dengan bijak.
Banyak faktor yang dipikirkan oleh Kyai Toha bukan saja perkara ilmu agama, dan iman saja, tapi tentang hati nurani. Sudah jelas sekali dari sorot mata Pak Sukoco yang meminta tolong agar Kahfi segera meresmikan hubungannya dengan Rara agar menjadi SAH dan halal di mata agama dan negara.
"Tapi bagaimana mungkin bisa menikah disana?" tanya Bunda Icha pelan dan sedikit bingung.
"Menikah siri saja dulu, yang penting SAH dimata agama, nanti bila kondisi Rara sudah membaik dan bisa pulang ke Indonesia baru kita resmikan di KUA," ucap Kyai Toha pelan memberikan solusi.
"Kalau itu jalan terbaik, kenapa tidak?" jawab Pak Sukoco pelan.
"Apa tidak bisa Mas, kita daftarkan ke KUA, tapi prosesi ijabnya disana?" tanya Bunda Icha pelan dan bingung.
"Sepertinya tidak bisa Bunda Icha," jawab Mama Anna menyela.
"Sudahlah tidak apa-apa menikah siri juga, yang penting keluarga besar menyaksikan ijab kabulnya," jawab Pak Sukoco menjelaskan dengan pelan.
Kyai Toha dan Bunda Icha mengangguk pelan tanda setuju dengan keputusan Pak Sukoco.
Acara makan siang itu sudah selesai, dan semua maksud dan tujuan ke rumah Kyai Toha pun sudah terlaksana. Persiapan untuk keberangkatan lusa juga sedang diurus. Hanya mereka berempat yang akan berangkat.
Acara ngobrol santai di lanjutkan di ruang tamu kembali.
__ADS_1
"Afnan, Ayumi dan Bulan tidak disuruh datang untuk menyaksikan juga?" tanya Mama Anna kepada Pak Sukoco dengan suara pelan.
"Astagfirullah, benar, mereka harus dikabari, nanti malam kita telepon Bulan untuk ikut menyaksikan acara lusa," ucap Pak Sukoco pelan kepada Mama Anna.
"Mas, Ustad Ikhsan tidak diajak? Biar mereka bertemu disana, kasihan Bulan, pengantin baru harus langsung berjauhan dengan suaminya," ucap Mama Anna pelan mengusulkan.
"Baiklah, lusa kita berangkat berlima, Ayah, Mama Anna, Pak Kyai, Icha dan Ikhsan," ucap Pak Sukoco dengan suara mantap.
Bunda Icha hanya menatap Kyai Toha yang hanya bisa terdiam dan tersenyum menyikapi hal ini.
Bagi Bunda Icha, semua ini ada yang janggal, namun apa itu, Bunda Icha sendiri tidak bisa menebaknya.
"Bunda Andara dan Zura , apa kabarnya Mas Sukoco?" tanya Bunda Icha pelan kepada Pak Sukoco yang sedang mengunyah keripik singkong pedas manis.
Satu gigitan saja sudah membuat lidah menjadi sebah karena pedas.
"Jujur, saya tidak tahu kemana mereka pergi, tapi ada satu teman yang masih berkomunikasi dengan Dara, mereka sekarang ada di Mesir, Zura bekerja di salah satu perusahaan ternama disana, hanya itu berita yang aku dapat," ucap Pak Sukoco dengan pelan menjelaskan.
"Mesir?!" ucap Bunda Icha setengah berteriak.
Bunda Icha merasa ada yang aneh dengan ini semua. Apalagi Bunda Icha sangat hapal betul, bagaimana Zura mencintai Afnan, dan bagaimana obsesi Zura terhadap Afnan. Sekarang mereka ada di negara yang sama, bisa saja mereka juga berada di kota yang sama pula.
'Bagaimana keadaan kalian disana, apakah baik-baik saja?' tanya Bunda Icha dalam hatinya sendiri.
"Bukankah Ayumi sedang berada di rumah sakit Bunda?" tanya Mama Anna pelan kepada Bunda Icha.
"Apa?! Kenapa bisa?! Mereka tidak ada kabar sudah tiga hari ini," ucap Bunda Icha pelan dan cemas mendengar Ayumi masuk ke rumah sakit.
"Ayumi tertabrak mobil saat menyebrang jalan, sudah dua hari di rumah sakit, tapi sudah baik-baik saja, mau pulang juga," ucap Mama Anna pelan kepada Bunda Icha menenangkan hatinya agar tidak cemas dan tidak panik.
__ADS_1