Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
44


__ADS_3

Kyai Toha sudah pergi sejak tadi untuk menemui ustad rekanannya, di desa sebelah. Hari semakin sore, berbincang dengan Bunda Icha tidak akan pernah membosankan, selalu ada saja topik pembicaraan baru untuk dibahas.


Kahfi yang sejak tadi ikut menyimak pembicaraan kedua wanita berbeda usia itu sesekali ikut tersenyum dan tertawa serta menyela pembicaraan kedua wanita tersebut.


Sore ini, Bunda Icha mengajak Ayumi untuk membuat resep masakan baru, sebenarnya resep lama hanya berinovasi sedikit seperti menu baru.


"Ayumi, sudah lama Bunda tidak mencoba menu baru. Bagaimana kalau kita sekarang coba buat nasi kebuli ikan asin," ucap Bunda Icha pelan. Bunda Icha memang paling suka membuat menu baru rumahan ala diri sendiri, namun rasanya tidak perlu diragukan lagi, lezat luar biasa.


"Nasi kebuli ikan asin? Tambahin sekalian Bunda, peyek kacangnya," ucap Ayumi memberikan saran.


"Dari namanya aja, Kahfi sudah ngiler Bunda," ucap Kahfi menyela.


"Kamu itu kebiasaan, Fi. Makanan apa yang Bunda buat tidak kamu suka, Fi? Semua makanan pasti kamu habiskan tidak bersisa," ucap Bunda terkekeh.


"Iya, Kahfi kayak kelinci percobaan Bunda, nyicipin semua menu baru yang Bunda buat," ucap Kahfi dengan cemberut.


"Tapi kan semua percobaan masakan Bunda tidak ada yang gagal, Kak Fi," ucap Ayumi pelan.


"Siapa bilang? Pernah kok, ada yang gagal, ya kan Bunda? Kalau tidak salah dulu Bunda buat pasta, rasanya aneh banget. Tapi karena Kahfi anak Sholeh, Kahfi cuma diem, tetep dikunyah dan ditelan itu pasta, ya Allah," ucap Kahfi mengingat kejadian beberapa bulan lalu sambil pura-pura menangis sedih.


Ayumi dan Bunda Icha menyimak penjelasan Kahfi lalu tertawa terbahak-bahak. Bukan tertawa karena kejujuran Kahfi, tapi tertawa karena mimik wajah Kahfi yang terlihat lucu saat menceritakan kembali pengalamannya menjadi pencicip masakan Bunda Icha.


"Sudah Ayumi, jangan didengarkan lagi, Kahfi paling suka menyudutkan Bunda. Lebih baik kita mulai memasak," ucap Bunda Icha pelan kepada Ayumi untuk segera memulai masak.


Kahfi mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


"Bunda tuh gitu, kalau sudah terpojok, Kahfi yang disalahkan," ucap Kahfi pelan sambil meneguk air putih.


Ayumi hanya tersenyum simpul melihat obrolan antara Bunda Icha dan Kahfi yang menurutnya sangat terlihat hangat dan akrab.


"Kenapa Ay? Kok senyum-senyum gak jelas gitu? Kakak ganteng ya?" ucap Kahfi dengan rasa percaya tingkat tinggi.


"Apa? Ayumi akui Kak, Kakak emang ganteng tapi ..." ucapan Ayumi terhenti dan tersenyum lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Tapi apa? Hem?" tanya Kahfi kepada Ayumi yang sudah berada disamping Ayumi dan mendekatkan wajahnya ke wajah Ayumi. Tubuhnya disejajarkan dengan Ayumi, kedua matanya menatap lekat wajah cantik gadis pujaannya itu. Jantungnya langsung berdegup kencang, seeprti sedang berkejar-kejaran.


Begitu juga yang dirasakan oleh Ayumi saat wajah Kahfi begitu sangat dekat dengan wajahnya. Hanya berjarak beberapa sentimeter saja, kulit mereka bisa saling bersentuhan. Wajah Ayumi terlihat gugup dan panik, napasnya terhenti seketika, menahan deguban jantung yang makin tak karuan rasanya.


"Kahfi!!" panggil Bunda Icha pelan mengingatkan.


Kahfi menegakkan tubuhnya lagi dan berdiri tegap bersandar pada dinding dapur. Wajahnya terlihat tampak tenang dan santai seperti tidak terjadi apa-apa baru saja.


Ayumi masih memegang dadanya agar rasa keterkejutannya tidak berlangsung lama. Perubahan wajah Ayumi terlihat sangat jelas, bahkan Bunda Icha sempat melihat rasa gugup Ayumi saat berdekatan dengan Kahfi.


"Tapi apa? Masih nungguin ini terusannya gimana?" tanya Kahfi pelan kepada Ayumi.

__ADS_1


Ayumi hanya diam dan berjalan menuju Bunda Icha.


"Kamu tidak apa-apa, Ay?" tanya Bunda Icha pelan kepada Ayumi.


"Tidak apa-apa Bunda," ucap Ayumi sambil tersenyum.


"Fi, pergi ya. Jangan buat ricuh di dapur Bunda," ucap Bunda Icha menasehati.


Kahfi menatap Bunda Icha, lalu tersenyum lebar.


"Kahfi mau disini, Bunda masak aja," ucap Kahfi pelan sambil bersiul melipat kedua tangannya didepan dada.


"Tapi kamu itu mengganggu Ayumi, lihat dia jadi ketakutan, seolah kamu mau memakannya?" jelas Bunda Icha yang melihat Ayumi sedikit gugup.


"Memakannya?" lirih Kahfi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal seolah sedang berpikir.


"Cukup Kahfi, bantu Bunda siram tanaman didepan," titah Bunda pelan kepada anak bungsunya yang memang agak nyeleneh.


"Bunda ... Kok Kahfi jadi traveling otak nih masalah seolah akan memakannya?" gurau Kahfi sambil tertawa terbahak-bahak lalu berlari ke arah depan untuk menyiram tanaman.


"Kahfi!!! Siapa lagi yang mengajari kamu untuk traveling otak," teriak Bunda dari arah dapur.


Namun, Kahfi tetaplah Kahfi dengan selera humor yang tinggi, semua ucapan bisa dijadikan gurauan atau bahan candaannya. Teriakan Bunda seperti itu bukan kali pertamanya, Kahfi sudah sangat sering diteriaki oleh Bundanya karena terlalu bercanda dan dianggap tidak pernah serius.


Satu jam telah berlalu, Ayumi dan Bunda Icha sudah memasak beberapa jenis masakan dengan resep baru. Ayumi sudah merapikan meja makan dan meletakkan beberapa makanan dengan rapi diatas meja.


"Iya Bunda. Ayumi ke depan saja, mau lihat-lihat koleksi bunga mawar Bunda," ucap Ayumi pelan.


Ayumi berjalan menuju teras depan rumah Bunda Icha, disana ada saung kecil tempat koleksi bunga-bunga dan tanaman hias lain milik Bunda Icha.


Semua bunga-bunga itu tampak cantik dan terawat dengan baik. Bunda Icha memang sangat menyukai tanaman hias, terutama bunga-bunga dan kembang dengan bentuk dan warna yang unik. Hampir semua jenis bunga tertanam rapi didalam pot cantik.


Kahfi masih asyik bermain dengan air, acara menyiram tanamannya sudah selesai. Bau harum percampuran antara tanah dan air itu sangat menyejukkan pikiran yang kacau. Kini Kahfi fokus mencuci motor besar kesayangannya, dengan telaten tubuh motor itu disiram dan dibersihkan dari debu dan kotoran yang menempel lekat disela-sela bagian yang tidak terjangkau.


"Kak Fi?" panggil Ayumi pelan.


Ayumi berdiri di dekat saung kecil, sedangkan Kahfi berada di dekat pagar rumah sambil mencuci motornya. Kahfi menoleh ke arah Ayumi, lalu tersenyum dan meletakkan selang air lalu mematikan airnya.


"Ada apa Ay?" tanya Kahfi pelan sambil mengelap motornya dengan lap kering.


"Ini soal Rara," ucap Ayumi pelan.


Ayumi duduk di kursi teras depan sambil menatap ke arah Kahfi.


"Rara?" ulang Kahfi pada Ayumi.

__ADS_1


Kahfi meletakkan lapnya, lalu berjalan dan duduk bersama Ayumi.


"Ada apa dengan Rara?" tanya Kahfi pelan. Melihat raut wajah Ayumi yang terlihat sedih, sudah tentu ada hal yang tidak baik tentang Rara.


"Kak Kahfi tahu? Kalau Rara itu memiliki penyakit?" tanya Ayumi pelan dan menatap lekat kedua mata Kahfi.


Kahfi hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu berucap, "Kakak tidak tahu soal itu."


"Rara sakit kanker otak," ucap Ayumi pelan.


Kahfi menatap Ayumi dengan tidak percaya.


"Jangan mengada-ada Ayumi, ini tidak lucu," ucap Kahfi sambil tertawa kecil.


Ayumi menatap lekat kedua mata Kahfi.


"Apa Ayumi terlihat berbohong? Apa Ayumi ada terlihat sering membual?" tanya Ayumi kepada Kahfi.


"Bukan itu maksud Kakak. Rara sepertinya baik-baik saja, tidak pernah terlihat mengeluh karena sakit. Tentu kabar ini membuat Kakak kaget," ucap Kahfi pelan.


"Ayumi juga baru tahu hari ini Kak. Tadi Bunda Andara bercerita tentang penyakit Rara, dan kemungkinan besar usia Rara ..." ucapan Ayumi terhenti saat jari telunjuk Kahfi menutup bibir Ayumi agar tidak melanjutkan ucapan itu.


"Jangan diteruskan ya, Ay. Jodoh, rejeki, dan kematian hanya ketetapan Allah SWT. Jangan pernah mendahului takdir yang belum terjadi, selama belum terjadi manusia harus berusaha, berikhtiar dan berdoa. Hanya dengan doa semuanya bisa berubah termasuk perjalan kehidupan seseorang," ucap Kahfi pelan menjelaskan.


Ayumi cukup terhenyak, debaran jantungnya makin terasa kencang berdetak. Desiran aliran darah yang tidak biasa pun mengalir sampai ubun-ubun.


Ayumi menghela napas panjang dan menghembuskan napas itu perlahan agar detak jantungnya tetap terkontrol dengan baik.


"Ayumi tahu Kak. Hanya Kakak yang bisa membuat Rara bahagia," ucap Ayumi langsung pada maksud dan tujuannya.


"Maksudmu apa, Ay?" tanya Kahfi pelan yang tidak paham.


"Rara suka sama Kakak. Balas cintanya Kak, agar Rara bisa selalu tersenyum dan bahagia bila bersama orang yang dicintainya," ucap Ayumi pelan dengan nada memohon.


"Kakak tidak bisa Ay. Ini masalah hati, tidak bisa dipaksakan, Ay," jawab Kahfi mulai tegas.


"Apakah Kakak menyukai gadis lain? atau Kakak sudah memiliki kekasih?" tanya Ayumi lembut.


Kahfi menggelengkan kepalanya pelan dan menatap tajam kedua mata Ayumi.


"Lihat Kakak! Kakak menyukaimu! Kakak cinta sama kamu, Ay. Tapi Kakak sadar, cintamu hanya untuk Bang Afnan. Kalau untuk berusaha mencintai orang lain itu akan sulit," ucap Kahfi dengan wajah sendu.


Lagi-lagi Ayumi menatap Kahfi dengan rasa tidak percaya. Kahfi mengakui dan megungkapkan perasaannya pada Ayumi. Hatinya berdesir hebat, dan jantungnya mencelos loncat begitu saja seperti lari dari tempatnya.


"Maafkan Kakak tidak bisa membantu untuk urusan hati," ucap Kahfi dengan tegas.

__ADS_1


Ada rasa senang dan bahagia saat ungkapan itu terlontar begitu tulus dari bibir Kahfi. Ayumi merasa bangga, namun itu tidak mungkin terjadi, karena bisa saja perasaan ini timbul karena terlalu baper pada situasi dan kondisi.


Rasa ini berbeda dan benar-benar berbeda, apa ini yang dinamakan cinta. Lalu yang selama ini Ayumi rasakan saat bersama Afnan itu perasaan apa?


__ADS_2