Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
50


__ADS_3

Ayumi berjalan dengan cepat menuju rumah Rara setelah turun dari angkutan umum menuju depan gang rumah Bunda Andara. Langkah kakinya cepat seperti terburu-buru dan tangannya menenteng buah tangan titipan Bunda Icha untuk Bunda Andara.


Tepat didepan rumahnya Bunda Andara, terlihat jelas motor besar berwarna merah milik Kahfi masih terparkir di depan pagar besi. Ayumi berjalan menuju teras depan rumah Bunda Andara dan menyentuh jok motor besar milik Kahfi yang terasa panas menyengat, itu tandanya memang sejak pagi Kahfi berada di rumah Bunda Andara.


Langkah kaki Ayumi terhenti dan terdengar sayup-sayup suara Bunda Andara berbicara dengan seseorang didalam.


"Bunda mohon, terimalah Rara, balaslah cintanya agar Rara bahagia, Fi. Bunda tahu ini sangat berat untuk Kahfi, tapi Bunda tidak tahu harus berbuat apalagi kalau tidak meminta bantuan dari Kahfi, hanya Kahfi harapan Bunda untuk kebahagiaan Rara," ucap Bunda Andara pelan dengan nada memohon.


"Maafkan Kahfi Bunda, tidak semudah itu membuka hati untuk orang yang tidak kita cintai dengan tulus, apalagi hanya untuk membuat seseorang itu bahagia," ucap Kahfi pelan memohon maaf pada Bunda Andara.


"Coba pikirkan kembali, Kahfi pikirkan baik-baik permintaan Bunda. Bunda tidak meminta untuk saat ini, setidaknya dengan sikap Kahfi yang baik dan perhatian terhadap Rara itu sudah membuat Rara bahagia," ucap Bunda Andara.


Ayumi tersenyum mendengar jawaban dari Kahfi, seperti ada rasa senang di hati, namun ada rasa sesak saat mendengar permintaan Bunda Andara kepada Kahfi untuk bisa menerima dan membalas cinta Rara demi kebahagiaan Rara. Senyumnya yang semula terbit kini meredup kembali karena rasa kesal.


Ayumi hanya terdiam di depan teras rumah Bunda Andara. Mengetuk pintu rumah Bunda Andara dengan keras dan mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikum... Bunda Andara?" ucap Ayumi dengan suara keras agar terdengar sampai ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam..." teriak Bunda Andara membalas ucapan salam Ayumi dari depan rumah.


Bunda Andara membuka pintu utama rumah itu lalu tersenyum saat melihat Ayumi sudah berdiri dihadapannya.


"Bunda ..." ucap Ayumi pelan lalu mencium punggung tangan Bunda Andara dengan hormat dan memeluk Bunda Andara.


"Ayumi kesayangan Bunda," ucap Bunda Andara pelan sambil membalas pelukan Ayumi dengan penuh kasih sayang.


Dari dalam ruangan kecil itu, Kahfi menatap raut wajah Ayumi yang terlihat kelelahan dan sedih.


Ayumi masuk ke dalam rumah Bunda Andara, kedua matanya langsung tertuju pada Kahfi yang juga sedang menatap dirinya dengan wajah sendu.


"Bunda masuk dulu, duduklah dulu Ayumi," ucap Bunda Andara pelan.


Ayumi duduk di kursi kayu dengan bantal kecil sebagai sandarannya. Kantong plastik berisi buah tangan itu di letakkan di atas meja yang ada di depannya.


Semua gerak gerik Ayumi tidak lepas dari pandangan Kahfi yang sejak tadi mengamatinya dengan seksama.

__ADS_1


Keduanya hening seolah tidak mengenal satu sama lain. Kahfi terlihat tampak berpikir mencari obrolan yang pas.


"Naik apa Ay?" tanya Kahfi pelan. Pertanyaan yang sepertinya tidak perlu dipertanyakan, walaupun hanya basa basi saja.


"Angkutan umum Kak," jawab Ayumi pelan tanpa menoleh dan tanpa menatap Kahfi yang duduk di sebelahnya.


"Sudah makan?" tanya Kahfi kembali kepada Ayumi.


"Sudah, tadi makan bersama Bunda Icha," jawab Ayumi dengan singkat kepada Kahfi.


"Setelah ini Kakak ingin mengajakmu bicara Ay. Ada sesuatu hal yang sangat penting harus Kakak sampaikan," ucap Kahfi pelan dengan wajah yang tampak tenang.


"Iya Kak. Ayumi masuk dulu, mau ketemu Rara," ucap Ayumi pelan kepada Kahfi. Ayumi sengaja tidak ingin memberikan celah kepada Kahfi untuk bisa terus bersama Ayumi walaupun sekedar bicara. Ayumi harus membatasi diri, karena secara tidak langsung Ayumi sudah dekat dengan Afnan, Kakak kandung Kahfi.


Ayumi masuk ke dalam menuju kamar tidur Bunda Andara. Ada Rara yang masih terkulai lemas bersandar pada sandaran ranjang.


Ada Zura yang sedang menemani dan menyuapi Rara. Wajahnya terlihat pucat dan lemas. Tangan kanannya masih terlilit perban putih yang sudah berubah warna menjadi merah.


Rara menatap Ayumi yang berdiri di ambang pintu lalu melambaikan tangannya untuk segera masuk ke dalam.


"Kak Zura mau kemana?" tanya Ayumi pelan.


"Ayumi, Kakak mau beresin ini dulu," jawab Zura pelan dan berlalu pergi ke luar kamar.


Sejujurnya Zura masih kecewa dan menaruh rasa sakit hati kepada Ayumi, karena Afnan. Tapi, Zura menghargai Rara sebagai sahabat Ayumi. Rara banyak bercerita tentang Ayumi yang baik hati dan banyak membantunya.


"Ra, gimana keadaan kamu?" tanya Ayumi pelan kepada Rara.


Kedua matanya menatap bola mata Rara yang sendu.


"Aku sudah lebih baik, Ay." jawab Rara pelan.


"Maafkan aku baru bisa datang, Ra. Tadi bantuin Bunda Icha buat kue," ucap Ayumi pelan.


Rara tersenyum simpul.

__ADS_1


"Cie Ay, yang punya Mama mertua bedalah sekarang," ucap Rara pelan.


"Masih calon belum sepenuhnya," jawab Ayumi singkat.


"Itu sama saja, Ay. Aku berharap menjadi bagian keluarga Bunda Icha, menjadi menantu kesayangannya seperti kamu, Ay," ucap Rara pelan, wajahnya sendu menatap Ayumi.


Kahfi yang sejak tadi mengikuti Ayumi, berdiri di samping pintu kamar dimana Rara berada, mendengarkan kedua gadis itu berbincang.


"Kamu mencintai Kak Kahfi?" tanya Ayumi pelan.


"Sangat cinta Ay, bantu aku untuk bisa dekat dengan Kak Kahfi," ucap Rara pelan dan lirih.


"Aku pasti bantu kamu, Ra," ucap Ayumi.


"Terima kasih udah menjadi sahabat yang baik, dan terima kasih sudah membuat bolu spesial buat aku, Ay," ucap Rara.


"Kalau lelah istirahatlah Ra. Aku gak bisa lama-lama, Nenek sendirian di rumah," ucap Ayumi beralasan.


Entah mengapa, setiap Rara menceritakan Kahfi, ada rasa sesak di dada Ayumi hingga membuat Ayumi merasa tidak nyaman.


'Apa sih yang terjadi padaku, setiap dekat atau membicarakan Kak Kahfi, hatiku sesak dan terasa nyeri,' batin Ayumi dalam hati.


"Kamu mau pulang, Ay?" tanya Rara singkat.


Ayumi menganggukkan kepalanya pelan.


"Iya Ra," jawab Ayumi singkat.


"Pulanglah Ay, besok aku berangkat, kamu ikut ya, Ay. Sekalian ajak Bunda Icha biar nemenin aku diperjalanan. Besok aku pasti sudah sehat, aku hanya perlu istirahat saja yang cukup," ucap Rara menjelaskan.


"Janji untuk sehat, besok akan aku temani kamu bersama Bunda Icha," ucap Ayumi penuh semangat.


Rasanya senang bisa membuat sahabatnya itu berbahagia. Walaupun kenyataannya ada banyak orang yang justru tersakiti karena hal ini.


Ayumi berpamitan pada Bunda Andara dan Kak Zura. Begitu juga dengan Kahfi yang ikut berpamitan untuk pulang.

__ADS_1


Besok pagi mereka akan kembali lagi dan mengantarkan Rara ke Sekolah barunya di kota lain.


__ADS_2