
Hari ini menjadi hari bahagia bagi Rara, tapi tidak bagi Kahfi. Rara yang sudah di rias dengan sangat cantik, memakai pakaian pengantin yang sanagt indah sekali. Senyumnya tak hilang dari bibirnya sambil menatap ke arah cermin. Kahfi juga sudah memakai jas hitam dan terlihat sangat tampan.
Berbeda dengan Ayumi yang tak terlihat bersemangat dan malahan terlihat sangat murung. Rasanya ingin menghilang dari hadapan banayak orang agar Ayumi tak melihat pernikahan Kahfi dan Rara, sahabatnya.
Bulan mengusap punggung Ayumi. Ia tahu, sahabatnya itu sedang sedih. Bagaimana rasanya melihat dengan mata kepala sendiri, lelaki yang ia cintai menikah dengan sahabat karibnya.
"Sabar ya Ay," ucap Bulan berbisik lirih sekali.
Ayumi menoleh ke arah Bulan dan memeluk sahabatnya itu. Air mata yang sudah terkumpul di kelopak matanya tak sanggup lagi di tahan oleh Ayumi. Satu kedipan mata membuat air mata itu berlinang dan turun di pipi mulusnya. Kahfi melihat pemandangan menyesakkan itu dari balik pintu kamar. Kepala Kahfi di tengadahkan ke atas agar tak terlihat jika ia juga sedang bersedih. Kalau saja di ruang tengah itu tidak ramai, mungkin Kahfi sudah menghampiri Ayumi dan emmeluk gadis yang ia cintai dengan sangat erat dan berkata dengan suara lantang bahwa ia sangat mencintai Ayumi. Tapi, apapun yang sudah menjadi takdirnya tidak mungkin kembali dengan mesin waktu.
"Ayumi? Kenapa sayang?" tanya Bunda Icha yang ikut duduk di sebelah Ayumi. Bunda ICha tahu, Ayumi sedang menangis.
"Ekhemm ... Ayumi rindu dengan Kak Afnan," ucap Ayumi berbohong.
__ADS_1
"Ya ampun sayang. Kirain kenapa?" ucap Bunda Icha tersenyum lalu memeluk Ayumi dengan erat.
Ayumi semakin tersiksa tapi AYumi harus menahan rasa sesak di dalam dadanya dan mencoba emnenangkan hatinya agar semua terlihat baik baik saja.
***
"SAH!!" semua serempak mengucap kata sakral yang terdengar lantang dan menggema di telinga Kahfi.
Sontak Kahfi menoleh ke arah Ayumi yang sejak tadi menunduk.
"Bahagia selalu. Sakinah, mawadah dan warohmah ya, Ra," ucap Ayumi.
"Terima kasih ya, Ay. Terima kasih untu persahabatan ini, dan cuma kamu yang sellau mengerti aku, Ay," ucap Rara lirih.
__ADS_1
"Sama -sama ya Ra. Kamu wanita hebat. Wanita hebat harus berada di tangan laki -laki yang tepat seperti Kak Kahfi. Kak Kahfi, jangan buat nangis Rara, ya. Awas aja," ucap Ayumi mengancam. Kahfi hanya mengangguk kecil dengan tatapan datar.
Rasanya sekarang sulit untuk bercanda juga. Ayumi lebih memilih menjaga jarak dan menyelesaiakan studinya. Atau Ayumi pergi saja? Mencari dunia yangbaru untuk melupakan semua ini? Lalu Kak Afnan?
Ayumi melepas pelukannya dari tubuh Rara dan tersenyum manis sekali sambil menghapus sisa air mata di pipi Rara.
Ayumi kembali duduk di kursi dan menikmati smeua hidangan yang ada disana. Sebenarnya sanagt tidak berselera tapi ini semua terpaksa.
***
Keesokkan paginya, semua orang terbangun siang hari karena lelah sepanjang malam bergadang hingga pagi.
Ayumi sudah tidak ada dan emnitipkan surat di meja rias. Ayumi ingin mencari kehidupannya sendiri melupakan masa lalunya dan menjadi sosok yang baru dengan cerita manis yang baru. Mau tidak mau, AYumi harus menghapus emua kenangan indahyang terukir di sepanjang cerita hidupnya.
__ADS_1
"Ayumi!!" teriak Bunda Icha setelah membaca surat dari Ayumi.