
Acara makan siang hari ini sangatlah berjalan mulus dan lancar. Kedua keluarga yang saling bersahabat ini saling berbagi dan saling menghargai sehingga komunikasi hangat juga terjalin dengan baik.
Kahfi sibuk dengan makanan yang ada di piringnya dan sesekali menyimak pembicaraan kedua keluarga bersahabat ini yang ujung-ujungnya membicarakan masalah hubungan antara Abangnya Afnan bersama Kak Zura.
Namun, Kyai Toha tetaplah menjadi orang tua yang bijak dan menomorsatukan keputusan dan keinginan anak-anaknya tanpa adanya paksaan dan intimidasi.
"Saya sangat berterima kasih sudah mengundang saya dan keluarga untuk makan siang bersama disini," ucap pak Sukoco pelan sambil meneruskan makan siangnya.
"Iya Bunda Icha ini masakannya beneran enak, asem-asem daging sapinya mantap," puji Bunda Andara dengan tulus.
Bunda Icha hanya menatap ramah kepada Bunda Andara dan tersenyum.
Kahfi hanya menatap sekilas ke arah Bunda Andara dan fokus lagi dengan makan siangnya.
Zura melirik ke arah Afnan yang juga fokus dengan makan siangnya tanpa memperdulikan Zura.
Sikap Afnan memang cuek dan dingin, Afnan sendiri tidak mau memberikan celah hati kepada Zura. Sudah cukup selama ini Afnan menghargai Zura dan memperhatikan Zura karena permintaan Kyai Toha, Bapaknya.
"Rara kemana, kenapa tidak diajak sekalian untuk makan siang bersama," tanya Kyai Toha disela-sela makannya.
Kyai Toha baru menyadari tidak adanya keberadaan Rara, anak bungsu Pak Sukoco dan Bunda Andara.
"Rara sejak malam menginap dirumah sahabatnya, Ayumi namanya kalau tidak salah. Rumahnya dekat sini, nanti menyusul katanya," jawab Pak Sukoco dengan pelan.
"Oh seperti itu. Eh, siapa tadi nama sahabatnya Rara? Kayak pernah dengar?" ucap Kyai Toha pelan sambil menyuap suapan terakhir ke dalam mulutnya.
Jawab serempak kedua anaknya yang sejak tadi diam seribu bahasa namun menyimak obrolan antar orang tua itu.
"Ayumi Pak," ucap Kahfi dan Afnan secara bersamaan. Kahfi dan Afnan saling bertatap tajam lalu meneruskan makan siangnya.
Zura menatap Afnan dan Kahfi secara bergantian. 'Kenapa kompak sekali Kakak beradik ini bisa menjawab dengan serempak, ada apa sebenarnya ini?' tanya Zura dalam hati.
Kyai Toha mendengar jawaban serempak dari kedua anaknya ikut tersenyum dan tertawa.
"Kenapa kalian bisa kompak menjawab nama gadis itu?" tanya Kyai Toha dengan candaan.
Kahfi merasa ditatap Bapaknya, akhirnya menjawab, "Memang namanya Ayumi. Sahabat Rara, Kahfi kenal baik."
__ADS_1
Kyai Toha menatap Kahfi lalu tersenyum.
"Iya Fi, namanya Ayumi? Cucu Nenek Arsy kan?" tanya Kyai Toha memperjelas.
Kahfi mendongakkan kepalanya menatap Kyai Toha, lalu menjawab, " Betul Pak."
Semua orang sempat menatap Kahfi dan sempat bertanya-tanya siapa Ayumi hingga dikenal orang.
"Assalamu'alaikum ..." ucap seorang wanita dari arah pintu depan.
Rara dan Ayumi sudah berada di halaman rumah milik Kyai Toha. Rara yang sudah biasa datang ke rumah itu sudah terlihat santai, sedangkan Ayumi baru pertama kali menginjakkan kaki di rumah Kyai Toha masih terlihat malu-malu dan sungkan.
Pintu depan diketuk-ketuk oleh dan berulang kali Ayumi ikut mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam ..." ucap serempak semua orang yang ada di meja makan.
Semuanya saling berpandangan karena asal suara tidak hanya satu tapi seperti ada dua suara yang berbeda.
"Seperti suara Rara?" ucap Pak Sukoco yang mengenali suara anak gadisnya.
Zura pun menganggukan kepalanya tanda setuju dengan ucapa Pak Sukoco. Suara itu adalah suara Rara, adik bungsunya.
Bunda Icha beranjak berdiri dan berjalan menuju ruang tamu, melihat tamu yang datang ke rumahnya.
"Rara? Apa kabar sayang? Kok ada yang beda nih, kesayangan Bunda udah tutup aurat seperti Kak Zura," tanya Bunda Icha dengan ramah dan lembut.
Rara menghampiri Bunda Icha menyalami dengan hormat dan memeluk Bunda Icha dengan perasaan rindu.
"Rara kangen sama Bunda Icha," ucap Rara dengan lirih.
"Kenapa jarang main kemari? Rara tambah cantik dengan hijab," ucap Bunda Icha pelan lalu melepaskan pelukan itu.
"Ayah kan sibuk Bunda. Gimana penampilan Rara? Aneh gak Bunda? Ini Ayumi yang bantu memasangkan hijabnya. Bunda ini Ayumi sahabat Rara," ucap Rara memperkenalkan Ayumi kepada Bunda Icha.
"Ini yang namanya Ayumi? Cantik sekali. Ayumi yuk masuk, kita makan siang bersama sekalian," ucap Bunda Icha dengan lembut.
"Wah, pas banget nih Rara udah lapar Bunda. Bunda masak apa?" tanya Rara pelan lalu merangkul Bunda Icha masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Menyadari ada sesuatu yang tertinggal, Bunda Icha melepaskan pelukannya kepada Rara dan kembali ke depan. Ayumi hanya diam menatap kembang-kembang yang tertata rapih dan cantik karena mulai bermekaran.
"Ayumi kok tidak ikut masuk?" tanya Bunda Icha sambil memegang kedua bahu Ayumi.
Ayumi sedikit terlonjak kaget saat bahunya disentuh oleh Bunda Icha. Sentuhan itu mengingatkan Ayumi kepada Bunda Alisha yang sudah tiada. Sentuhan itu sama persis, ucapannya juga sama lembutnya, tak terasa mata Ayumi sudah basah sambil menatap bunga cantik seperti yang sering dilakukan Bunda Alisha semasa hidupnya.
"Ayumi kenapa?" tanya Bunda Icha pelan menatap Ayumi yang terlihat bersedih.
Diam-diam Rara berbalik dan bersembunyi di balik tembok ruang tamu, menatap Ayumi dan Bunda Icha dari kejauhan.
Rara bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Ayumi saat ini. Saat semua masih memiliki orang tua yang lengkap, namun Ayumi sudah tidak memilikinya dan hanya memiliki aeorang Nenek yang menyayanginya.
"Ayumi?" panggil Bunda Icha pelan dan memegang dagu Ayumi untuk menatap Bunda Icha yang sedang berbicara kepadanya.
"Maaf Bunda," ucap Ayumi pelan dan menghapus air matanya yang sudah menetes hingga ke pipi.
"Kamu menangis? Kenapa? Cerita sama Bunda ya, mau disini atau didalam?" tawar Bunda Icha dengan lembut.
"Boleh Ayumi memeluk Bunda? Ayumi rindu dengan Bunda Ayumi," ucap Ayumi dengan suara serak yang tertahan.
"Dengan senang hati, bila itu bisa mengobati rasa rindumu pada Bundamu," ucap Bunda Icha tersenyum dan merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Ayumi.
Diusapnya kepala gadis itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Usapannya berpindah pada punggung Ayumi dengan pelan. Bunda Icha merasakan getaran isak tangis dan degub jantung yang tak berirama dari Ayumi.
Pelukannya semakin dalam, Ayumi mencari kenyamanan pada bahu Bunda Icha.
Rara melihat itu semua dengan sedih, air matanya tak terasa ikut menetes.
"Kenapa lu Ra?" tanya Kahfi mengagetkan Rara.
Rara pun tersentak kaget dan menghapus air matanya yang sempat turun dengan punggung tangannya.
"Bunda mana?" tanya Kahfi yang tidak melihat Rara menangis.
Rara hanya diam dan menunjuk ke arah Bunda Icha dan Ayumi yang sedang berpelukan di teras depan.
Melihat pelukan hangat antara Ayumi dan Bunda Icha membuat Kahfi juga merasakan sedih.
__ADS_1