Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
120


__ADS_3

Bulan dan Ayumi keluar dari kamar dengan membawa tas sekolahnya masing-masing. Mereka menuju ruang makan dan duduk di kursi ruang makan.


"Kak Afnan sudah makan ya?" tanya Ayumi pelan kepada dirinya sendiri.


Ayumi melihat ada dua piring bekas disana, sudah tentu yang satu milik Kak Zura yang tadi sudah kelaparan dan menyantap sarapan paginya lebih pagi, dan satu piring lainnya tentu punya Kak Afnan.


Ayumi mengambil makanan untuk disantap sebagai sarapan paginya. Kedua matanya melirik ke arah kanan dan kiri mencari keberadaan Afnan.


"Kayaknya sudah berangkat deh, Kak Zura juga tidak ada," ucap Bulan pelan sambil menyantap makanan itu.


Ayumi mengunyah makanannya dengan pelan. Beberapa hari ini sejak kedatangan Kak Zura, situasi makin tidak nyaman.


"Iya, sepertinya Kak Afnan sudah berangkat," jawab Ayumi pelan.


Kak Zura sudah masuk ke dalam dan duduk lagi di kursi ruang makan. Wajahnya terlihat bahagia dan berbinar.


Ayumi dan Bulan melihat Kak Zura secara bersamaan, menatap keanehan pada dirinya Kak Zura.


Kak Zura menggebrak meja makan itu dengan pelan.


Brakk ...


"Kenapa kalian melihat Kak Zura seperti itu?" tanya Kak Zura dengan suara keras.


Ayumi dan Bulan tersentak kaget, lalu mengalihkan pandangannya pada sisa makanannya yang belum habis.


"Maaf Kak Zura, tidak apa-apa," jawab Ayumi pelan.


"Cepat habiskan Ay, kita keburu telat," ucap Bulan pelan mengingatkan.


Ayumi dan Bulan keduanya saling bertatapan dan menyelesaikan sarapan paginya dengan cepat.


"Mau lanjut makan, habis nganterin calon suami sampai depan pintu, mau sekolah dengan baik katanya," ucap Kak Zura dengan suara pelan.

__ADS_1


Ayumi terkejut dan langsung terbatuk-batuk seketika mendengar ucapan Kak Zura.


"Minum dulu Ay," ucap Bulan dengan pelan sambil memberikan air teh manis hangat itu kepada Ayumi.


Ayumi meneguk satu gelas air teh manis hangat itu hingga habis. Rasanya sangat sesak mendengar ucapan Kak Zura yang begitu menyentil hati Ayumi.


"Kamu tidak apa-apa Ay?" tanya Bulan pelan kepada Ayumi.


Kak Zura hanya memandang kedua anak kecil itu tersenyum dan tertawa bahagia.


"Hemm, Ayumi, Afnan itu sejak dulu milikku, punya Kak Zura, dan tidak ada yang boleh memilikinya selain Kak Zura," ucap Kak Zura tegas dengan penuh penekanan.


Ayumi hanya tersenyum kecut.


"Kita sudah bertunangan, dan kita berdua saling mencintai," ucap Ayumi pelan sedikit kesal.


"Hanya punya cinta? Baru tunangan saja sudah bangga? Bagi Zura banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk mendapatkan Afnan, dan itu sangat mudah," ucap Zura dengan perlahan namun terdengar sangat ketus dan tegas.


"Maumu apa Kak Zura?!" tanya Ayumi dengan suara agak meninggi.


"Mau Kak Zura hanya Afnan!! Bisa berikan Afnan secara baik-baik untuk Kak Zura?" tanya Kak Zura masih tenang dan pelan.


Dada Ayumi sudah terlihat naik turun, emosinya juga sudah sedikit memuncak.


"Sudah Ay, jangan diladeni. Lebih baik kita berangkat sekarang, nanti terlambat untuk seminar," ucap Bulan pelan menjelaskan kepada Ayumi.


Ayumi bangkit berdiri dan membawa tas sekolahnya dan pergi keluar untuk berangkat ke sekolahnya.


Bulan langsung berdiri dan mengikuti Ayumi.


"Jangan ganggu hubungan mereka, biarkan mereka berdua bahagia," ucap Bulan tegas kepada Kak Zura yang juga menatap tajam kedua mata Bulan.


"Kak Zura tidak takut dengan ancaman kamu, cukup tidak perlu ikut campur dengan semua ini," ucap Kak Zura tegas.

__ADS_1


"Urusan Ayumi akan menjadi urusan Bulan juga," ucap Bulan dengan keras lalu meninggalkan Kak Zura di apartemen itu sendiri.


Kematian Bunda Andara sudah di prediksi oleh Zura sebelumnya. Nyawanya saat ini sedang terancam karena perselingkuhannya dengan pemilik universitas ternama di Mesir itu.


Berkali-kali Bos besar itu mengajaknya tidur, dan Zura selalu beralasan atau membuat Bos besar itu mabuk berat dan mengganti tubuhnya dengan tubuhnya Ibunya sendiri, hingga dan ibu dinyatakan positif HIV.


Kebohongannya telah terbongkar dan kini Zura sudah pasti akan menjadi buronan Bos besar itu.


Wajahnya ditutup dengan kedua telapak tangan. Rasanya ingin sekali menangis, meratapi semua kenyataan pahit dalam hidupnya. Jenazah Ibunya pun tidak tahu dikemanakan, sudah di kubur atau belum dan dimana kuburannya.


Zura hanya bisa berdiam diri di apartemen milik Afnan ini. Disini Zura bisa hidup lebih aman dan lebih bebas, walaupun hanya berada di dalam rumah saja.


'Apa aku harus menceritakan sejujurnya kepada Afnan, atau semuanya harus ku tutup dengan rapat,' batin Zura di dalam hatinya.


Tangisannya mulai terdengar lirih, air matanya juga sudah luruh ke bawah membasahi pipi Zura. Kedua matanya sembab dan sangat perih.


Zura berdiri dan berjalan menuju kamar Afnan, hanya disana duduk dan mencium sisa aroma parfum yang menempel di ruangan kamar itu menjadi mood boosternya.


Penataan ruangan kamar itu hampir sama dengan ruangan kamar yang dipakai di rumah Afnan. Beberapa kali Zura ke rumah Afnan selalu mampir ke kamar Afnan yang selalu membuat candu baginya.


Aroma wangi parfum maskulin dengan harum yang semerbak menyengat dan tahan lama, membuat Zura betah untuk berlama-lama di kamar tidur Afnan.


Tubuhnya direbahkan di atas kasur yang wangi khas pria maskulin. Semakin nyaman kedua mata Zura pun terpejam karena lelah menangis dan lelah memikirkan beban pikiran yang begitu berat menimpa dirinya.


Wangi parfum ini, yang selalu diingat oleh zura, mengingat pertemuannya pertama kali dengan Afnan yang tidak sengaja di pusat pertokoan saat mencari buku yang sama.


Afnan tidak sengaja menabrak lengan Zura yang sedang membawa minuman dingin hingga terjatuh dan tumpah di lantai. Permintaan maaf yang begitu tulus dan lembut membuat hati Zura ikut luluh mendengarnya.


"Maafkan Kakak, biar Kakak ganti minumannya, yuk kita ke kedai kopi itu, pilihlah sesuka hatimu," ucap Afnan meminta maaf dengan lembut dan merasa bersalah.


Zura bagaikan tersihir dengan kedua mata indah itu yang tajam menatap dirinya, dan senyuman dengan lesung pipi di kedua pipinya menambah pesona dari pria yang telah berhasil membuatnya jatuh cinta.


Mulai sejak itu perkenalannya makin dekat dan semakin dekat hingga ke proses ta'aruf. Tapi setelah ada gadis yatim piatu itu semuanya berakhir, keinginanku menikah muda dengan orang yang aku cintai pun harus dilebur.

__ADS_1


Zura masih memejamkan kedua matanya. Hubungannya dengan Rara juga sudah tidak baik, apalagi dengan Ayah Sukoco tentu banyak percekcokan. Kink Zura benar-benar sendiri dan tidak ada teman atau sahabat untuk saling berbagi.


Zura hanya pasrah dan menghembuskan napasnya dengan pelan hingga Zura tertidur dengan lelap dan pulas di kasur milik Afnan.


__ADS_2