Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
117


__ADS_3

Bulan dan Kak Zura sudah berada di apartemen milik Kak Afnan. Setelah mengalami kejadian yang sangat mengerikan dan menegangkan tadi di Supermarket.


Bulan hanya bisa bersembunyi di balik tumpukan ember di rak barang bagian belakang, sedangkan Zura bersembunyi di belakan rak barang dengan tumpukkan kardus kosong.


Dari kejauhan terlihat beberapa ajudan bos besar mencari keberadaan Azura, dan mengobrak-abrik seluruh tempat itu tanpa ada yang tersisa satu orang pun.


Mereka menemukan kereta belanja Zura, dan menemukan tas kecil yang berisi kunci mobil dan kunci apartemen Zura.


"Kemana wanita gila itu pergi, secepat itu Zura pergi dengan mudahnya," teriak salah satu ajudan yang menemukan barang-barang Zura yang sengaja ditinggal disana.


"Sudah biarkan saja, yang penting mobil dan apartemen itu sudah bisa diambil kembali, wanita itu kita urus lain waktu saja, Zura tidak akan bisa lari dari kota ini," ucap salah satu ajudan bertubuh besar itu.


"Nona Muda pasti senang dengan pekerjaan kita, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, Bunda Andara sudah mati terbunuh, setelah Bos Besar tahu permainan Zura yang selama ini mengganti tubuhnya dengan tubuhnya Ibunya sendiri," ucap satu pengawal yang menjelaskan duduk perkaranya.


"Sudah kita harus segera pergi dari tempat ini, sebelum terkepung polisi," ucap pengawal yang lain.


Beberapa pengawal itu pergi dari tempat itu dengan cepat dan membawa satu tas kecil milik Zura.


Salah seorang dari mereka masih mencari-cari keberadaan Zura disekitar Supermarket itu. Kedua matanya mengarah ke arah belakang bagian rak-rak barang tempat bersembunyi Zura dan Bulan.


Langkah kaki pengawal itu terdengar jelas, suara sepatu pantofel yang menyentuh lantai terdengar sangat nyaring.


Degub jantung Bulan dan Zura seolah ingin berhenti agar tidak terdengar oleh siapapun yang mendekat.


Kedua mulut mereka ditutup dengan telapak tangan agar tidak berteriak karena kaget.


Langkahnya semakin jelas terdengar mendekat, Bulan melihat dari sela-sela barang rumah tangga itu, terlihat jelas pengawal itu menuju ke arahnya.


"Brama, kembali, dengar suara sirine mobil semakin mendekat," teriak pengawal lain yang sudah akan keluar dari supermarket itu.


Pengawal itu membalikkan tubuhnya dan berlari dengan sekuat tenaga untuk segera pergi dengan cepat dari Supermarket itu.


Setelah keadaan aman Zura dan Bulan pergi dari tempat itu menuju apartemen milik Afnan.


Bulan duduk sambil memeluk Zura yang ada disampingnya dan Ayumi sedang membuatkan minuman untuk Kak Zura.


Ayumi keluar dari dapur dengan membawa satu nampan besar berisi tiga gelas es nata de coco, dan satu piring besar potongan brownies coklat.

__ADS_1


Ayumi meletakkan makanan dan minuman itu di meja tamu dan meletakkan nampan besar yang kosong itu dibawah meja.


Ayumi sempat terkejut mendengar suara dari arah depan memanggil namanya dengan cemas dan panik.


"Bulan, Kak Zura, diminum dulu biar adem," ucap Ayumi pelan menawarkan minuman segar dan dingin itu.


Ayumi mendahului mengambil satu gelas es nata de coco itu dan mulai meminumnya sambil menatap Kak Zura. Wanita misterius yang mirip dengan Kak Zura itu ternyata memang benar-benar Kak Zura.


Bulan melepaskan pelukan erat itu dari tubuh Kak Zura yang masih membeku dan mengambil satu gelas es nata de coco lalu disuapkan sesendok demi sesendok.


"Maafkan Kak Zura," ucap Kak Zura pelan dan menunduk.


Dadanya terasa sangat sesak sekali, hari ini kesedihannya benar-benar membuat hatinya terasa ingin mati.


"Lalu, jenazah Bunda Andara bagaimana?" tanya Ayumi pelan kepada Kak Zura


Kak Zura menggelengkan kepalanya pelan, air matanya sudah menetes dengan sangat deras.


"Kak Zura tidak tahu," jawabnya dengan suara lirih.


"Itu Kak Afnan datang," ucap Ayumi pelan, lalu beranjak dari duduknya dan membuka pintu apartemennya.


"Assalamu'alaikum kesayangan Kak Afnan, ini untukmu Ay," ucap Kak Afnan dengan penuh kebahagian dan memberikan satu buket bunga dengan beberapa cokelat kesukaan Ayumi.


Ayumi sangat terkejut dengan surprise yang diberikan oleh Kak Afnan. Ayumi hanya bisa tersenyum manis kepada Kak Afnan.


"Waalaikumsalam, Kak Afnan, terima kasih atas surprisenya, Ayumi sangat senang sekali," ucap Ayumi dengan suara pelan dan terharu.


Memang bukan pertama kalinya Kak Afnan memberikan surprise kepadanya, sudah berulang kali, tapi tetap saja rasanya sangat bahagia dan senang bila diperhatikan dan menjadi prioritas.


Ayumi dan Kak Afnan masuk ke dalam apartemen lalu menutup kembali pintu itu dan menguncinya dari dalam.


Afnan menatap Zura yang ada di dalam apartemennya dengan sangat tajam.


"Maafkan Bulan, Kak Afnan. Bulan mengajak Kak Zura untuk tinggal disini sementara karena Kak Zura sedang dalam masalah besar. Bunda Andara dinyatakan meninggal terbunuh di sebuah hotel," ucap Bulan dengan suara pelan dan lirih memelas kepada Afnan.


Afnan hanya mengangguk pelan dan berjalan menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya.

__ADS_1


"Sebentar ya, Ayumi ada perlu dengan Kak Afnan sebentar," ucap Ayumi pelan dan berjalan menuju kamar Kak Afnan yang masih terbuka lebar.


Ayumi masuk ke dalam tanpa rasa cemas, sudah biasa selama disini mempersiapkan beberapa kebutuhan Kak Afnan.


"Kak Afnan," panggil Ayumi saat masuk ke dalam kamar Kak Afnan dan duduk di tepi ranjang tidur milik Kak Afnan.


Kak Afnan menoleh ke arah Ayumi yang memanggil namanya dengan pelan. Baru saja membuka bajunya dan mengganti kemejanya dengan kaos oblong dari lemari pakaian.


"Ada apa Ay," tanya Afnan pelan dan ikut duduk di tepi ranjang itu dengan posisi saling berhadapan.


"Apa yang terjadi dengan Kak Zura sebenarnya?" tanya Ayumi pelan kepada Afnan.


Afnan hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Kak Afnan juga tidak pernah tahu hal itu, hanya saja yang Kak Afnan tahu, Zura akan menikah dengan pemilik sekolah kamu, Ay," ucap Kak Afnan pelan menjelaskan.


"Kalian pernah bertemu sebelumnya?" tanya Ayumi kemudian karena merasa seperti ada yang janggal. Tatapan keduanya seperti ada yang disembunyikan.


Kak Afnan terdiam dengan pertanyaan Ayumi kali ini.


Ayumi menatap lekat kedua mata Kak Afnan seolah meminta jawaban bukan sekedar menatap saja.


"Kak Afnan. dan Kak Zura tidak ada hubungan apapun," tegas Afnan dengan lantang.


Ayumi berusaha tenang dan bertanya kembali.


Kak Afnan sudah pernah bertemu dengan Kak Zura? Sudah atau belum?" tanya Ayumi dengan pelan, mengulang kembali pertanyaannya.


Kak Afnan menatap lekat kedua mata Ayumi, lalu mengangguk pelan.


"Kak Afnan pernah bertemu Kak Zura beberapa kali, tapi untuk urusan lain. Kak Afnan hanya ingin membantunya saja, tidak lebih dari itu," ucap Afnan menjelaskan.


Ayumi menatap Kak Afnan dengan wajah sendunya.


"Cinta bisa tumbuh karena biasa, karena kasihan, karena kekaguman, karena pribadinya, karena kecantikannya, karena keyakinannya, karena keunikannya dan yang lainnya,"


Kak Afnan hanya tersenyum melihat gadis cantiknya itu terus berceloteh dan mengoceh karena cemburu.

__ADS_1


__ADS_2