
Setelah terjadi keributan urusan rumah tangga antara Bunda Andara dan Pak Sukoco, Kyai Toha hanya terduduk diam bersandar pada sandaran sofa di ruang keluarga.
Bunda Andara dan Zura juga duduk di sofa ruang keluarga, mereka berdua saling berpelukan dan saling bersandar satu sama lain.
Afnan dan Kahfi juga duduk berdampingan berhadapan dengan Kyai Toha, sedangkan Ayumi dan Bunda Icha berkutat membuat minuman hangat dan cemilan di dapur.
Ayumi mengaduk teh manis dan meletakkan cangkir-cangkir cantik itu di atas nampan. Bunda Icha sedang merapikan beberapa toples makanan ringan di rasa nampan untuk dibawa ke ruang keluarga.
"Jangan trauma melihat keributan seperti tadi. Tidak semua urusan keluarga harus di publikasi seperti itu. Itu adalah suatu kesalahan. Seharusnya masalah keluarga atau aib keluarga itu dijaga jangan sampai semua orang mengetahuinya," ucap Bunda Icha menasehati.
Ayumi menatap Bunda Icha sambil menganggukan kepalanya pelan tanda paham.
"Ayumi mengerti Bunda. Ayumi hanya kaget, melihat pertengkaran seperti itu, Alhamdulillah Ayah dan Bunda Ayumi tidak pernah bertengkar sampai seperti itu, hanya cekcok dalam perdebatan beda pendapat," ucap Ayumi menjelaskan.
"Kamu anak baik dan sangat dewasa dalam menyikapi sesuatu. Bunda suka dengan kamu, Ayumi," ucap Bunda Icha memuji Ayumi.
"Ayumi orang biasa Bunda. Jangan berlebihan memuji Ayumi," ucap Ayumi pelan.
Bunda Icha dan Ayumi membawa nampan masing-masing berisi makanan dan minuman untuk disantap sore ini. Minum teh hangat bisa mengurangi tingkat stres seseorang menjadi lebih rileks.
"Diminum dulu Dara, Zura," ucap Bunda Icha lembut sambil memberikan satu cangkir teh kepada Kyai Toha, suaminya.
"Terima kasih sayang, kamu memang istri terbaik," ucap Kyai Toha dengan polosnya.
"Bapak, malu banyak orang," ucap Bunda Icha sambil mengedipkan satu matanya kepada suaminya lalu tersenyum.
Dara, Zura dan Ayumi menatap kemesraan kedua insan pasangan suami istri tersebut.
"Aku iri denganmu Icha. Usia kita sudah tidak muda lagi, tapi kalian berdua bisa membuat perjalanan pernikahan tetap hangat, romantis dan bahagia," ucap Bunda Andara menatap nanar Bunda Icha.
"Ini minum tehnya dulu, aku buat khusus untuk kamu, Dara, dan ini untuk kamu Zura," ucap Bunda Icha penuh kelembutan memberikan masing-masing satu cangkir teh kepada Bunda Andara dan Zura.
"Bunda, Kahfi satu ya," ucap Kahfi mengambil satu cangkir teh itu dan diberikan kepada Ayumi yang duduk tepat disebelahnya.
Ayumi terkejut dan memandang semua orang yang juga memandangnya termasuk Afnan yang menatap sendu wajah Ayumi.
"Minumlah Ayumi, wajahmu terlihat lelah," ucap Kahfi lembut.
__ADS_1
Ayumi menerima cangkir berisi teh hangat itu, dan meneguk teh hangat tersebut.
"Terima kasih Kak Fi," ucap Ayumi pelan.
Afnan beranjak dari duduknya dan mengambil piring kecil yang diisi beberapa makanan ringan lalu diberikan kepada Ayumi.
"Makanlah Ay, nanti kamu sakit," ucap Afnan pelan sambil memberikan piring kecil itu kepada Ayumi.
Ayumi menerima piring kecil dengan tersenyum lalu berucap, "Terima kasih Kak."
Bunda Icha menatap kedua putranya yang terlihat mencari perhatian dari Ayumi.
Zura menatap Afnan dengan rasa kecewa, seharusnya Zura yang diperhatikan seperti itu, bukan Ayumi.
"Kalian ingin kemana, setelah ini?" tanya Kyai Toha pelan dan mengalihkan perhatian dari kedua putranya yang nampak sedang berlomba mencari perhatian kepada Ayumi.
"Aku belum tahu Toha," ucap Dara pelan.
"Bunda, kita mau kemana? Zura tidak memiliki uang untuk menyewa rumah ataupun kamar untuk kita menginap malam ini," ucap Zura lirih kepada Bundanya.
Ayumi menyimak pembicaraan antara anak dan ibu itu ikut merasa iba.
Setengah jam sudah Bunda Andara mencari tumpangan untuk menginap malam ini saja, namun hasilnya nihil. Semua teman-temannya tidak ada satupun yang mau membantu Bunda Andara yang sedang kesulitan.
Bunda Andara menghela napas panjang dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Rasanya ingin berteriak, menjerit sekeras-kerasnya dan ingin menangisi kenyataan hidupnya saat ini.
"Gimana Bunda? Adakah teman Bunda yang mau membantu kita?" tanya Zura pelan sambil mengusap punggung Bunda Andara dengan lembut.
Wajah Bunda Andara masih tertutupi oleh kedua tangannya, Bunda Andara hanya menggelengkan kepalanya pelan menjawab pertanyaan Zura yang baru saja diajukan.
Zura menghela napas dan tertunduk sedih dan bingung. Hari sudah semakin sore, kemana lagi mereka akan mencari tempat tinggal walau hanya semalam.
"Maafkan Ayumi, bila ikut campur dalam masalah ini. Bunda Andara dan Kak Zura bisa kok tinggal dirumah Nenek Arsy. Nenek pasti akan sangat senang bila ada teman dirumah. Bila Bunda Andara bersedia, silahkan ke rumah Nenek Arsy," ucap Ayumi pelan mengajak Bunda Andara dan Zura ke rumahnya.
Bunda Andara dan Zura menatap Ayumi dengan tidak percaya. Masih ada orang baik yang mau membantu disaat genting seperti ini.
"Benarkah Ayumi, kamu mau membantu kami?" tanya Bunda Andara dengan perasaan senang.
__ADS_1
"Benar Bunda Andara, Ayumi tidak bohong. Kita pulang sekarang, agar Bunda Andara dan Kak Zura bisa beristirahat," ucap Ayumi dengan lembut.
"Kamu benar akan mengajak mereka berdua ke rumah? Mereka sudah menghina kamu tadi siang Ay," ucap Kahfi dengan kesal tak terima dengan kebaikan Ayumi.
"Kak Fi, baik itu wajib dan tidak boleh pilih-pilih. Satu hal lagi jangan membalas kejahatan seseorang dengan kejahatan juga, tapi lebih baik berdiam diri, kita doakan agar orang tersebut cepat disadarkan dari kesalahannya," ucap Ayumi dengan bijak.
"Hatimu bagaikan bidadari Ay," ucap Zura pelan dan malu karena sudah menghina Ayumi.
"Berterima kasihlah sama Allah SWT, hati Ayumi digerakkan oleh Allah untuk membantu Bunda Andara dan Kak Zura. Ini bukan suatu kebetulan tapi semuanya sudah takdir kita," ucap Ayumi lembut.
"Terima kasih Ayumi, Bapak sangat bersyukur kamu mau membantu kesulitan Bunda Andara dan putrinya," ucap Kyai Toha kepada Ayumi dengan pelan.
"Sama-sama Pak Kyai, sesama umat kita harus saling tolong menolong," ucap Ayumi singkat.
"Ayumi, sering-sering main kesini, nanti kita buat kue pake resep Ayumi," ucap Bunda Icha lembut.
"Siap Bunda Icha, nanti Ayumi siapkan bahan-bahannya dulu," jawab Ayumi pelan.
"Bunda dan Ayumi kok kayak udah Deket banget. Memangnya Bunda kapan ngobrol dengan Ayumi?" tanya Kahfi penasaran.
"Kok kamu jadi kepo sama Bunda, Fi?" ucap Bunda Icha memicingkan kedua matanya ke arah Kahfi.
"Kamu bisa buat kue apa Ay?" tanya Afnan pelan.
"Lidah kucing rasa green tea, Bunda mau coba resep Ayumi," ucap Bunda Icha dengan mata berbinar.
"Lidah kucing itu kue favorit Kahfi, tapi kalau rasa green tea, Kahfi belum pernah coba Ay," ucap Kahfi pelan.
"Iya nanti Ayumi buatkan Kak Fi," ucap Ayumi pelan.
"Untukku calon suamimu?" tanya Afnan dengan suara agak keras sengaja menjelaskan bahwa Ayumi adalah miliknya di masa depan.
Ayumi hanya tersenyum lalu berucap, "Buat Kak Afnan juga ada, Ayumi buatkan kurma coklat toping wijen, mau?"
"Dengan senang hati menerimanya," ucap Afnan tersenyum bahagia.
Zura hanya menahan rasa kesal dan kecewanya, kalau bukan Ayumi yang membantu, mungkin sudah berteriak tak karuan agar Afnan tetap menjadi miliknya.
__ADS_1