Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
89


__ADS_3

Malam ini adalah acara penting bagi Bulan. Bulan dan keluarganya sengaja merahasiakan acara malam hari ini kepada siapapun.


Semua persiapan sudah sangat matang dan semua sudah dipersiapkan dengan baik sesuai dengan keinginan kedua mempelai. Acara sakral yang hanya ingin dihadiri oleh keluarga inti saja baik dari keluarga mempelai perempuan dan dari keluarga mempelai laki-laki.


Di kamar yang luas dan mewah ini menjadi saksi tentang persiapan Bulan yang akan menikah dengan Ustad Ikhsan. Usia Bulan yang baru saja genap berusia tujuh belas tahun ini sudah bisa menikah secara resmi baik secara hukum Islam dan secara administrasi negara.


"Cantik sekali kamu Bulan, Ayumi pangling melihatmu?" ucap Ayumi dengan rasa bahagia melihat sahabatnya akan berbahagia hari ini.


Bulan tersenyum lebar, rasanya seperti mimpi, dikhitbah secara tiba-tiba dengan seseorang yang dicintai dalam diam, namun disebut dalam setiap doa di sepertiga malam kedua insan tersebut.


"Bulan seperti mimpi menjalaninya," ucap Bukan dengan rasa bahagia bercampur haru.


"Gimana rasanya mau menikah?" tanya Ayumi pelan kepada Bulan.


Ayumi dan Rara sudah rapi dengan pakaian gamis putih dan hijab panjang dengan warna senada. Gamis putih berenda dengan List berwarna emas menambah kecantikan alami Ayumi dan Rara.


"Rasanya itu seperti takut, senang, bahagia dan was-was. Tapi sejauh ini sangat bahagia luar biasa," ucap Bulan dengan mata berbinar.


Riasan wajahnya terlihat simpel dan tidak neko-neko. Bulan hanya menggunakan kebaya putih lengkap hijab yang menutupi kepalanya.


Rara menatap Bulan tanpa berkedip. Hari ini Bulan benar-benar berubah menjadi cantik seperti bidadari. Gadis sederhana tanpa make up, kini menjadi seorang pengantin wanita.


"Rara jadi itu denganmu Bulan. Ustad Ikhsan begitu mencintaimu hingga berani mengambil keputusan untuk mengkhitbahmu," ucap Rara lirih. Kedua matanya basah karena bahagia, melihat Bulan saudara tirinya akan menikah.


Rara meratapi nasibnya yang mencintai seseorang dengan penuh ketulusan namun cintanya tidak bersambut dengan baik.


'Ragamu bisa kudapatkan, namun tidak dengan cintamu, Kak Fi. Mau sampai kapan, Rara bisa dicintai seperti Kak Fi mencintai Ayumi?' batin Rara dalam hatinya.


"Ra, pasti suatu saat kamu akan seperti Bulan, semua hanya menunggu waktu. Lihat jari manismu sudah melingkar janji suci dari seseorang, hanya perlu waktu dan proses saja. Ikuti saja takdir Allah SWT dengan ikhlas, Inshaa Allah semua akan berjalan sesuai rencana kita, pelan tapi pasti," ucap Ayumi pelan kepada Rara.

__ADS_1


Rara tersenyum bahagia mendengar ucapan Ayumi. Entah kenapa Rara begitu sayang kepada Ayumi, walaupun Rara tahu, Ayumi adalah gadis yang dicintai oleh Kahfi. Rara tidak memiliki rasa kesal ataupun dengan kepada Ayumi, malahan Rara makin sayang dan selalu ingin dekat dengan Ayumi.


"Rara, Bulan akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Rara. Semoga apa yang Rara inginkan tercapai dan dilancarkan," ucap Bulan menenangkan hati Rara yang pilu.


Rara hanya terdiam, tiba-tiba saja kepalanya sakit sekali namun tetap ditahan agar tidak terlihat oleh orang banyak.


"Ra, wajahmu pucat sekali? Kamu sakit Ra?" tanya Ayumi pelan sambil memegang tangan Rara yang begitu dingin seperti es.


Rara hanya terdiam dan memejamkan kedua matanya sambil bersandar pada kursi yang sedang didudukinya.


"Bulan, ini Rara dingin lagi, sepertinya pusing lagi," ucap Ayumi panik.


"Ambil minyak kayu putih, oleskan pada indera penciuman Rara, agar tetap sadar," titah Bulan yang ikut panik.


Melihat wajah Rara yang begitu pucat dan terlihat sangat lemas.


Ayumi segera beranjak dari duduknya dan berlari kecil menuju tempat penyimpanan kotak kesehatan yang selalu dibawa oleh Rara. Ayumi mengambil minyak kayu putih dan segera mengoleskan minyak kayu putih itu ke indera penciuman Rara.


"Iya Ay, bantu Rara Ay, Rara mau tiduran sebentar, acaranya masih satu jam lagi kan?" tanya Rara pelan kepada Ayumi.


"Iya Ra, acaranya masih satu jam lagi, semua sedang di persiapkan," ucap Ayumi pelan.


Ayumi langsung membantu Rara berjalan beberapa langkah ke tempat tidurnya. Rara merebahkan tubuhnya dengan pelan, sakit kepalanya semakin menjadi-jadi, rasanya ingin menangis namun tidak bisa.


"Ay, Rara ingin melihat Bulan menikah, tapi Rara mau istirahat sebentar, bangunkan Rara ya, Ay," ucap Rara pelan dengan nada memohon.


"Iya Ra, nanti kita akan melihat Bulan menikah dan kita akan menjadi saksi dan mengucap kata SAH, sekarang Rara istirahat dulu, nanti Ayumi bangunkan," ucap Ayumi dengan lembut sambil mengusap kepala Ayumi.


Bulan yang sudah siap lahir batin untuk acara malam ini. Statusnya akan berubah menjadi Nyonya Ikhsan.

__ADS_1


"Kamu tegang Bulan?" tanya Ayumi pelan mendekati Bulan yang terlihat panik karena waktu untuk pengucapan ijab Kabul semakin dekat. Jantungnya berdegup kencang tak karuan seperti berlari-larian tak tentu arah.


"Iya Ay, gugup rasanya, gimana nanti ya, lancar atau tidak," ucap Bulan dengan perasaan panik dan ragu.


"Pasrahkan semuanya sama Allah SWT, pasti semuanya akan baik-baik saja dan lancar, yakin aja," ucap Ayumi menenangkan Bulan.


"Terima kasih Ay, sudah menjadi sahabatku, dan teruslah menjadi sahabatku, jaga rahasia ini hingga kita lulus nanti," ucap Bulan pelan kepada Ayumi dengan nada memohon.


Ayumi tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan pelan. Senyumnya begitu tulus dan ikhlas, dan memancarkan aura bahagianya.


Pernikahan ini bukan terjadi karena sesuatu hal. Semua sudah dipikirkan secara matang karena Bulan masih sekolah, walaupun usianya sudah cukup untuk menikah. Ustad Ikhsan menginginkan pernikahan yang sakral, sebisa mungkin pernikahan ini dilakukan secara tertutup dan privat, tanpa ada tamu undangan lain selain keluarga inti dari kedua mempelai. Hal ini dikarenakan agar isue atau masalah tidak akan timbul dan menyebar di sekolah Bulan.


Bulan dan Ustad Ikhsan sendiri tetap menjalani kehidupannya masing-masing selama berada di sekolah. Namun saat diluar jam sekolah status mereka adalah suami istri yang SAH, baik secara agama maupun secara negara.


"Kamu heran gak Ay, kenapa Ustad Ikhsan. mengkhitbah Bulan sekarang?" tanya Bulan pelan kepada Ayumi.


"Kenapa? Mungkin sudah jodoh, sudah takdir dan sudah ridho Allah SWT, atau ada alasan lain?" tanya Ayumi pelan kepada Bulan.


"Menurut Ustad Ikhsan, kalau kita sudah mempunyai niat baik maka ungkapkan jika sudah mantap, selebihnya biar Allah SWT yang berperan langsung dalam kehidupan kita," ucap Bulan pelan menjelaskan.


Ayumi tersenyum manis, rasanya senang sekali mendapatkan pria Sholeh dan baik serta sabar seperti Ustad Ikhsan.


"Bulan, kamu adalah gadis yang paling beruntung, betapa Allah SWT meridhoi semua jalan kehidupanmu, kamu cantik, hatimu baik dan lembut, akhlakmu pun patut menjadi contoh, kamu ramah, kamu pintar dan kami sholehah, lelaki manapun pasti bangga memiliki kamu, Bulan," ucap Ayumi pelan memuji Bulan.


"Bulan tidak seperti apa yang kamu bayangkan Ay, Bulan juga manusia biasa, yang terkadang bisa marah, kesal, iri, benci dan hal buruk lainnya karena semua itu manusiawi," ucap Bulan pelan menjelaskan.


"Tapi semua itu ada pada dirinya kamu Bulan, Ayumi tidak memuji, namun itu semua kenyataan," ucap Ayumi pelan.


"Jangan panik, waktunya tinggal lima belas menit lagi," ucap Ayumi pelan sambil melihat arah jarum jam.

__ADS_1


"Astagfirullah, Ayumi, Bulan kok gugup gini ya," ucap Bulan pelan.


Ayumi hanya tersenyum dan mendekati Rara lalu membangunkan Rara untuk segera bangun dan menjadi saksi pernikahan Bulan dan Ustad Ikhsan.


__ADS_2