
Pagi ini Kahfi sudah bersiap untuk mengantarkan Rara menuju kota Solo untuk melanjutkan studinya di Sekolah Kesehatan sebagai Analis. Sebelum menuju rumah Bunda Andara untuk menjemput Rara, Kahfi berniat untuk menemui Ayumi di rumah Nenek Arsy.
Beberapa minggu lagi tentu suasananya akan berbeda lagi dari sekarang. Ayumi sudah harus memasuki Pondok Pesantren Modern Al Azhar satu minggu sebelum kelas dimulai, untuk perkenalan sekolah dan teman-teman seangkatannya atau disebut sebagai masa orientasi siswa baru.
Kahfi sendiri sudah mulai dengan dunia barunya sebagai mahasiswa. Dunia perkuliahan dan segala kegiatan serta aktivitasnya sebagai mahasiswa tentu akan menyibukkan Kahfi.
Motor besar Kahfi memasuki halaman rumah Nenek Arsy, lalu diparkirkan tepat didepan pagar besi menuju teras rumah.
"Assalamu'alaikum..." ucap Kahfi mengucapkan salam dan mengetuk pintu rumah Nenek Arsy.
"Waalaikumsalam..." jawab Nenek Arsy dari dalam rumahnya.
Terdengar suara anak kunci diputar dan pintu rumah itu terbuka. Wajah cantik di usia senja sedang berdiri di hadapan Kahfi dengan senyuman yang khas.
"Nek, apa kabar? Sehat?" tanya Kahfi kepada Nenek Arsy, lalu mencium punggung tangan Nenek Arsy dengan hormat.
"Alhamdulillah, Nenek sehat dan baik-baik saja. Ada apa, tumben pagi-pagi sudah absen kesini?" tanya Nenek Atau kepada Kahfi.
"Ekhmm ... Ayumi ada?" tanya Kahfi pelan kepada Nenek Arsy.
Nenek Arsy menatap sendu wajah Kahfi, sebenarnya berat untuk berbohong. Namun, ini keinginan Ayumi yang tidak mau menemui Kahfi karena suatu alasan tertentu yang Nenek Arsy sendiri tidak tahu.
"Ayumi, dari pagi pergi dan belum kembali," ucap Nenek Arsy pelan.
"Pergi kemana Nek? Tidak biasanya Ayumi pergi," ucap Kahfi kurang yakin dengan ucapan Nenek.
Kahfi merasa seperti ada yang disembunyikan oleh Nenek Arsy. 'Apakah mungkin ini semua keinginan Ayumi yang tidak mau menemuiku,' batin Kahfi dalam hati.
"Ada apa Nak Kahfi? Nanti Nenek sampaikan kepada Ayumi," ucap Nenek Arsy pelan.
Kahfi terdiam dan berpura-pura berpikir sejenak untuk mencari cara bagaimana bertemu Ayumi. Ada hal penting yang ingin dibicarakan Kahfi kepada Ayumi sebelum mengantarkan Rara.
"Kahfi mau pulang saja Nek. Bilang Ayumi, maaf Kahfi tidak bisa mengantarkan Rara," ucap Kahfi dengan suara yanh agak keras.
Kahfi tahu, Ayumi pasti ada di dalam dan mendengarkan pembicaraan antara Nenek Arsy dan dirinya.
__ADS_1
Mendengar ancaman Kahfi tidak mau mengantarkan Rara, Ayumi berteriak kencang dari dalam rumah.
"Kak Kahfi!!" teriak Ayumi dari dalam rumah.
Sejak tadi memang Ayumi berada dibalik dinding ruang tamu yang menghubungkan dengan teras depan. Niat Ayumi membuat drama dengan Nenek Arsy agar tidak menemui Kahfi lagi.
Terlalu sering bertemu Kahfi membuat perasaan Ayumi menjadi tidak karuan, sering gugup, panik, bingung, berdesir, dan tidak baik untuk olah raga jantung, karena sering berdetak keras tidak sesuai irama yang seharusnya.
Teriakan Ayumi sangat keras dari dalam rumah membuat Nenek Arsy menggelengkan kepalanya pelan, sedangkan Kahfi hanya tersenyum nakal karena sudah berhasil menjebak gadisnya itu dengan cara yang tepat.
"Maafkan Nenek, Nak Kahfi, ini semua kemauan Ayumi, entah ada apa dengan kalian berdua sampai Ayumi tidak mau menemui Nak Kahfi lagi," ucap Nenek Arsy pelan dan merasa bersalah.
Rasanya malu, saat tertangkap basah berbohong. Namun, Nenek Arsy tidak bisa menolak permintaan cucu kesayangannya itu untuk membohongi Kahfi.
Ayumi keluar dari dalam rumah dan duduk di kursi kayu tepat dihadapan Kahfi yang tersenyum lebar.
"Ada apa, bukannya langsung jemput Rara," ucap Ayumi dengan kesal.
Nenek Arsy beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam rumah. Urusannya kali ini adalah urusan anak muda dan Nenek Arsy tidak perlu ikut campur dalam hal ini. Nenek Arsy percaya dan yakin bila Ayumi pasti bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik, dewasa dan bijak.
"Nenek masuk ke dalam dulu, badan rasanya panas dingin," ucap Nenek Arsy pelan kepada Ayumi dan Kahfi yang saling bertatap serius.
"Makasih Nek" jawab Kahfi pelan.
Nenek Arsy menoleh ke arah Kahfi.
"Kok terima kasih?" tanya Nenek Arsy kepada Kahfi.
Kahfi tersenyum sambil menatap Ayumi dan Nenek Arsy bergantian.
"Terima kasih sudah membuat saya berani membuat ancaman nakal untuk cuvu kesayangan Nenek. Akhirnya Ayumi keluar dari persembunyiannya," ucap Kahfi terkekeh pelan.
"Nyebelin Kakak!!" teriak Ayumi kesal can melempar bantal kecil ke arah Kahfi.
Bantal itu dengan sigap tertangkap dengan baik.
__ADS_1
"Gak kena?" ucap Kahfi semakin senang menggoda Ayumi.
"Kalian ini seperti tikus dan kucing saja. Nenek ke dalam," ucap Nenek Arsy meninggalkan keduanya di teras depan rumahnya.
Kahfi menatap tajam ke arah Ayumi setelah Nenek Arsy benar-benar masuk ke dalam rumahnya.
"Biasa aja lihatnya, gak perlu kayak gitu juga," ucap Ayumi dengan kesal saat kahfi menatap tajam seperti itu.
"Kenapa harus berbohong? Kenapa harus menghindar? Apa Kakak punya salah sama kamu, Ay? Malahan Kakak ini mau membantu kamu, untuk membahagiakan Rara seperti kata kamu kemarin," ucap Kahfi kepada Ayumi.
Ayumi terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Kahfi. Tatapannya lurus ke depan ke arah jalan, menghindari tatapan Kahfi yang meminta jawaban kepada Ayumi.
"Kenapa diam, Ay?" tanya Kahfi kepada Ayumi.
Ayumi menghela napas panjang dan menghembuskan napas itu dengan cepat. Rasanya aneh sekali, jika dekat dengan Kahfi Ayumi merasa nyaman, bila berjauhan terkadang rindu dengan keusilannya.
"Jangan paksa Ayumi untuk menjawab hal yang gak penting Kak. Saat ini yang terpenting adalah kesehatan Rara," ucap Ayumi pelan mengingatkan.
"Itu soal gampang Ay. Masalah Rara itu tidak bisa menjadi prioritas Kakak. Bagi Kakak yang terpenting itu adalah kamu! Bukan yang lain, paham?" ucap Kahfi dengan tegas.
"Tidak usah berandai-andai dan tidak perlu merayu Ayumi, itu semua gak mempan Kak," ucap Ayumi pelan.
"Kakak tidak merayu, ini yang Kakak rasakan padamu sejak pertama kali bertemu kamu," ucap Kahfi pelan.
"Apapun alasannya Kak, Ayumi tidak perduli. Saat ini yang Ayumi pikirkan kesehatan Rara dan bagaimana Ayumi sebagai sahabatnya bisa ikut membuatnya bahagia," ucap Ayumi pelan menjelaskan.
"Lalu maumu apa Ay?" tanya Kahfi kepada Ayumi.
"Jika Kakak benar sayang kepada Ayumi, lupakan Ayumi, Kak. Jangan jadikan Ayumi prioritas tapi jadikan Ayumi sebagai rekan kerja yang baik," ucap Ayumi pelan.
"Tidak bisa! Kakak tidak akan pernah menuruti kata-katamu Ay! Kakak akan tetap menjagamu dari jauh, memelihara hati Kakak sampai Kakak lelah mengejarnya karena tidak pernah mendapatkan hatimu Ay," ucap Kahfi dengan lirih.
"Jangan pernah lakukan itu Kak. Lupakan Ayumi! Ayumi milik orang lain walaupun semuanya masih dalam tahap saling menjaga," ucap Ayumi pelan.
"Maafkan Kakak. Kakak tidak bisa melupakan kamu. Kakak sangat berharap kepadamu Ayumi, tapi Kakak juga tidak ingin merebutmu dari Abang Afnan, biarlah semuanya berjalan apa adanya. Semua yang Kakak lakukan demi kamu Ayumi, termasuk urusan dengan Rara," ucap Kahfi dengan tegas.
__ADS_1
Kahfi langsung pergi meninggalkan Ayumi tanpa berpamitan. Keduanya saling bertatapan dan berlalu begitu saja.
Ayumi menatap kepergian Kahfi dengan rasa kecewa. Ada yang hilang rasanya saat tidak ada ucapan terakhir untuk berpamitan. 'Ayumi ini kenapa seperti ini?' batin Ayumi didalam hatinya.