
Waktu terus berjalan hingga akhirnya sampai juga di akhir bulan, waktu yang selalu Ayumi tunggu untuk berangkat ke Mesir.
Semenjak kepergian Rara sahabatnya bersama Kahfi tunangan Rara, Ayumi merasa hambar dan hampa. Kahfi yang selalu ada dan menggoda Ayumi dengan hal-hal konyol atau ucapan-ucapan yang ceplas ceplos membuat Ayumi merasa rindu sosok Kahfi.
Rumah Bunda Icha jadi terlihat sepi sejak kepergian Kahfi. Afnan yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, hingga tidak ada waktu untuk sekedar bicara dari hati ke hati dengan Ayumi.
Ayumi duduk di teras rumah Bunda Icha, menatap saung bunga Bunda Icha yang terlihat indah dan segar.
Teringat beberapa waktu yang lalu, saat Kahfi sedang mencuci motor besar kesayangannya. Menggoda, bercanda, seru-seruan tapi kini Kahfi sudah bahagia dengan kehidupan barunya.
"Ayumi sedang apa? Afnan mana?" tanya Bunda Icha pelan saat datang dari majelis di dekat rumahnya.
"Bunda sudah datang. Kak Afnan pergi ke tempat temannya untuk menyelesaikan tesisnya," jawab Ayumi dengan pelan.
Bunda Icha duduk di sebelah Ayumi dikursi besi berukir di depan teras rumah.
"Kamu rindu dengan Kahfi?" tanya Bunda Icha dengan lembut.
Ayumi menoleh ke arah Bunda Icha menatap wajah Bunda Icha dengan heran.
"Bunda kenapa bertanya seperti itu?" tanya Ayumi pelan.
Bunda Icha tersenyum lebar dan terkekeh pelan.
"Itu yang Bunda lihat, beberapa hati ini kamu terlihat murung dan sedih," ucap Bunda Icha dengan pelan.
"Ayumi hanya rindu kekonyolannya Kak Fi saja, tidak ada hal lain," ucap Ayumi pelan menjawab pertanyaan Bunda Icha.
"Ayumi, Kahfi itu mencintai kamu. Bunda tidak pernah memaksa anak-anak Bunda dalam memilih pasangan hidup, tapi posisinya kedua putra Bunda itu menyukai kamu Ay," ucap Bunda Icha pelan.
"Ayumi sudah memilih Bunda. Ayumi harus menjaga amanah yang diberikan Kak Afnan," ucap Ayumi pelan.
Bunda Icha menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum lebar.
"Jaga Afnan untuk Bunda, biar Kahfi menjaga Rara, kamu paham maksud Bunda kan Ay?" ucap Bunda Icha pelan.
Ayumi tersenyum manis.
__ADS_1
"Pasti Bunda, Ayumi janji," ucap Ayumi pelan.
"Besok berangkat jam berapa Ay?" tanya Bunda Icha pelan.
"Sore Bunda, besok pagi Bulan kesini biar bisa ke bandara bareng," ucap Ayumi pelan.
Sore itu Ayumi berkemas-kemas untuk mempersiapkan apa saja yang akan dibawa ke Mesir selama program pertukaran pelajar.
Waktu tiga bulan adalah waktu yang cukup lama, untuk tinggal di negeri orang.
Mereka harus mencari apartemen sendiri untuk tinggal selama itu. Rencananya Bulan dan Ayumi akan tinggal di apartemen milik Afnan.
Apartemen Afnan terdapat di kamar, satu kamar untuk Afnan dan satu kamar lagi untuk ditinggali Bulan dan Ayumi selama berada disana.
Keesokan paginya Bulan sudah datang dan berkumpul di Rumah Bunda Icha. Bulan datang bersama suaminya, ustad ikhsan yang ikut menitipkan Bulan kepada Afnan dan Ayumi.
Akhirnya perjalanan panjang pun sudah dijalani dengan lancar. Saat ini Afnan, Ayumi dan Bulan sudah berada di Mesir. Mereka sedang dalam perjalanan menuju apartemen Afnan.
"Lelah banget ya Ay," ucap Bulan pelan kepada Ayumi. Tubuhnya akhir-akhir ini mudah lelah dan cape, terkadang terasa mual dan eneg saat makan atau mencium sesuatu yang beraroma menyengat.
"Bulan, kalau dilihat-lihat kamu agak gemukan sekarang," ucap Ayumi pelan.
Kepala Bukan bersandar pada sandaran jok mobil, rasanya pusing dan pening, kepala berputar hebat, mual dan eneg di ulu hati begitu sangat terasa.
Ayumi ikut memijit kening Bulan dengan pelan. Beberapa kali minyak kayu putih di oleskan pada indera penciuman Bulan untuk menghilangkan rasa mual dan eneg.
"Kamu telat datang bulan gak?" tanya Ayumi tiba-tiba teringat saat tetangganya mengidam.
Bulan menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Gak Ay, sekarang aja Bulan lagi datang tamu," ucap Bulan pelan.
Bulan sangat paham dan mengerti kekhawatiran Ayumi jika Bulan telat datang bulan, pasti tandanya positif mengandung.
"Bulan masih suci, Ustad Ikhsan tidak mau menyentuh Bulan lebih jauh, takut Bulan hamil, karena masih sekolah," ucap Bulan pelan dengan polosnya.
Sejak tadi, Afnan menyimak kedua sahabat itu bercerita, lalu terkekeh pelan.
__ADS_1
"Kak Afnan nguping ya, ini pembicaraan wanita tahu," ucap Bulan dengan kesal karena obrolannya disimak oleh Afnan.
"Kak Afnan itu gak nguping, kalian aja yang ngobrolnya terlalu kencang. Bulan berarti belum malam pertama dong?" tanya Afnan pelan menggoda Bulan yang sudah memerah wajahnya.
"Kak Afnan, Bulan malu ini," ucap Bulan pelan sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kak Afnan, sudah cukup, kasihan Bulan sampai malu begitu," ucap Ayumi dengan pelan.
"Iya tuan putri," ucap Afnan pelan masih terkekeh geli.
"Masih jauh Kak Afnan, Ay kebelet mau ke kamar mandi," ucap Ayumi pelan.
"Sebentar lagi, tahan dulu ya," ucap Afnan pelan.
Ayumi menganggukkan kepalanya pelan. Tidak sampai sepuluh menit, mobil sewaan yang mereka tumpangi sampai di depan gedung bertingkat.
"Hayuk, turun semua, sudah sampai," ucap Afnan sedikit keras mengangetkan Bulan dan Ayumi yang mulai merasakan ngantuk.
Mereka bertiga turun dengan membawa koper dan tas besar masing-masing. Afnan menuju lobby dan meminta tolong pada office boy untuk membantu membawa beberapa koper dan tas besar ke lantai tiga.
"Selamat datang di kamar yang sederhana ini," ucap Afnan pelan.
Apartemen yang sederhana namun elegan, dengan furniture yang unik dan terlihat kuno. Apartemen ini dipilih karena jarak menuju kampus Afnan sangat dekat, bisa dijangkau dengan berjalan kaki sekitar lima belas menit.
"Wah ini keren banget Kak Afnan," ucap Bulan dengan takjub.
"Iya keren banget, bahkan sangat keren," ucap Ayumi pelan menatap berkeliling ke seluruh ruangan.
Ayumi berjalan menuju jendela besar yang memberikan pemandangan kota Mesir di sore hari yang begitu indah.
"Bagus ya, suatu hari kita akan berdiri disini lagi dengan status yang berbeda," ucap Afnan setengah berbisik tepat di dekat telinga Ayumi.
Ayumi terkejut dengan kedatangan Afnan yang secara tiba-tiba dan berbisik lembut membuat bulu kuduk menjadi berdiri karena merinding.
"Kak Afnan, bikin kaget Ayumi aja," ucap Ayumi pelan dan tersenyum.
"Masih mau mengejar cita-cita? Tidak mau seperti Bulan, Kakak bisa kok menahan nafsu seperti Ustad Ikhsan, asa tetap ada kamu disamping Kakak," ucap Afnan pelan, lagi-lagi berbisik lembut tepat ditelinga Ayumi yang tertutup hijab.
__ADS_1
Rasanya merinding dan melayang ke ujung angkasa, dirayu dan digombalin itu salah satu kesukaan para kaum hawa, asal jangan terlalu lebay dan mengada-ngada atau memaksakan kehendak.
"Hanya waktu yang bisa menjawab Kak Afnan, karena Ayumi tidak mau terlalu berharap jika disaat Ayumi berharap namun tidak mendapatkan itu pasti akan menyakitkan," ucap Ayumi pelan menatap Afnan yang berada disampingnya.