
Suasana ketegangan berpindah dari ruang makan ke ruang keluarga. Semua orang duduk tegak dan menyimak obrolan antara Kyai Toha dan Pak Sukoco.
Mereka berdua sudah bersahabat lama, dan berniat untuk menjodohkan salah satu anak mereka, agar tali silaturahmi bisa terjalin lebih erat ketika mereka saling menjadi besan.
Rencana awal memang akan menjodohkan Afnan dan Zura. Setelah dipertemukan keduanya, Zura langsung memiliki rasa simpatik kepada Afnan. Namun, nyatanya saat ini Afnan malah menolak dengan alasan ada hati yang dijaga sudah sejak lama.
"Lalu bagaimana ini?" ucap Pak Sukoco dengan geram kepada Kyai Toha.
"Sabarlah dulu, jangan terbawa emosi," ucap Kyai Toha dengan santai dan lembut.
"Toha, kamu itu dari dulu selalu santai, santai dan santai! Aku mana bisa sepertimu!" tegas Pak Sukoco kesal.
"Itulah aku! Kita bersahabat sudah lama, jangan kamu gadaikan persahabatan kita dengan masalah anak-anak kita," ucap Kyai Toha dengan penuh kelembutan.
"Sabar aja yang kamu utamakan sejak dulu," ucap Pak Sukoco yang semakin jengkel kepada Kyai Toha.
"Tarik napas dalam-dalam dan keluarkan perlahan, Sukoco! Tenangkan pikiranmu, semua ada hikmah dan jalan keluarnya. Tidak perlu kamu risau, Sukoco," terang Kyai Toha dengan suara halus.
Saat api berkobar maka siramlah air agar padam dengan cepat, bukan malah ditiup atau ditutup kain atau bahkan disiram oleh minyak tanah.
Jadilah seseorang yang bisa mendinginkan hati dan pikiran seseorang saat seseorang itu sedang dikuasai nafsu amarah. Setan itu dengan mudahnya hadir dan membisikkan hal-hal buruk yang di luar nalar kita, hingga terkadang terjadi sesuatu hal yang seharusnya tidak perlu terjadi dan penyesalan hanya menghiasi pertobatan yang semu.
"Kamu sudah ada solusinya Toha?" ucap Pak Sukoco. Hatinya masih kecewa dan kesal pada keluarga sahabatnya ini.
"Aku masih punya anak laki-laki satu lagi, dan kamu masih memiliki putri cantik, mereka bisa kita jodohkan," ucap Kyai Toha pelan.
"Maksudmu Kahfi dan Rara?" ucap Pak Sukoco pelan.
Tubuh Pak Sukoco mulai tenang tidak tegang seperti tadi. Disenderkan tubuh itu ke sandaran sofa agar tubuh, dan pikiran Pak Sukoco makin tenang dan semakin rileks. Kedua matanya dipejamkan dan kedua tangannya dilipat didepan dada. Seperti tampak berpikir namun, suara dengkuran halus pun terdengar membuat seisi ruang keluarga itu tersenyum dan terkekeh.
__ADS_1
"Astagfirullah... Sukoco! Malah tidur, kita lagi membahas hal penting, kamu malah tertidur?" ucap Kyai Toha yang kesal.
Pak Sukoco nampak kaget dengan suara keras telat di samping telinga Pak Sukoco hingga Pak Sukoco terlonjak dari tidurnya dan terduduk tegak. Kepalanya pening saat harus dibangunkan secara paksa seperti itu.
"Kamu kebiasaan Toha, jadilah aku pusing," ucap Pak Sukoco menahan rasa sakit kepalanya.
Melihat tidak ada akhir dari masalah ini, Afnan pun angkat bicara kembali.
"Maafkan saya Pak Sukoco karena tidak bisa menerima Zura sebagai calon istri saya mau dijodohkan atau melalui ta'aruf semua hasilnya saya tidak bisa melanjutkan hubungan ini," ucap Afnan dengan tegas mengakhiri semuanya.
Zura menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju. Zura beranjak dari duduknya dan berdiri dengan sikap kesal.
"Apa kurangnya Zura, Kak Afnan? Sebutkan biar Zura bisa memperbaiki diri Zura," ucap Zura dengan nada memohon.
Zura berharap Afnan membatalkan rencananya itu dan kembali menerima tawaran ta'aruf tersebut.
Bunda Icha, Kahfi, Ayumi dan Rara menyimak dari balik dinding ruang makan. Ayumi merasa sangat sedih, bisa merasakan perasaan sebagai perempuan yang ditolak mentah-mentah oleh pria yang sangat dia harapkan.
Kahfi hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu tanpa memperdulikan Bunda Icha yang masih menunggu jawaban Kahfi secara lisan. Pikirannya melayang kesal dengan situasi dan kondisi yang tidak bersahabat untuk dirinya.
'Kahfi sakit mendengar Abang mengungkapkan rasa cinta Abang pada Ayumi. Kenapa Bang?' batin Kahfi dalam hatinya.
"Fi! Bunda itu tanya sama kamu? Malah melamun? Kamu itu kenapa, Fi? Kok, Bunda lihat kamu itu berubah aneh hari ini?" tanya Bunda kepada Kahfi yang masih terdiam.
Melihat Kahfi yang dipojokkan oleh Bunda Icha, Rara membelanya dengan berucap, "Lagi patah hati Bunda, Rara udah bilang, kalau patah hati, Rara siap mengobati."
Ucapan Rara membuat Bunda Icha tidak berkedip. Seakan tubuhnya ikut melayang berpikir maksud ucapan Rara.
"Maksud Rara apa? Bunda kok malah jadi gak paham?" tanya Bunda kepada Rara.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih Ra? Ikut campur urusan orang aja. Pikirin tuh diri kamu sendiri sebelum mengurusi hidup orang lain," ucap Kahfi dengan ketus lalu meninggalkan ketiganya di ruang makan.
Kahfi berjalan menuju kamarnya. Hatinya kesal, kecewa ditambah dibuat dongkol oleh Rara. 'Kenapa harus kamu Ayumi!' jerit Kahfi dalam hatinya.
Napasnya terengah-engah karena menahan emosi batin. Tubuhnya direbahkan dikasur empuk itu untuk mencari kenyamanan, hingga matanya ikut terpejam dan terlelap dalam kelelahannya.
Situasi di ruang keluarga masih sama seperti tadi.
"Kamu sempurna Zura. Lelaki mana yang tidak mau denganmu? Kamu cantik, pintar, sholehah, dan tegas," ucap Afnan kepada Zura.
"Lalu? Kenapa laki-laki seperti kamu malah menolak Zura? Kak Afnan mencari wanita yang seperti apa?" tanya Zura makin meradang.
"Istighfar Zura. Kamu tidak boleh sombong dengan apa yang kamu miliki. Ingat kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Kamu hanya menyerupai sempurna, tapi bagiku kamu itu sudah sempurna," jelas Afnan kepada Zura.
"Aku tidak perduli apapun Kak Afnan. Aku harus menang dari Ayumi!" teriak Zura dnwgan keras.
"Jangan gila kamu Zura!" bentak Pak Sukoco kepada putri sulungnya itu.
"Kenapa Ayah diam saja! Kenapa Ayah tidak membela Zura? Kenapa Ayah?" teriak Zura histeris.
Matanya telah basah karena leleran air mata yang terus jatuh ke pipi Zura. Rasanya tentu sakit sekali, saat Zura sudah berharap lebih kepada Afnan.
Sikap baik, ramah, perhatian, menghargai dan sayang Afnan kepada Zura itu disalahgunakan. Dari awal Afnan hanya menganggap Zura sebagai adiknya, bukan calon kekasih halalnya.
Cinta itu tidak bisa dipaksakan, tapi cinta itu hadir karena terbiasa.
Zura sudah berada di zona nyaman bersama Afnan. Kebersamaan mereka selama dua tahun, ternyata tidak mengubah perasaan Afnan sedikitpun untuk bisa mencintai Zura. Bukan sulit, tapi memang tidak cinta, tidak ada geregetnya, tidak ada hati yang bergetar, tidak ada aliran darah yang berdesir, semuanya hampa dan terasa biasa saja tanpa ada yang spesial.
"Ijinkan aku ada di hatimu Kak Afnan?" ucap Zura lirih dan menangis.
__ADS_1
Zura menjatuhkan dirinya seperti orang yang mau bersujud. Duduk dengan bertumpu pada kedua kakinya.
Air matanya masih deras. Afnan hanya menatap Zura dengan iba. Kasihan tentu ada tapi rada kasihan itu tidak bisa mengubah perasaan Afnan kepada Zura.