Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
143


__ADS_3

Dua jam kemudian, Duta dan Yumna berpamitan dari rumah Pak Candra dan Bu Maheswari pemilik paviliun yang mereka sewa. Tak terasa kalau bicara ngalor ngidul hingga waktu semakin larut.


Duta berjalan menggandeng Yumna dan mengajak gadis kesayanagnnya itu keluar dari halaman rumah besar itu. Yumna melirik ke arah Duta dan menatap lekat wajah suaminya dari samping yang terlihat sangat serius sekali.


"Kita mau kemana, Kak?" tanya Yumna lembut.


"Jalan -jalan aja. Sambil mau dengerin bumil cerita. Tadi kayaknya serius banget ngobrolnya sama Bu Mahes," ucap Duta yang melirik sekilas ke arah Yumna dan mengedipkan satu matanya pada gadis kesayangannya.


Yumna hanya tersipu malu. Paling tak tahan dengan kedipan mata Duta yang membuat dirinya selalu salah tingkah sendiri.


"Cerita apa? Gak ada yang seru. Hanya pembahasan tentang wanita saja," ucap Yumna pelan dan menatap ke arah depan dengan tatapan kosong.


Pikirannya mulai melayang teringat pesan Bu Maheswari tadi. Bibir Bu Maheswari yang membulat dan berucap dengan kata -kata yang begitu manis dan sangat lembut sekali.


"Masih gak mau cerita?" tanya Duta mengusap punggung tangan istrinya pelan sambil berjalann santai.


"Hanya berpesan untuk tidak selalu ingin tahu saja," ucap Yumna pelan.

__ADS_1


"Apa maksudnya? Kita baru sehari di rumah ini. Sama sekali tidak pernag ikut campur urusan mereka, bukan?" tanya Duta menetap lekat Yumna.


Yumna hanay mengangguk kecil menyetujui ucapan Duta baru saja.


"Yumna juga gak paham. Tadi pagi, Bu Mahes yang datang ke rumah. Tapi, kenapa jadi Yumna yang malah kenapa Yumna yang seolah ingin tahu soal mereka," ucap Yumna lirih.


"Ohh gitu. Ya sudah, biarkan saja. Itu ada es krim, mau gak?" tawar Duta pada istrinya. Duta tahu, es krim adalah makanan kesukaan istrinya.


"Mau Kak. Mau banget. Kalau ada yang rasa mangga. Yumna lagi pengen yang asem -asem," ucap Yumna memilih.


"Yuk. Kita cari es krim rasa mangga. Ada atau gak," ucap Duta pelan.


"Ada sayang. Gimana? Mau makan disini atau di bungkus saja?" tanay Duta pelan.


"Mangganya kita makan di jalan, yang leci di bungkus ya, Kak," pinta Yumna dengan senyum berbinar.


"Nanti sakit perut gak? Kakak gak mau malah kamu sakit. Kamu kan mau masuk kuliah, Na," ucap Duta menasehati.

__ADS_1


"Aman Kak. Ini kan maunya dede utun," ucap Yumna memeluk erat lengan Duta.


Duta memesankan dua es krim untuk Yumna.


"Duta?" panggil Om Wisnu pada Duta yang berdiri di depan kedai es krim itu.


Yumna juga berada tepat di samping Duta.


"Ehhh ... Om Wisnu. Maaf Om, Duta tadi gak lihat, Om Wisnu beli es krim juga," ucap Duta denagn sopan.


"Gak apa -apa. Sama siapa? Adiknya?" tanya Om Wisnu bercanda.


"Ini Yumna, Om, istri Duta, bukan adik Duta," ucap Duta memperkenalkan Om Wisnu pada Yumna dan begitu sebaliknya. Namun, baik Yumna dan Om Wisnu saat berjabat tangan seperti pernah saling melihat sebelumnya tapi entah dimana keduanya lupa.


"Yumna, Om," ucap Yumna memeperkenalkan diir.


"Wisnu. Cantik juga istrimu, Ta," goda Om Wisnu pada Duta.

__ADS_1


"Om Wisnu bisa saja. Lagi ngidam Om," ucap Duta pelan.


"Ohhh ... Lagi melendung. Pantas cantik banget. Biasanya kalau wanita hamil itu, aura kecantikannya keluar. hati -hati, banyak yang suka. Jangan sering -sering di tinggal. Canda Ta. Tapi itu kata pepatah orang tua. Menurut Om sih, banyak benarnya," kekeh Om Wisnu sambil emnatap Yumna lekat untuk mengingat pernah bertemu dimana dnegan Yumna sebelumnya.


__ADS_2