
Duta terus memijit kedua kaki Yumna hingga istri mungilnya itu tertidur pulas. Melihat istrinya sudah tertidur, Duta langsung menyelimuti tubuh istrinya hingga ke bagian dada. Lalu membawa gelas kosong dan mencuci perabotan kotor yang di pakai untuk makan malam tadi. Paling tidak, Duta meringankan pekerjaan istrinya agar tidak terlalu lelah besok pagi.
Setelah itu Duta merendam cucian pakaian di ember besar. Besok pagi- pagi sewwaktu mandi, Duta bisa sambil mencuci dan Yumna yang emnjemur pakaiannya.
Duta kembali ke kamar lalu beringsut naik ke atas kasur. Lalu merebahkan tubuhnya tepat di samping tubuh mungil istrinya. Duta memeluk Yumna dan menatap wajah Yumna dari samping dengan tangan mengusap pipi gembil Yumna.
"Kenapa sih di lihatin mulu," ucap Yumna tiba -tiba yang belum tertidur. Yumna memindahkan posisi tidurnya menjadi miring hingga keduanya kini saling menatap dan berhadapan.
Duta mengulum senyum, tangannya masih memeluk tubuh Yumna. Kini tangannya berada di pingga Yumna.
"Kebangun karena keganggu?" tanya Duta lembut.
"Gak. Emang dari tadi belum bisa tidur. Pas di pijitin tadi enak, agak ngantuk. Tapi ... Kok pas udah selesai, Yumna merasa gak ngantuk lagi," ucap Yumna lembut.
__ADS_1
"Mau di pijitin lagi?" tanya Duta kembali.
"Gak Kak. Mau di peluk aja, biar terasa nyaman," cicit Yumna sedikit manja.
"Ya sudah, sini tidur dekat Kakak, biar Kakak peluk sampai kamu benar -benar tidur," ucap Duta smbil merentangkan kedua tangannya lalu memeluk Yumna dengan sangat erat. Yumna pun beringsut mendekap Duta dan menggunakan tangan Duta sebagai bantalan kepalanya.
Benar saja tak sampai sepuluh menit, Yumna pun pulas tertidur hingga pagi.
***
"Hallo, Bunda ... Ada apa?" tanya Duta dnegan suara sedikit parau karena baru saja bangun tidur.
"Duta ...," ucap Bunda Sinta sambil menangis.
__ADS_1
"Bunda? Ada apa Bunda?" tanya Duta dengan cepat sambil bangkit dari tidurnya dan duduk tegak di atas kasur.
"Hallo ... Ta ... Gue cuma mau ngabarin. Aya meneinggal baru saja karena serangan jantung. Lo sama Yumna gak usah pualng gak apa -apa. Gue tahu kalian baru banget disana. Ini mau di makamkan, gue harap lo bisa jagain Yumna dengan baik. Dia pasti histeris denger ini, jangan sampai kandungannya kenapa -kenapa," titah Jone pada Duta.
"Kak ... Duta bangunkan Yumna dulu. Biar jelas ya," ucap Duta makin bingung.
"Gak usah. Gue mau ngurus pemakaman Ayah. Tolong jaga Yumna, Ta," ucap Jone pada Duta lalu mematikan sambungan teleponnya begitu saja.
Duta termangu dan diam sejenak. Duta tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Duta melirik sekilas ke arah Yumna yang masih tertidur pulas dan bahkan tidak terganggu sama sekali dengan keberisikan Duta tadi menerima teleponnya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Memberitahu pada Yumna? Atau tidak memberitahukan berita duka itu?" tanya Duta di dalam hatinya. Duta tidak ingin membuat Yumna histeris dan terjadi sesuatu pada kandungannya.
Butuh waktu yang pas untuk memberitahukan Yumna. Situasinya sangatlah tidak mendukung jika di beritahukan pagi -pagi buta seperti ini. Apalagi Duta harus ke kantor dan ada kerjaan yang harus di selesaiakn siang ini juga untuk di presentasikan di depan klien.
__ADS_1
Duta makin pusing dan bingung. "Kak Duta? Sudah bangun?" tanya Yumna yang terbangun karena tangannya terasa hampa tak memeluk tubuh Duta.