Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
18


__ADS_3

Kedatangan Afnan ke rumah Nenek Ayumi, bukan sekedar bermain-main tetapi Afnan Memiliki maksud dan tujuan tertentu. Afnan berusaha mendekati Nenek Arsy sebelum akhirnya akan mengungkapkan secara jujur perasaannya kepada Ayumi.


Sebelum Ayumi datang, Afnan sudah sempat meminta maaf kepada Nenek Arsy bahwa kedatangannya akan mendekati Ayumi. Afnan mengungkapkan semua isi hatinya yang sudah menyayangi Ayumi sejak kejadian sepuluh tahun lalu. Cinta itu terus dipupuk hingga saat ini dan tidak pernah berubah.


Perbedaan usia yang cukup jauh antara Afnan dan Ayumi juga tidak menjadi masalah bagi Afnan. Menurut Afnan, Ayumi adalah segalanya dan jodoh yang terbaik baginya.


Ayumi masih menyenderkan kepalanya di lengan Nenek Arsy. Kenyamanan yang sama seperti Ayumi sedang bermanja-manja dengan Bunda Alisha.


"Ayumi, ada Nak Afnan. Nenek mau ke dalam dulu. Nenek tinggal sebentar," ucap Nenek Arsy pelan menatap Ayumi dan Afnan secara bergantian.


"Iya Nek. Nenek istirahat dulu. Nanti 'Ayumi pijit lagi kaki Nenek seperti kemarin," jawab Ayumi dengan sopan.


Nenek Arsy sudah masuk ke dalam rumah meninggalkan Afnan dan Ayumi hanya berdua di teras rumah.


"Diminum Kak Afnan," ucap Ayumi singkat saat menatap minuman yang sudah dibuatkan Nenek belum juga tersentuh oleh Afnan.


"Iya Ayumi," jawab Afnan pelan dan meneguk teh manis hangat itu hingga habis setengah gelas.


"Bocor Kak?" ucap Ayumi terkekeh saat melihat isi cangkir teh yang sudah tinggal sedikit.


"Lebih tepatnya haus, grogi sama Nenek Arsy. Soalnya Kakak kemari mau ngapelin kamu Ayumi," ucal Afnan pelan menjelaskan.


Afnan dengan sengaja menyentil kata-kata yang sedikit menjurus untuk mendekati Ayumi. Afnan ingin melihat respon Ayumi saat Afnan mencoba untuk mengenali Ayumi lebih dalam lagi.


"Kak Afnan gak salah? Mau ngapelin Ayumi? Lalu Kak Zura gimana Kak?" tanya Ayumi setengah menyelidik karena penasaran dengan hubungan keduanya.

__ADS_1


"Kedatangan Kakak kesini sebenarnya ada beberapa hal yang ingin Kakak sampaikan. Hal yang pertama, ta'aruf itu memang benar adanya, tapi Kakak tidak bisa menerimanya dengan alasan ada hati yang harus Kakak jaga. Kakak mencintai gadis lain, dan Kakak tidak bisa membuka hati untuk yang lain," ucap Afnan menjelaskan dan terhenti karena menarik napas dalam-dalam.


Mengungkapkan suatu keadaan yang sebenarnya itu tidaklah mudah. Ada perasaan pro dan kontra di dalam batinnya. Tapi suatu kejujuitu sangat penting di kala kita ingin melangkah serius dan lebih jauh dengan seseorang di kemudian hari.


Ayumi menatap Afnan dengan pandangan yang masih penasaran.


"Lalu yang kedua apa?" tanya Ayumi dengan cepat karena penasaran.


"Hal yang kedua adalah Kakak sangat mencintai kamu Ayumi, boleh Kakak dekat dengan kamu, dan menjadi bagian yang terpenting dalam hidup kamu?" ucap Afnan dengan jelas dan sedikit ragu.


Hatinya terasa lega saat telah mengungkapkan hal yang terpenting ini dalam hidupnya sudah sejak lama. Diterima atau tidak itu masalah nanti, yang jelas Afnan hanya berusaha jujur dengan perasaannya sendiri.


Ayumi menatap lekat kedua bola mata Afnan untuk mencari kebohongan atau mencari kemodusan disana, tapi semakin dalam ditatap, Ayumi tidak melihat unsur negatif dari sorot mata Afnan. Semuanya tentang ketulusan dan kasih sayang tanpa pamrih.


Ayumi menegakkan duduknya dan menghela napas. Ayumi tidak menjawab, hanya satu yang ada dalam pikiran Ayumi. 'Ayumi harus bagaimana, memilih adalah hal yang tersulit disaat ada dua pilihan dan itu semua bukan menjadi pilihan namun harus terpilih,' batin Ayumi di dalam hati.


Setiap orang yang telah mengungkapkan rasa cintanya tentu menginginkan suatu balasan yang sama bukan perasaan yang bertepuk sebelah tangan.


"Apa yang harus Ayumi jawab Kak. Bukankah tadi siang Ayumi sudah mengungkapkan perasaan Ayumi dengan jujur," ucap 'Ayumi yang mencelos begitu saja dari bibirnya tanpa aba-aba.


Mendengar jawaban Ayumi, senyum Afnan mengembang.


"Kakak senang mendengarnya, itu tandanya kamu menerima Kakak untuk menjadi bagian terpenting kamu Ayumi?" tanya Afnan memastikan kembali.


Ayumi hanya tersenyum datar, seharusnya ini adalah kata-kata yang selalu ingin Ayumi dengar sejak dulu. Afnan datang dan mengungkapkan cintanya kepada Ayumi. Tapi kenapa ini terasa biasa saja, kenapa Ayumi lebih berat kepada cita-citanya bukan kepada cinta pertamanya.

__ADS_1


"Kak Afnan, maaf mungkin saat ini bukan waktu yang tepat untuk lebih memilih perasaan dan cinta, walaupun memang Ayumi memiliki perasaan yang sama dengan Kak Afnan. Jujur, Ayumi bahagia, senang, dan haru. Pernyataan ini yang Ayumi ingin dengar sejak dulu. Tapi saat ini kondisinya sudah berbeda, Ayumi harus lebih fokus untuk masa depan Ayumi. Ayumi masih ingin mengejar cita-cita Ayumi," ucap Ayumi pelan menjelaskan panjang lebar tentang isi hatinya.


Afnan menyimak dan mendengarkan pernyataan Ayumi dengan seksama. Hatinya kecewa karena apa yang selama ini Afnan pertahankan tidak dapat Afnan dapatkan.


"Kenapa Ayumi? Bukankah kita sama-sama saling mencintai? Kenapa tidak kamu terima saja cinta Kakak ini," tabya Afnan merajuk.


Ayumi menghembuskan napasnya pelan, hatinya juga sakit menolak seperti ini, ini bukan jawaban yang Ayumi inginkan.


"Ayumi ingin menjadi dokter Kak. Ayumi ingin membuat bangga Nenek. Ayumi ingin fokus dengan pendidikan Ayumi," ucal Ayumi terbata-bata.


Mata Ayumi basah, terlihat jelas ini bukan jawaban dari hati yang sebenarnya.


"Ayumi lihat Kakak. Semuanya bisa berjalan beriringan, cita-cita kamu dengan cinta kamu juga. Kakak akan selalu berusaha menjadikan kamu prioritas dan membantu kamu semaksimal mungkin," tegas Afnan meyakinkan Ayumi.


"Bukan hal yang mudah Kak. Ayumi masih labil untuk menjalani sesuatu yang lebih serius. Ayumi gak mau salah satunya akan berhenti ditengah jalan sebelum mencapai finish. Menjalani dua hal yang kita sukai itu tidak mudah," jawab Ayumi dengan bijak.


Usia Ayumi memang masih muda tapi jalan pikirannya sudah dewasa. Ayumi menjadi dewasa sejak ditinggalkan oleh kedua orangtuanya.


Afnan hanya bisa menatap Ayumi tanpa bisa meraih hatinya walaupun hati Ayumi sudah bisa diraihnya.


"Kak Afnan, kalau Kakak sabar, tunggulah Ayumi. Tapi, kalau Kakak tidak sabar, tinggalkan 'Ayumi, jangan buat Ayumi untuk berharap lebih dalam lagi. Pilihan Ayumi saat ini untuk fokus pada pendidikan," ucap Ayumi pelan.


Wajah Ayumi menunduk, hatinya perih seperti teriris, jantungnya ikut berdegup kencang.


"Apa kamu tidak ingin merubah jawabanmu Ayumi? Demi Kakak? Demi cinta kita?" tanya Afnan yang masih terus berharap.

__ADS_1


"Jangan mengejar nafsu setan. Tapi kejarlah cintanya Allah SWT. Kakak lebih paham untuk hal ini. Ayumi masuk dulu Kak, sudah malam, assalamu'alaikum," ucap Ayumi pelan lalu meninggalkan Afnan di teras sendirian.


Ayumi masuk ke dalam rumah dengan wajah menunduk. Tangisnya tertahan agar tidak tumpah di depan Afnan. Ayumi setengah berlari dan segera masuk ke dalam kamarnya.


__ADS_2