Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
149


__ADS_3

Tepat pukul enam pagi, Martini sudah datang ke rumah Lola. Ia datang dan mengetuk pintu depan. Lola pun membukanya.


Pagi ini, Lola memang bangun lebih pagi. Seperti biasa, Mas Drajat selalu minta jatah hariannya. Setelah adzan shubuh, Lola mandi dan menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"Martini, Saya sudah nunggu dari tadi. Ayo masuk," pinta Lola pada Martini.


"Iya Bu," jawab Martini sopan.


"Kamu sudah pindah?" tanya Lola pada Martini dan menutup pintu ruang tamu.


"Sudah Bu. Tadi malam saya langsung pindah. Kebetulan ada kost dekat sini, pinggiran perumahan ini. Jalan kaki sekitar lima belas menit," ucap martini pelan.


"Ohh ... Syukurlah. Tenang aja, kalau kerjamu bagus. Gajimu aku tambah. Mungkin malah bisa kerja selamanya di sini. Tapi aku lihat selama tiga bulan ini ya," titah Lola pada Martini.


"Iya Bu. Terima kasih banyak," jawab Martini senang.


Lola dan Maryini mulai akrab, kini Lola muali mengajarkan Martini menggunakan beberapa alat elektronik yang akan di pakai Martini selama bekerja di rumah ini. Mulai dari memakai mesin cuci lalu mengeringkan, dan menjemur di taman samping lalu jemuran kering masuk di ruangan kecil untuk di seterika. Lalu cara menggukan alat sedot debu dan alat pel yang super ekonomis namun cepat bersih.


Terakhir, Martini di ajarkan untuk merapikan rumah. Mulai dari membersihakn kamar mandi, dan emncuci piring. Martini tidak di suruh untuk memasak. Karena Lola akan pesan katering selama dia pergi. Selain itu, kamar tidur akan terus di kunci selama Drajat ke kantor.


"Kamu mengerti? Ada yang belum ngerti? Besok kita belajar lagi. Sekarang kamu coba mencuci pakaian menggunakan mesin cuci. Kalau masih bingung di catat, biar gak lupa, tombol mana saja yang harus di tekan," ucap Lola pada Martini.


"Iya Bu. Saya akan coba sekarang. Nnati kalau saya ada kesulitan, saya minta tolong Ibu lagi. Permisi," ucap Martini pelan.


Baru saja Martini membalikkan tubuhnya menuju belakang. Drajat memanggil Lola.


"Sayang? Seragamku di mana?" panggil Drajat sambil memakai piyama handuk menghampiri Lola. istrinya. Drajat tidak tahu, kalau Lola sedang ada tamu. Drajat mengusap rambutnya dengan handuk kecil.


"Mas ... Ada orang lho. Kamu gak malu?" ucap Lola pada Drajat.

__ADS_1


Drajat langsung menurunkan handuknya dan betapa terkejuta saaat melihat Martini ada di depannya.


Kedau matanya tak berkedip, ada sedikit rasa bersalah terhadap wanita yang kini ada di depannya.


"Heii ... Kenapa lihatnya begitu. Dia Martini, asisten rumah tangga yang mau bekerja di sini," ucap Lola pelan.


"Permisi Pak, Bu," pamit Martini segera ke belakang.


Dada Martini bergemuruh tak menentu. Jantungnya terus terpacu untuk berdegup keras hingga dadanya sedikit sesak.


Lelaki yang selama ini ia cari, kini ada di depan matanya sendiri. Lelaki yang yang ia cintai dan pernah merenggut kesuciannya dulu akhirnya ia temukan. Lelaki yang memintanya untuk menunggu dan akhirnya tak pernah kembali akhirnya muncul tanpa di minta.


Kedua mata Martini basah, antara senang sekaligus benci. Lelaki itu berdusta dan berhasil membohonginya menath -mentah. Ia terpaksa menunggu lelaki itu namun, lelaki itu malah sudah menikah dengan perempuan lain.


Drajat masih takjub dengan kehadiran Martini dalam hidupnya kembali. Memorinya kembali mengingat kisah cintanya saat SMA dulu.


Satu hal yang yang paling Drajat ingat dari Martini. Tubuhnya selalu menghangatkan Drajat. Drajat memejamakan kedua amtanay. 'Apa -apaan ini. Aku sudah memiliki Lola, yang jauh lebih cantik, lebih seksi dan lebih sempurna di bandingkan martini.'


"Ahh enggak. Gak ada apa -apa. Siapa tadi namanya?" tanay Drajat pura -pura tidak tahu namanya.


"Martini, Mas. Kayaknya dia juga satu kampung sama kamu, Mas? Kamu gak kenal?" tanya Lola pelan.


"Gak kenal. Lagi pula kan, aku udah lama di sini. Tapi aku gak punya temen namanya Martini. Gak banget namanya," ucap Drajat pelan langsung pergi begitu saja meninggalkan Lola yang masih bingung. Sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi di masa lalu?


***


Drajat dan Lola sudah berada di dalam mobil. Pagi ini, Drajat akan mengantarkan Lola dan sore annti akan menjeput Lola kembali.


"Sayang ... Bulan depan aku ada proyek di Bandung. Kayaknya sekitar dua minggu. Rumah aman kan?" tanya Drajat pelan.

__ADS_1


"Aman lah. Kamar tidur ettep di kunci. AKu gak mau ada yang masuk ke kamar kita selain kita berdua," tegas Lola.


"Iya sayang," jawab Drajat pelan.


Drajat sudah emnurunkan Lola tepat di depan gedung kantor Lola. Beberapa hari lagi, Lola sudah tidak ada dis ini lagi. iga bulan kembali, ia sudah menjadi manajer.


Drajat langsung memutar kembali setir mobilnya. Ia penasaran dengan hadirnya Martini. Bisa -bisanya datang ke rumah ini dan bekerja sebagai asisten rumah tangga.


***


"Martini!!" teriak Drajat saat masuk ke dalam rumahnya kembali.


Drajat mendapati Martini sedang melihat foto pernikahan Drjat bersama Lola.


Martini menoleh ke arah Drajat yang sudah ia yakini, lelaki itu pasti akan kembali untuk menemuinya. Martini menoleh ke arah Drajat dan tersenyum kecut.


"Gak usah berjanji kalau kamu gak bisa menepatinya? Kita memang gak pernah punya restu dari orang tau kamu. tapi seharusnya kamu punya rasa tanggung jawab yang besar, setelah menggugurkan kandungan aku, Mas Drajat!! Kamu paksa aku, kamu rayu aku, sampai aku menggilai kamu. Kau pikir kamu lelaki baik, ternyata sama sekali gak," ucap Martini dengan suar keras. Ia kecewa setengan mati. Masa penantiannya begitu sia -sia.


Drajat langsung memeluk Martini. Gadis itu memang dari kampung, tapi terlihat manis dan kulitnya sawo matang. Memang tidak sesempurna Lola, tapi Martini memiliki daya tarik tersendirii bagi Drajat.


"Maafkan aku, Martini. Aku tidak bermaskud untuk meninggalkan kamu. Kamu tahu kan, aku mencintai kamu," ucap Drajat pelan.


"Kamu bohong Mas. Kalau kamu cinta aku, kamu pasti kembali, apappun itu alasannya, bukan malah menikah dengan wanita lain," tegas Martini sambil mendorong tubuh Drajat.


"Aku sedang berjuang, untuk memiliki keturunan dari Lola. Setelah aku berhasil, aku berencana meninggalkannya dan mencari kamu kembali. tolong percaya aku!!" ucap Drajat merayu.


Martini menatap lekat dua bola mata Drajat. Rasanya sihir cinta mulai membuat hati Martini kembali luluh. Martini yang sangat mencintai Drajat, dan Drajat yang gila akan tubuh Martini. Tidak akan lama membuat Martini kembali laagi dalam pelukannya dan mempercayai smeua ucapannya.


"MAs Drajat yakin? mau menikahi Martini?" tanay Martini pelan masih ada keraguan di hatinya.

__ADS_1


"Yakin sayang," ucap Drajat pelan.


Keduanya berpelukan. Drajat tak menyia -nyiakan waktu yang ada. Bbeerapa tahun tak bertemu Martini membuat lelaki itu rindu akan belaian dan sentuhan hangat Martini.


__ADS_2