
Fika hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia sendiri juga ragu dengan ucapan wanita yang nampak histeris tapi tersirat senyuman lebar.
"Gak percaya juga sih. Lagi pula emang ada OB perempuan di hotel ini? Kan gak ada. Tuh cewek ngadi -ngadi banget ya," ucap Fika tersadar bahwa di hotel ini tidak ada OB perempuan. Tapi, ia lupa baru saja ia dan Ayumi bertukar peran menjadi seoarng OB sejak pagi.
"Nah itu dia. Gak ada kan OB perempuan di sini. Ya udah. Kadang, tamu hotel itu suka ngadi -ngadi kalau mau menjatuhkan nama baik hotel. Seribu cara mereka lakukan," ucap Ayumi bersikeras dengan alibinya. Jangan sampai semua orang tahu soal dirinya tadi. Bisa -bisa ia di pecat dari hotel tempat ia bekerja karena kesalahan orang lain.
Fika mengangguk -anggukkan kepalanya lagi dan membenarkan perkataan sahabatnya itu. Ayumi sendiri bernapas lega karena Fika mempercayai ucapan Ayumi tanpa banyak berdebat. Paling tidak Fika bisa memahami maksud Ayumi. Setelah ini, jika suatu kebenaran terkuak. Ayumi harus siap.
***
Saat ini tepat pukul dua belas siang. Artinya tepat waktunya untuk istirahat jam makan siang. Ayumi dan Fika biasanya tidak mengambil jam makan siang. Mereka lebih senang makan bersama setelah selesai shift. Paling hanya makan cemilan yang sudah mereka persiapkan sejak pagi yang mereka letakkan di laci.
__ADS_1
"Makan dulu nih. Cobain, sumpia udang. Kemarin aku beli di mini market asia," ucap Fika pada Ayumi.
"Iya. Makan duluan. Aku lagi rekap data tamu hari ini dulu, biar gampang," ucap Ayumi pada Fika.
"Oke," jawab Fika pelan.
Ayumi masih menghitung jumlah pengunjung hotel yang memesan kamar di hotel ini.
"Ayumi, ini sudah jam makan siang. Bunda mau bicara sama kamu," ucap Bunda Icha dengan cepat. Sontak Ayumi dan Fika menatap ke arah wanita paruh baya yang ada di depan. Kali ini, Fika berdiri dan menghampiri Ayumi untuk menanyakan siapa wanita ini.
"Maaf nyonya. Bukankah nyonya yang tinggal di kamar lanyai dua. Tadi berad di kamar yang terjadi keributan?" tanya Fika menelusuri.
__ADS_1
"Ohh iya betul sekali. Dia, Ayumi, putriku. Ini waktunya istirahat. Saya ingin membawanya pergi sebentar untuk makan siang bersama dengan anak -anak saya yang lainnya," pinta Bunda Icha meminta ijin pada Fika.
"Maaf Bunda. Tunggu sampai Ayumi selesai bekerja nanti sore. Ayumi tidak mau pekerjaan Ayumi terganggu. Tolong hargai Ayumi sebagai karyawan di tempat ini," pinta Ayumi sopan dan melanjutkan pekerjaannya.
"Ayumi. Ayah Toha sudah menunggu kamu dan sangat ingin bertemu padamu. Ada sesuatu hal yang ingin Ayah Toha ucapkan padamu," ucap Bunda Icha pada Ayumi.
"Bunda. Nanti kita ketemu di luar hotel ini. Setelah jam empat," ucap Ayumi pada Bunda icha dan kembali menyapa para pengunjung yang sudah berdiri ingin emmesan kamar untuk cek in.
Bunda Icha melangkah mundur. Ia tahu, Ayumi kini terlihat berbeda, tidak seperti dulu. Ayumi lebih mandiri dan lebih tegas memutuskan sesuatu.
Ayumi sekilas melirik ke arah Bunda Icha yang terlihat kecewa. Tapi, Ayumi harus tetap pada pendiriannya untuk tetap diam dan masa bodoh.
__ADS_1
Bunda Icha memilih duduk di sofa yang ada di lobby dan tidak peduli berapa lama ia harus menunggu yaumi di tempat itu dan Bunda Icha tidak peduli akan hal itu.