Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
54


__ADS_3

Pagi ini Ayumi sudah bersiap untuk mengantarkan Rara. Ayumi sudah mempersiapkan apa saja yang akan dibawa pergi.


Tadi malam Kahfi sengaja datang ke rumah Ayumi untuk memberi tahukan bahwa Bunda Icha akan ikut mengantarkan Rara, jadi mau tidak mau Kahfi akan menggunakan mobil milik keluarganya.


Ayumi masih berada di dapur mempersiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan Nenek Arsy. Makanan sederhana yang menjadi menu favorit Ayumi dan Nenek Arsy.


"Berangkat jam berapa?" tanya Nenek Arsy pelan saat masuk ke dalam dapur.


Aroma wangi masakan Ayumi tercium hingga ruang keluarga saat Nenek Arsy bersantai di kursi goyangnya.


"Gimana dijemputnya aja Nek, bilangnya sih pagi. Makan dulu Nek, biar Ayumi siapkan?" tanya Ayumi pelan sambil mengaduk-aduk nasi goreng di dalam wajan.


Semua sudah tertata rapi di meja makan, ada bakwan jagung, telur dadar, kerupuk udang, teh manis hangat, air mineral dan buah pisang. Ayumi mengangkat mangkok besar berisi nasi goreng spesial buatannya dan diletakkan di atas meja.


Sayup-sayup terdengar suara ketukan pintu dan ucapan salam dari luar teras depan rumah.


"Sepertinya ada tamu Nek. Ayumi buka pintu dulu ya," ucap Ayumi pelan lalu berlalu menuju ke arah teras depan untuk membuka pintu rumah.


Terdengar suara lirih orang berbicara di balik pintu rumahnya. Ayumi memutar anak kunci dan slot kunci lalu membuka pintu rumah itu dengan lebar. Dua orang yang sudah sangat dikenalnya dan selama ini dekat dan sayang dengan Ayumi sudah datang serta berdiri tepat di hadapannya.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi calon menantu Bunda yang sholehah?" tanya Bunda Icha dengan senyum yang lebar.


"Waalaikumsalam, Bunda, Kak Kahfi, mari masuk, kita sarapan pagi bersama Nenek di ruang makan," ucap Ayumi dengan sopan.


Ayumi mencium punggung tangan Bunda Icha, calon mertuanya dengan penuh hormat, lalu menatap Kahfi dan tersenyum.


"Memang Bunda ingin sarapan disini, ini kesiangan Ay, tuh adik iparmu ini sangat susah dibangunkan," ucap Bunda Icha dengan sedikit kesal menatap putra bungsunya.


"Bunda tidak usah buka kartu juga kali," ucap Kahfi pelan.

__ADS_1


"Biar Ayumi cerita sama Rara, kamu itu seperti apa, kelihatannya aja anak santri, tapi.." ucapan Bunda terhenti dan tersenyum pada Ayumi yang menatap ke arah Bunda Icha sambil terkekeh pelan.


"Tapi apa Bunda? Lanjutin aja, biar Ayumi tahu," ucap Ayumi pelan.


"Tapi, Kahfi adalah anak bungsunya Bunda Icha yang paling baik dan ganteng," ucap Kahfi sambil tersenyum manis ke arah Ayumi yang juga tersenyum ramah kepada Kahfi.


Kahfi bahagia melihat senyum manis dan tulus yang tersirat dari wajah Ayumi pagi ini. 'Kapan lagi, aku bisa menikmati senyuman Ayumi yang indah setiap hari? Apakah masih ada kesempatan untukku untuk bisa bersamamu, Ay,' batin Kahfi didalam hatinya.


"Bunda!!" ucap Kahfi setengah berteriak dan menoel lengan Bundanya.


"Sudah yuk Ay. Bunda mau ikut sarapan disini. Ayumi sekali-kali menginap di rumah Bunda," ucap Bunda Icha dengan nada memohon.


Ayumi mengajak Bunda Icha dan Kahfi menuju ruang makan, dan duduk di tempat yang masih kosong.


"Assalamu'alaikum, Nenek Arsy apa kabar?" tanya Bunda Icha saat memasuki ruang makan dan menghampiri kursi Nenek Arsy dan mencium punggung tangan Nenek Arsy dengan hormat, diikuti oleh Kahfi dibelakangnya.


"Waalaikumsalam, Bu Ustadzah, apa kabar?" ucap Nenek Arsy dengan sangat ramah.


"Iya Nak Icha, silahkan duduk, kita sarapan bersama disini. Ayumi sejak selesai shubuh sudah mempersiapkan ini semua," puji Nenek Arsy.


"Maaf Bunda kalau rasanya kurang pas di lidah Bunda atau Kak Kahfi, Ayumi masih belajar," ucap Ayumi pelan sambil mengambil nasi goreng dari mangkok besar itu.


Semua hening menikmati makanannya masing-masing tanpa ada suara gaduh atau nyaring dari suara sendok yang menyentuh piring.


Suapan demi suapan, entah sudah suapan ke berapa Bunda Icha akhirnya membuka suara untuk memuji calon menantu kesayangannya itu.


"Nek, cucunya serba bisa ya di dapur, gimana nanti suaminya gak bahagia dan betah di rumah. Setiap hari disediakan yang enak-enak. Pintar bikin kue, bikin masakan, mau jadi dokter, lengkap sudah sempurnanya menantu Bunda," ucap Bunda Icha tersenyum tulus ke arah Ayumi.


"Bunda, Ayumi gak punya sayap untuk terbang," ucap Ayumi terkekeh pelan.

__ADS_1


"Jadi Bidadari Surga gak perlu pakai sayap, tapi hatinya tetap dalam keistiqomahan, itu yang harus selalu dijalankan," ucap Bunda Icha pelan.


"Semudah itukah menjadi seorang Bidadari Surga?" tanya Ayumi dengan pelan.


"Kalau semuanya didapat dengan mudah, semua wanita disebut Bidadari Surga," jawab Bunda Icha pelan lalu tersenyum.


Kahfi dan Nenek Arsy hanya menjadi pendengar sejati. Mendengarkan dan menyimak apa yang dipertanyakan oleh Ayumi dan apa yang dijelaskan oleh Bunda Icha sebagai jawabannya.


"Apa syarat dan ketentuannya Bunda, menjadi seorang Bidadari Surga?" tanya Ayumi pelan menatap dengan tatapan memohon.


"Bunda akan jelaskan, Bidadari Surga hanyalah sebuah perumpamaan, siapapun bisa menjadi Bidadari Surga. Namanya saja Bidadari Surga, sudah tentu seorang wanita yang sholehah, yang rajin ibadah, yang memahami agama Islam dengan baik, yang mampu menjaga dirinya dari segala hal yang buruk, yang bisa memberikan hal-hal positif dan motivasi bagi orang-orang disekelilingnya, yang mampu mengajak seseorang menjadi lebih baik lagi, yang mampu membantu orang yang sedang jatuh dan terpuruk untuk bangkit lagi, yang bisa menerapkan apa yang tertulis di Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari, yang tidak durhaka pada orang tua dan suami, yang mampu menjaga kesetiaannya hanya untuk suami dan Allah SWT, masih banyak lagi," ucap Bunda Icha menjelaskan.


Tampak Ayumi yang menganggukkan kepalanya pelan tanda paham dengan apa yang dijelaskan Bunda Icha.


"Tapi bukankah Bidadari Surga lebih tepat dipakai untuk wanita yang sudah menikah?" tanya Ayumi kemudian kepada Bunda Icha.


"Tepat sekali, perumpamaan Bidadari Surga biasanya untuk wanita yang sudah menjadi istri, yang menurut pada suami, menjaga marwah suami, mampu menjaga aib suami dan keluarga, yang bisa Istiqomah di jalan Allah SWT, dan yang terpenting mampu menjaga pandangannya dan kesetiaannya hanya pada suaminya. Cukup banyak jika mau membedah menjadi wanita atau istri yang sholehah itu seperti apa? Mungkin sambil berjalan Bunda akan bantu Ayumi menjadi Bidadari Surga anak Bunda," ucap Bunda Icha pelan.


Ayumi tersenyum lebar dan terlihat sangat bahagia. Bunda Icha adalah orang tua yang baik dan bijak, rasa sayang seorang Ibu kepada anaknya tanpa ada pilih kasih.


"Bidadari Surga anak Bunda? Anak Bunda ada dua? Ada Bang Afnan dan ada Kahfi?" celetuk Kahfi lirih sambil melirik Bunda icha.


Bunda Icha menginjak kaki Kahfi untuk diam dan tidak bersuara menanggapi hal-hal yang gak perlu.


"Tuh, Ay, dengarkan calon mertuaku ini bicara. Penjelasannya cukup mudah untuk dipahami. Jadilah wanita yang baik, yang mampu menjaga aurat, menjaga hati dan pandangannya," ucap Nenek Arsy menasehati.


"Iya Nek. Bunda terima kasih sudahau menjelaskan kepada Ayumi tentang sebuah ilmu. Semoga sampai disini, Ayumi tetap bisa Istiqomah dijalan Allah SWT," jawab Ayumi dengan pelan.


Kehidupan yang naik turun, dengan ujian dan solusi hingga mencapai harapan yang diinginkan. Bukan sesuatu yang mudah dan bukan sesuatu yang sulit untuk digapai. Tapi bagaimana kita ikhlas dan sabar dalam menjalani kehidupan sesuai tuntunan Islam yang tertuang dalam ayat-ayat suci Al Qur'an.

__ADS_1


Hijrahnya seseorang itu mudah, yang sulit itu adalah menjalankannya suatu Istiqomah, mempertahankan suatu kebaikan menjadi lebih baik lagi.


Selain itu, harus bisa lebih mengontrol diri agar dijauhkan dari sifat iri dan sombong karena lebih paham tentang ilmu agama.


__ADS_2