Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
144


__ADS_3

Duta melirik ke arah Yumna dan menyembunyikan ponsel Yumna di dekat pahanya.


"Sayang ... Masih dini hari. Kita tidur lagi," titah Duta langsung mengajak yumna kembali beristirahat.


"Iya. Tadi kak Duta ngobrol dengan siapa?" tanya Yumna pelan.


"Ngobrol? Gak ada ngobrol dengan siapa -siapa? Ini ponsel kakak masih di cas," ucap Duta membela diri.


Yumna hanya mengangguk pelan dan kembali memeluk Duta sambil memejamkan kedua matanya.


"Tidur sayang. Tadi Kakak hanya mimpi buruk saja, makanya terbangun," ucap Duta berbohong.


"Iya kak. Yumna juga mimpi buruk kak," ucap Yumna pelan.


"Kamu juga mimpi buruk? Mimpi apa?" tanya Duta lembut sambil mengusap pelan kepala Yumna.

__ADS_1


"Mimpi di rumah sedang ada pesta besar. Yumna ada di sana, Kakak juga ada. Semua orang bersenang -senang kecuali Ayah. Jadi kepikiran Ayah. Soalnya kemarin Yumna gak sempet ketemu Ayah," ucap Yumna lirih.


"Kita doakan yang terbaik untuk Ayah, ya," ucap Duta dengan suara serak tertahan. Kedua matanya sudah basah. Namun, Duta berusaha menahan tangisnya agar Yumna tak mengetahuinya.


"Iya. Terakhir kata Kak Dafa. Ayah sedang rindu Yumna, mau bertemu Yumna. Tapi karena sibuk, Ayah tak bisa meninggalkan pekerjaan dan bisnis yang baru di rintisnya," ucap Yumna sendu.


"Kamu mau pulang?" tanya Duta kembali. Duta merasa tidak tega membohongi Yumna. Kabar buruk itu tetap harus di ketahui Yumna. Apapun resikonya nanti.


Yumna membuka kedua matanay dan mengangkat wajahnya menatap sang suami yang sedang menahan isak tangis. Duta memang sedang emmandang ke arah lain, ia tidak ingin air matanya tumpah di pipinya.


Duta menunduk manatap Yumna lekat lalu mengecup kening Yumna dengan penuh cinta.


"Maafkan Kakak jika telah berbohong, Na," ucap Duta lirih dan kembali emmeluk tubuh Yumna denagn sangat erat sekali.


"Ada apa Kak? Kak Duta telah berbohong soal apa?" tanya Yumna penasaran dengan ucapan Duta baru saja.

__ADS_1


Mereka baru dua hari berada di sini. Apa yang di rahasiakan Duta dari Yumna?


"Ta -tadi, Kak Jone telepon. Tapi janji kamu harus sabar, inget kandungan kamu," titah Duta pada Yumna dan mengecup kedua pipi Yumna.


"Iya. Janji. Emang ada apa sih?" tanay Yumna makin penasaran sambil mengangguk setuju bahwa ia tidak akan bersedih dan tetap sabar.


"A -ayah meninggal. Karena serangan jantung," ucap Duta terbata pelan sekali.


Yumna hanya melongo dan tubuhnya mendadak lesu. Kedua matanya masih lekat menatap Duta denagn arsa tak percaya. Yumna menggelengkan kepalanya pelan. Ia mearsa tidak mungkin denagn kabar buruk ini. Pasti kabar ini salah.


"Gak Kak. Gak mungkin. Kak Duta pasti salah informasi. Itu gak mungkin terjadi. Ayah gak punya riwayat penyakit jantung, Kak," ucap Yumna melepaskan pelukannya pada Duta dan bangkit dari tidurnya untuk mencari ponselnya. Yumna harus memastikan langsung kalau berita itu benar adanya. Semua ini gak mungkin terjadi. Kenapa semua ujian dan cobaan selalu silih berganti menghampiri keluarga Yumna setelah Yumna berumah tangga. Apa ini sinyal pertanda buruk? Atau memang semesta tidak pernah merestui pernikahan mereka berdua.


Yumna nampak gugup mencari ponselnya di atas nakas.


"Kamu cari ini? Kakak tidak pernah bohong pada kamu, Na. Kakak cari waktu yang tepat dan Kakak gak mau ada masalah denagn kandungan kamu karena mendengar berita ini," ucap Duta mencoba menenangkan Yumna.

__ADS_1


__ADS_2