Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
149


__ADS_3

Beberapa jam pesawat itu terbang dan akhirnya sampai juga dinergara Indonesia sebagai tujuan akhir mereka.


Selama perjalanan dan berada di atas peswat, Yumna sama sekali tak mengalami mual ataupun muntah. Semuanya terkendali dnegan aman.


Kedua sahabat itu telah berda di lobby bandara dan mereka akan berpisah. Yumna harus segera pulang menggunakan taksi online, sedangkan Nick sudah ada supir yang menjemputnya.


"Thanks ya Nick. Udah nemenin Yumna ngobrol sepanjang perjalanan. Udah jagain Yumna sampai akhirnya Yumna sama sekali gak muntah. Kamu baik banget, sudah cocok punya istri," ucap Yumna tersenyum lebar pada Nick.


"Masih kuliah, Na. Belum mikirin itu juga. Masih mau main -main aja. Kalau sudah waktunya juga, jodoh datang sendiri," ucap Nick santai.


"Lhooo ... Bukannya kamu yang bilang sendiri, kalau kamu kesini mau ketemu pacar kamu?" tanya Yumna bingung sambil menunggu pesanan taksi onlnenya yang tak kunjung tiba.


"Bukan pacar. Tapi, mantan calon pacar," ucap Nick setengah tertawa.


"Mantan calon pacar? Maksudnya itu hanya cem -ceman?" ucap Yumna tertawa ngakak.


Nick mengangguk pasrah. Ia terkenal sebgai pria cuek dan akhirnya mengakui sebenarnya ia adalah lelaki yang mudah baper dan sangat bucin sekali.

__ADS_1


"Ya. Mantan calon pacar. Sudah. itu taksi kamu datang. See u again, Na," ucap Nick mengantarkan Yumna menuju taksi online pesanannnya.


"Oke. See u agaian, Nick. Mampir ke rumah kalau ada waktu," titah Yumna pada Nick.


"Oke. Aku pasti datang," ucap Nick berjanji.


Yumna mengangguk kecil dan masuk ke dalam taksi online itu. Keduanya saling melambaikan tangan dan berpisah. Yumna langsung mengambil ponselnya dan mengabari Duta.


Sepuluh panggilan tidak terjawab semenjak ponsel Yumna sudah di katifkan sejak turun dari pesawat tadi. Yumna memang mengecilkan volume notifikasinya dan malah asyik mengobrol dnegan Duta.


Beberapa pesan singkat Duta juga di kirim kepada Yumna. Pesan singkat berisi pertanyaan yang jelas terbaca cemas dan khawatir yang di rasakan Duta.


Yumna masih malas karena kecewa pada sikap suaminya itu yang ternyata lebih mementingkan pekerjaan di bandingkan Ayahnya. Padahal kalau hanya urusan pekerjaan, bisnis Ayah Yumna bisa di turunkan pada mereka semua.


SEketika Duta langsung membaca pesan singkat itu dan langsung menelepon Yumna. Yumnma hanya berdecih pelan saat melihat Duta menelepon dirinya.


"Angkat dong, Na," ucap Duta dengan gemas dan khawatir. Baru saja, Yumna online, giliran di telepon tidak di jawab. Duta terus mengulanginya hingga lima kali, samapi ia menyerah untuk menghubungi Yumna.

__ADS_1


Dengan cepat, jari -jari besar Duta mengetikkan sebuah pesan pada Yumna.


"Kakak tahu, kamu marah dan benci pada Kakak. Kakak terima perlakuan kamu pada Kakak. Tapi setidaknya kamu hargai kekhawatiran Kakak tentang kamu dan anak kita." tulis Duta memulai obrolan singkat di salah satu chat pribadinya bersama Yumna.


Yumna langsung membaca dan mengabaikan pesan singkat itu tanpa membalas lalu mematikan ponselnya.


Tak lama, taksi online itu telah sampai di depan rumah Yumna. Yumna membayar ongkos taksi itu lalu turun dan berjalan menuju pintu pagar yang sudah tertancap kayu dengan bendera kuninga yang berkibar mengikuti angin.


Yumna masuk ke dalam rumah yang terlihat sangat sepi tapi sedikit berantakan. Mungkin masih banyak tamu dari relasi, teman, atau klien Ayahnya yang ingin mengucapkan bela sungkawa.


Air matanya turun begitu saja, saat melihat foto AYhnya yang terpampang besar di depan teras rumahnya. Beberapa karangan bunga dengan ucapan turut berduka cita pun berjejer di taman dan halaman rumahnya. Yumna tahu, ia terlambat datang. Ayahnya tentu sudah di kubur. Karena jarak dari Paris ke Indonesia juga membutuhkan waktu yang cukup lama.


"Yumna!!" panggil Yuri yang sedang membereskan gelas -gelas dari atas karpet.


"Yuri!!" teriak Yumna keras dan ekdua sahabat itu saling bereplukan.


"Kamu datang Na? Kak Duta?" tanya Yuri sambil memeluk tubuh Yumna denagn sangat erat sekali.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan tanya soal Kak Duta. Bunda mana? Kak Dafa dan Kak Jone dimana?" tanya Yumna lirih sambil mengendurkan peluaknnya di tubuh Yuri.


"Ada di dalam," jawab Yuri singkat.


__ADS_2