
Ayumi melihat bayangan Kahfi hingga menghilang dari pandangannya. Belum juga sempat untuk mengucapkan terima kasih atas pemberian Kak Kahfi kepada Ayumi, namun orang yang memberi sudah pergi dengan terburu-buru.
Kantong plastik pemberian Kak Kahfi diletakkan di pagar, lalu Ayumi menyelesaikan pekerjaan rumahnya menyapu halaman rumah Nenek Arsy.
"Ayumi, minum teh hangat dulu biar tubuhmu ikut menghangat." ucap Nenek Arsy kepada Ayumi dan meletakkan teh hangat lengkap dengan pisang goreng sebagai cemilannya.
"Iya Nek. Sebentar lagi selesai. Ayumi bunga sampah dahulu ke luar." ucap Ayumi setengah berteriak dari halaman depan.
Ayumi berjalan ke luar halaman untuk membuang sampah yang sudah terkumpul di dalam pengki besar. Langkah kaki Ayumi pelan dan sangat hati-hati agar pengki berisi sampah itu tidak tumpah dan jatuh kembali ke halaman yang Ayumi lewati saat berjalan.
"Ayumi ..." panggil seseorang dengan suara keras. Suara asing dari seberang jalan.
Ayumi mempercepat langkahnya dan segera membuang sampah dari dalam pengki ke tong sampah besar.
"Ayumi ..." teriak seseorang dari seberang jalan.
Terlihat orang tersebut berlari menyeberangi jalan raya yang masih terlihat gelap dan sepi.
"Astagfirullah Kak Afnan? Ayumi sempat takut tadi." ucap Ayumi kepada Afnan.
"Iya Ayumi. Maafkan Kakak ya. Tadi habis lari pagi sekitar kampung, lihat kamu sudah rajin aja pagi-pagi gini. Cari sarapan yuk, Ay?" ucap Afnan pelan sambil menatap kedua mata Ayumi yang terlihat bengkak.
Ditatap seperti memiliki suatu kesalahan, Ayumi langsung menundukkan kepalanya.
"Kamu habis menangis Ayumi? Ada apa? Bukankah semalam kamu baik-baik saja. Nenek Arsy memarahi kamu karena pulang larut malam?" tanya Afnan bertubi-tubi.
Ayumi hanya menarik napas panjang dan terdiam menunggu Afnan selesaikan bicaranya.
"Sudah hanya itu pertanyaannya?" tanya Ayumi kepada Afnan yang terlihat cemas dan panik.
Afnan menganggukkan kepalanya pelan. "Kakak butuh jawaban bukan diam. Jangan buat Kakak menjadi cemas." ucap Afnan tegas dan terlihat posesif.
"Ayumi memang menangis tadi malam. Ayumi rindu dengan Ayah dan Bunda." ucap Ayumi sangat lirih. Suaranya terdengar serak seperti tertahan.
__ADS_1
"Ada Kakak, Ayumi. Kakak tidak akan membiarkan Ayumi sendiri dan bersedih. Jadikan Kakak sebagai sahabatmu." ucap Afnan dengan nada memohon.
"Ke dalam Kak. Tidak enak bicara disini, lebih baik di teras rumah. Sekalian sarapan di rumah." ucap Ayumi pelan lalu berjalan terlebih dahulu ke arah teras rumah Nenek Arsy.
Nenek Arsy menatap Ayumi lekat, seakan meminta jawaban kenapa Nak Afnan bisa bersamanya pagi-pagi buta begini.
"Ayumi, masuk ke dalam. Lebih baik kamu mandi dan siap-siap ke sekolah." ucap Nenek Arsy dengan sikap tegasnya.
Ayumi tidak menjawab ucapan Nenek Arsy. Ayumi cukup sadar dengan kesalahan besar yang di perbuatnya sendiri. Ayumi mempercepat langkahnya dan bergegas masuk ke dalam rumah sesuai keinginan Nenek Arsy.
Afnan berjalan tepat dibelakang Ayumi. Afnan menyimak ucapan Nenek Arsy kepada Ayumi. Semua adalah salahnya yang tidak bisa menahan rindunya untuk tidak bertemu dengan gadis kesayangannya.
Hatinya gelisah dan cemas semalam saat meninggalkan Ayumi. Rasanya sangat berbeda sekali saat mencoba dekat dengan Zura karena lelah menanti kehadiran Ayumi yang tidak pernah pasti.
Namun, doa-doa Afnan selama ini sudah dikabulkan oleh Allah SWT. Pertemuan tanpa kesengajaan kembali di saat mereka berdua memang sudah cukup matang.
"Ada apa Nak Afnan. Bukankah ini masih gelap, tapi Nak Afnan sudah ada di rumah seorang gadis yang bukan mahramnya." ucap Nenek Arsy menasehati.
"Apapun itu alasannya. Gunakan adab dan tata krama yang berlaku di kampung ini. Jaga nama baik Bapakmu disini Nak Afnan. Bukan Nenek melarang kamu untuk singgah kemari. Tujuanmu harus jelas, usia kalian cukup jauh berbeda. Ayumi masih memiliki cita-cita yang ingin dicapainya. Jangan hanya karena kejadian sepuluh tahun yang lalu bisa dijadikan alasan untuk mendekati Ayumi dengan cara yang kurang baik. Tolong di perhatikan." ucap Nenek Arsy dengan sangat tegas.
"Maaf Nek. Afnan tidak ada maksud apa-apa, terlebih dengan kejadian di masa lalu. Waktu itu Afnan benar-benar tulus membantu Ayumi. Tapi ..." ucapan Afnan terhenti saat ingin berkata jujur kepada Nenek Arsy.
Afnan menundukkan kepalanya, terlihat wajahnya sedikit gugup dan segan untuk menatap wajah Nenek Arsy seperti biasanya. Pagi ini benar-benar sulit dan luar biasa gugup.
"Tapi apa Nak Afnan?" tanya Nenek Arsy dengan rasa penasaran.
"Afnan mencintai Ayumi." ucap Afnan dengan sedikit lantang namun napasnya terlihat seperti terengah-engah dan ketakutan.
"Apa yang kamu ucapkan Nak Afnan. Jangan permainkan gadis kesayangan Nenek. Dia cucu perempuan satu-satunya yang Nenek miliki. Sebisa mungkin akan Nenek jaga, bukan Nenek biarkan untuk dengan mudahnya digoda oleh laki-laki yang ingin bermain-main saja." ucap Nenek Arsy dengan sangat tegas.
"Afnan serius Nek. Afnan tidak main-main untuk hal ini. Afnan mencintai Ayumi sejak kejadian itu. Perasaan Afnan berbeda setiap melihat senyum Ayumi." ucap Afnan setengah memohon untuk dipercayai. Ucapannya adalah benar dari hati dan tulus, bukan sekedar omong kosong pemuda yang hanya memuja kecantikan kaum hawa.
"Bukan Nenek meragukan. Ayumi itu masih kecil usianya belum genap tujuh belas tahun. Bukan saatnya untuk mengenal hati. Nenek senang jika Ayumi tidak salah pilih berteman. Malah itu yang Nenek harapkan." ucap Nenek Arsy.
__ADS_1
"Apa ini sebuah penolakan Nek?" tanya Afnan dengan sedikit ragu memberanikan dirinya untuk menatap wajah Nenek Arsy dihadapannya.
Nenek Arsy tertawa lepas mendengar ucapan Afnan yang terlihat polos itu.
"Bukan penolakan tetapi lebih bisa menjaga Ayumi sampai waktu yang tepat. Semua pilihan ada di tangan Ayumi. Nenek hanya bisa memberikan saran mana yang baik dan yang tidak baik untuk Ayumi cucu kesayangan Nenek." ucap Nenek Arsy sambil melempar senyum kepada Afnan.
Paling tidak Afnan paham maksud Nenek Arsy, bahwa Ayumi masih memiliki cita-cita., jika Afnan sanggup menunggu silahkan, kalaupun tidak bisa menunggu itu juga tidak menjadi masalah.
"Afnan mengerti Nek. Ijinkan Afnan untuk selalu menjaga Ayumi dan menunggu Ayumi hingga saatnya tiba nanti." ucap Afnan pelan.
Nenek Arsy menganggukkan kepalanya pelan.
"Matahari sudah nongol, Nak Afnan tidak mengajar?" tanya Nenek Arsy langsung kepada maksud dan tujuannya untuk menyuruh Afnan segera pulang ke rumahnya.
"Iya Nek. Afnan pamit pulang dulu untuk bersiap diri. Tolong katakan pada Ayumi, setelah ini saya jemput untuk ke sekolah bersama." ucap Afnan pelan.
"Baik akan Nenek sampaikan kepada Ayumi." ucap Nenek Arsy singkat.
Afnan segera beranjak dari duduknya dan berpamitan kepada Nenek Arsy.
Lagi-lagi hatinya bahagia. Paling tidak apa yang selama ini diperjuangkan bisa Afnan dapatkan.
Senyum Afnan terus saja merekah bahagia hingga sampai di rumahnya.
Sedangkan Ayumi sudah bersiap sejak tadi. Sudah memakai seragam dan atribut lainnya untuk ke sekolah dan menunggu Nenek Arsy selesai berbicara dengan Kak Afnan.
Nenek Arsy masuk ke dalam dan membawa piring dan gelas ke dapur.
"Ada apa Nek? Sepertinya terlihat serius sekali." tanya Ayumi sambil menyeruput teh panas manis yang dibuatkan oleh Nenek Arsy.
"Tidak ada apa-apa Ayumi. Hanya obrolan biasa saja. Sedikit menegangkan karena memang ada yang harus diperdebatkan." jawab Nenek Arsy menjelaskan Dengan singkat.
Ayumi hanya terdiam dan tidak membalas ucapan Nenek Arsy.
__ADS_1