
Semua yang ada dikamar itu menyaksikan drama nyata itu dengan perasaan penuh haru bercampur bahagia. Kata-kata yang tidak pernah akan terucap dari bibir Kahfi tapi kini justru Kahfi yang mengatakan itu Dnegan lantang kepada gadis yang selama ini tidak pernah sedikitpun dicintainya.
Bibir Kahfi sudah berdusta dan hati Kahfi sudah berbohong untuk sebuah kebahagiaan, hanya itu tujuan akhir Kahfi selama ini.
Mendengar pertanyaan dari Kahfi yang terlihat sangat tulis itu, Rara pun tersenyum dengan bahagia laku menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Rara mau Kak Fi, sangat mau sekali," ucap Rara pelan penuh haru dan rasa bahagia yang bercampur menjadi satu. Rasa di hati Rara jadi tak karuan, antara haru, sedih, senang, bahagia, bingung, cemas teraduk-aduk menjadi satu seperti adonan kue yang terus saja diuleni hingga semua bahan tercampur menjadi satu.
Kahfi tersenyum bahagia mendengar jawaban dari Rara yang begitu polos dan cepat merespon.
Kahfi dan Rara menoleh ke arah Bunda Icha, Ayah Sukoco dan Mama Anna.
"Restui Kahfi dan Rara, ingin menyatukan hubungan ini agar lebih halal lagi, dalam ikatan perkawinan yang SAH dimata agama dan negara," ucap Kahfi pelan dan sopan menatap Mama Anna, Bunda Icha dan Ayah Sukoco secara bergantian.
Bunda Icha tersenyum bahagia, karena akhirnya Kahfi bisa mengambil keputusan terbaik untuk dirinya dan semau orang. Bunda Icha menghampiri Kahfi dan memeluk putra bungsu kesayangannya itu dengan penuh kasih sayang.
"Kalian benar sudah siap untuk menikah, menerima segala kekurangan dan kelebihan satu sama lainnya? Karena menikah adalah ibadah terpanjang dalam hidup yang membawa seseorang atau pasangan untuk hidup bersama kita seumur hidup kita," tanya Bunda Icha dengan sangat lembut.
Bunda Icha memegang satu tangan Rara dan satu tangan Kahfi lalu disatukan dalam genggaman Bunda Icha.
"Bunda sangat merestui hubungan kalian, Bunda harap kalian bisa menjadi pasangan suami istri yang saling menghargai dan pengertian, memiliki kesabaran yang tiada batas, ketulusan dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan sebagai bersama-sama," ucap Bunda Icha kepada Rara dan Kahfi dengan lembut menasehati.
Bunda ochaemeluk keduanya bersamaan, rasanya sangat senang, akhirnya putra dan putri kesayangannya itu bersatu dalam ikatan perkawinan yang SAH.
__ADS_1
Ayah Sukoco dan Mama Anna mendekati mereka berdua dan memeluk satu per satu anaknya itu dengan penuh kasih sayang.
"Ayah juga merestui kalian berdua, Ayah bangga dengan pengorbanan kalian berdua yang saling mensupport satu sama lain, Ayah betul-betul bahagia" ucap Ayah Sukoco lirih dengan tangisan yang sudah luruh membasahi wajahnya.
"Ayah ..." panggil Rara pelan, lalu memeluk Ayahnya kembali dengan sangat erat.
"Iya Rara," jawab Ayah Sukoco pelan lalu membalas pelukan itu dengan sangat erat hingga tidak ingin terlepas dan tetap seperti ini.
Sebentar lagi, tanggung jawab Ayah Sukoco akan berpindah kepada Kahfi. Ayah Sukoco melepas pelukannya dengan Rara lalu memeluk Kahfi yang sebentar lagi akan SAH menjadi menantunya.
"Jadilah suami yang baik dan selalu ada untuk Rara, hanya itu pesan Ayah kepadamu Fi," ucap Ayah Sukoco pelan kepada Kahfi menasehati.
Kahfi menganggukkan kepalanya pelan.
Mama Anna sudah berurai air mata sambil memeluk Rara. Rara memang bukan anak kandungnya, tapi kedekatan mereka berdua sebagai Mama dan anak sambung sangatlah dekat dan akrab, bahkan Rara sering kali meminta sesuatu hal kepada Mama Anna yang sudah dianggap sebagai Mama kandungnya sendiri. Kedekatan secara emosional dan batin keduanya sudah sangat teruji, bahkan saat ini keduanya menangis sesegukan.
Mama Anna sangat tahu persis sepak terjang penyakit yang di derita Rara sejak kecil. Sebagai asisten pribadi Ayah Sukoco dahulu sebelum dinikahi dan menjadi istri sahnya Ayah Sukoco, Mama Anna sudah sangat dekat dengan keluarga besar Ayah Sukoco.
"Mama, akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Rara. Keinginan Rara untuk menikah denah Kahfi sudah terwujud, sekarang Rara harus bahagia dan fokus dengan pengobatan dan kesembuhan Rara," ucap Mama Anna pelan setengah berbisik di dekat telinga Rara hingga tidak ada yang bisa mendengarnya.
Mama Anna sudah tahu kondisi dan keadaan Rara yang sebenarnya saat dokter yang menangani Rara menjelaskan semuanya tentang penyakit yang diderita Rara.
Kanker otak stadium empat itu sudah cukup sulit untuk disembuhkan dengan. terapi dan obat kecuali memang ada keajaiban dari Allah SWT. Sel kanker otak itu sudah merajalela ditubuhnya dan sudah merusak sel-sel saraf yang ada di tubuh Rara. Itulah yang membuat kondisi Rara sering terpuruk dan drop secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Terima kasih Mama, Mama sudah menemani, menjaga dan merawat Rara dan Ayah dengan baik," jawab Rara dengan lirih, tangisannya kini ikut pecah kembali mendengar ucapan Mama Anna yang membuat hati Rara semakin sedih.
Mama Anna melepaskan pelukan itu dan menatap anak gadis sambungnya itu yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya dan menikahi lelaki pilihannya. Mama Anna menghapus sisa air mata yang jatuh ke pipi Rara dengan telapak tangannya.
"Sudah Ra, jangan menangis terus, nantinkeringbair matanya," ucap Mama Anna pelan sambil menggoda Rara.
Rara ikut menggapai sisa air mata itu, hidungnya ikut tersumbat hingga tidak bisa bernapas dengan lega.
"Rara bahagia Ma, sangat bahagia," ucap Rara pelan dan memeluk Mama Anna dengan erat.
Mama Anna mengendurkan pelukannya lalu melepaskan pelukan itu secara perlahan. Tatapan Mama Anna kini berpindah kepada Kahfi yang sudah berdiri di samping Mama Anna sejak tadi.
Mama Anna memeluk Kahfi dan menepuk punggung calon menantunya itu dengan pelan sebagai rasa kasih sayangnya untuk ikut menjaga dan merawat Rara.
"Mama, percayakan Rara untuk kamu Fi, jaga, rawat, cintai, sayangi, dan temani Rara seumur hidupnya, jangan pernah tinggalkan Rara, Mama adalah orang pertama yang akan memukul Kahfi bila itu semua terjadi," ucap Mama Anna dengan tegas menasehati.
Kahfi mengangguk pelan dan tersenyum lebar.
"Siap Mama, terima kasih dukungan dan restunya," jawab Kahfi dengan pelan dan mantap menjawab pertanyaan Mama Anna.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Drama itu belum berakhir, kemesraan itu akan terus berlanjut hingga ijab kabul terucap dari bibir Kahfi.
Hanya mereka berlima yang masih terjaga dan menangis bahagia. Semua orang sudah tertidur pulas karena kelelahan.
__ADS_1
"Sudah pukul dua dini hari, sebaiknya kita istirahat, besok kita lanjutkan lagi perencanaan pernikahannya agar di lakukan lebih cepat maka lebih baik," ucap Ayah Sukoco tegas dan nampak antusias terhadap acara pernikahan antara Rara dan Kahfi yang akan diadakan secepatnya.