Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
95


__ADS_3

Kahfi dan Rara sudah berada dalam pesawat yang akan membawanya ke negeri orang. Beberapa jam lalu, pesawat sudah terbang menuju negara yang akan menjadi tujuan akhir.


Kahfi dan Rara duduk berdampingan, mereka hanya berdua ke negeri orang yang tidak diketahui sama sekali, tanpa pendamping.


Rara menyandarkan kepalanya di dekat jendela pesawat, kedua matanya terpejam sejak satu jam terakhir. Makanannya tidak disentuh sama sekali dan wajahnya terlihat pucat pasi.


Kahfi sejak tadi menatap Rara yang tetap diam tidak berkutik sedikitpun.


"Ra?" panggil Kahfi pelan.


Rara tidak merespon sama sekali panggilan dari Kahfi.


Kahfi mengulang panggilannya kembali kepada Rara, kali ini panggilannya sedikit keras.


"Ra? bangun, makan dulu," ucap Kahfi pelan.


Rara masih saja terdiam dan tidak bergeming sedikitpun. Tidak ada respon dan tidak ada pergerakkan apapun dari Rara yang duduk disebelah Kahfi.


"Ra? Kamu kenapa?" ucap Kahfi pelan sambil memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Rara.


Telapak tangan Kahfi menyentuh pipi Rara, dan ditepuk-tepuk dengan pelan agar hadis itu terbangun dan sadar.


Tangan Rara sudah dingin seperti es, Kahfi menggenggam erat tangan mungil itu untuk menyalurkan kehangatan disana.


Masih saja belum ada tanda-tanda pergerakkan dari Rara. Kahfi pun menangkupkan wajah Rara dengan tangannya lalu meniup wajah cantik Rara dengan pelan.


Merasa tubuhnya seperti di sentuh dan bergoyang, Rara membuka matanya dengan perlahan.


Kedua matanya membola saat melihat Kahfi ada di depan matanya dan sangat dekat sekali dengan wajahnya, seolah akan menyentuh wajahnya.


"Akhirnya bangun juga kamu ,Ra?" ucap Kahfi pelan dan menghela napas dengan lega.

__ADS_1


Tangannya melepaskan pada rangkulan wajah Rara, dan merapikan hijab yang dipakai Rara.


Rara pun menegakkan duduknya dan merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.


"Maaf ya Ra, Kak Fi lancang. Tadi wajah kamu pucat sekali, takut ada apa-apa, makanya Kak Fi tiup biar kebangun," ucap Kahfi dengan pelan.


Rara tersenyum dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. Senang rasanya Kahfi begitu perduli kepada dirinya. Tadi memang Rara merasa sangat pusing dan pening. Kepalanya sangat berat saat harus duduk tegak lurus, maka dari itu Rara mencoba untuk memejamkan kedua matanya untuk sekedar tidur sebentar.


Perjalanan yang cukup memakan waktu lama itu membuat Rara jenuh, terlebih Kahfi sangat cuek terhadap dirinya. Sejak naik ke dalam pesawat dan sudah beberapa jam berada di pesawat yang sama dan duduk berdampingan, mereka berdua hanya terdiam dan membangun keheningan. Tidak ada percakapan sedikit pun atau sekedar basa basi.


Setelah beberapa jam kemudian, pesawat sampai pada negara yang dituju.


Keluarga Faisal, adalah sahabat karib Ayah Sukoco saat masih memakai seragam putih abu-abu. Menurut rekomendasi Pak Faisal, ada seorang dokter paruh baya yang bisa menyembuhkan penyakit kanker otak Dengan suatu tetapi.


"Kak Fi, mana sih Keluarga Pak faisal?" tanya Rara yang sudah duduk di lobby menunggu kedatangan Pak Faisal untuk menjemput mereka dan mengantarkan mereka ke arah apartemen yang sudah disewa oleh Ayah Sukoco untuk satu tahu pertama.


"Sebentar Ra, ini juga sedang Kak Fi telepon," ucap Kahfi pelan kepada Rara.


Tidak sampai lima belas menit, supir suruhan Pak Faisal menghampiri Kahfi dan Rara untuk segera naik ke dalam mobil agar dengan segera di antar ke apartemen yang telah di sewa oleh Ayah Sukoco.


"Pak, Paka Faisalnya kemana?" tanya Rara pelan kepada supir tersebut.


" Pak Faisal sudah menunggu di apartemen beserta istrinya," ucap Pak supir itu dengan sopan.


Arah perjalanan menuju apartemen tidak begitu jauh. Supir itu melajukan mobilnya dengan cepat dan melewati jalan yang lengang dengan pemandangan yang cukup memberi hiburan bagi mata mereka.


Setengah jam kemudian, Rara dan Kahfi sudah sampai pada gedung apartemen dan masuk ke dalam lobby untuk menanyakan apartemen pesanan atas nama Rara Sukoco ada dilantai berapa.


Setelah mendapatkan informasi, dibantu oleh supir Pak Faisal, mereka bertiga menaiki lift menuju lantai tiga, masuk lorong dekat dengan taman hias di samping gedung.


Pintu kamar apartemen itu sudah terbuka dan sedang dibereskan serta diisi dengan beberapa barang furniture, perlengkapan dan peralatan sehari hari, tidak lupa bahan-bahan makanan dan cemilan serta air minum untuk mereka sampai bisa menyesuaikan diri di tempat ini.

__ADS_1


"Rara?" panggil Umi Latifa saat melihat Rara masuk ke dalam apartemen dengan wajah lelahnya.


Umi Latifa berjalan menghampiri Rara dan memeluk gadis kecil kesayangannya saat itu yang kini sudah beranjak dewasa.


Rara membalas pelukan erat Umi Latifa dengan penuh kasih sayang.


"Umi Latifa, bagaimana kabarnya?" tanya Rara pelan kepada Umi Latifa.


"Alhamdulillah, baik Ra. Sekarang sudah besar dan tambah cantik," ucap Umi Latifa dengan ramah.


"Cantik dong Umi Latifa, kan Rara perempuan," ucap Rara pelan dan terkekeh pelan sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


"Pakai hijab, pakai gamis, benar-benar berbeda dengan Rara yang dulu, yang sexy dan cuek. Ini pasti Kahfi, suaminya Rara?" tanya Umi Latifa pelan menatap Kahfi yang terlihat sangat tampan dan keren.


Rara dan Kahfi saling berpandangan dan menatap Umi Latifa dengan heran.


"Kami berdua ..." ucap Rara pelan terhenti saat Kahfi menyela ucapannya.


"Betul sekali, kami baru saja menikah, betul kan sayang?" tanya Kahfi lembut kepada Rara sambil memeluk pinggang Rara dengan erat


Rara menatap aneh dengan sikap Kahfi saat ini.


"Iya, karena kamar di apartemen ini hanya ada satu, khusus untuk bulan madu," ucap Umi Latifa dengan suara lirih namun masih bisa terdengar oleh Rara dan Kahfi.


Rata dan Kahfi lagi-lagi saling berpandangan dan menatap heran serta bingung. Rara menatap Umi Latifa seakan tidak percaya dan seperti ada yang disembunyikan. Sedangkan Kahfi menelan air liurnya karena membayangkan harus tidur satu kamar dengan Rara yang jelas-jelas bukan istri SAHnya itu sangat berat.


"Pak, masukkan koper mereka ke kamar, dan Tina tolong buatkan minuman dan makanan untuk Kahfi dan Rara," ucap Umi Latifa menitah Tina, pekerja yang dipercaya untuk membantu Kahfi dan Rara selama tinggal di apartemen ini.


Umi Latifa, Pak Faisal, Kahfi dan Rara duduk bersama di sofa ruang tengah dengan televisi yang menyala. Mereka berempat saling bercerita dan memberikan informasi tentang keadaan di negeri ini.


Besok pagi, Kahfi akan diantar oleh Pak Faisal ke kampus lalu mengambil mobil yang sudah disediakan Ayah Sukoco untuknya.

__ADS_1


Sekalian untuk mengurus administrasi rumah sakit perihal terapi dan pengobatan untuk Rara.


__ADS_2