Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
24


__ADS_3

Ayumi berlari sekencang mungkin hingga sampai di rumah Nenek Arsy lebih cepat. Sebelum masuk ke dalam rumah, Ayumi menghapus sisa air matanya dengan telapak tangan di bagian mata dan pipi, lalu mengusapnya dengan ujung kerudung agar cepat mengering dan terlihat baik-baik saja. . Ayumi nerusaha agar tidak diketahui kalau dirinya memang sedang tidak baik-baik saja.


"Assalamu'alaikum, Nek, Rara dimana?" tanya Ayumi dengan cepat dan masih terengah-engah karena kelelahan berlari.


"Waalaikumsalam, ada di kamar, tadi diantar Nak Kahfi. Ayumi, pergi dengan siapa?" tanya Nenek Arsy kembali kepada Ayumi.


"Tadi Ayumi hanya duduk di taman bersama Kak Afnan. Ayumi ke kamar dulu, Nek," ucap Ayumi singkat lalu berjalan menuju kamarnya.


"Iya Ayumi," ucap Nenek Arsy pelan.


Nenek Arsy hanya tersenyum saat melihat


Ayumi membuka kamarnya dan melihat Rara sudah mengganti pakaiannya dan tertidur. Satu tangan Rara menutup kedua matanya.


"Ra ..." panggil Ayumi pelan. Ayumi berjalan menuju tempat tidurnya dan duduk di pinggir tempat tidurnya itu.


"Ra, kamu belum tidur kan? Kamu kecewa sama aku? Ra, maafkan aku," lirih Ayumi karena merasa bersalah.


"Ciluk baaaa ... Kamu kenapa Ayumi?" tanya Rara pelan menatap wajah Ayumi yang terlihat kusut.


"Aku? Gak apa-apa. Tadi Kak Kahfi bilang kamu pulang duluan, Ra. Aku jadi kepikiran sampai lari-lari biar cepat sampai di rumah," ucap Ayumi pelan.


"Kamu kenapa Ayumi, aku gak apa-apa tuh. Tadi tiba-tiba perutku sakit, lalu aku minta pulang," ucap Rara berbohong.


Rara menahan tangisnya agar tidak terlihat oleh Ayumi. Kisah cinta setigita yang rumit. Rara tahu, Ayumi tidak pernah menyukai Kahfi. Kahfi mengakui semuanya, termasuk rasa sukanya kepada Ayumi. Seketika Rara teringat kejadian di taman tadi saat bersama Kahfi.


'Maafkan Kakak, Ra. Kakak tidak bisa membalas rasa sayang kamu. Lebih baik Kakak jujur dari awal dan menyakiti kamu, dari pada Kakak harus berpura-pura dan pada akhirnya akan lebih menyakiti kamu,' ucapan Kahfi yang masih terngiang di benak Rara.


'Kakak suka dengan Ayumi?' Rara menangis saat menanyakan hal ini pada Kahfi.


'Suka, bahkan sangat cinta,' kata-kata yang menyakitkan tapi itu sebuah kejujuran seorang Kahfi kepada Rara.


Saat itu Kahfi hanya ingin menjadi laki-laki jantan yang mengakui semuanya dengan jujur tanpa ada kepura-puraan.

__ADS_1


Rara hanya terdiam mengingat kejadian tadi. Rasa sakit dan kecewanya memang belum sepenuhnya hilang, tapi tidak baik juga bila harus Ayumi yang menjadi sasaran amukan amarah Rara.


"Ra? Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Ayumi kepada Rara yang terlihat melamun.


Rara sedikit terkejut saat Ayumi mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Rara.


"Apa Ayumi?" jawab Rara sekenanya karena terkejut.


"Jangan marah Ra. Tetaplah jadi sahabatku," ucap Ayumi pelan.


"Ayumi, kita akan tetap bersahabat selamanya. Aku tahu, kita masih terlalu kecil untuk menyukai seseorang lebih baik kita fokus untuk sekolah dan cita-cita seperti kamu bilang tadi siang," ucap Rara mengingatkan.


Ayumi tersenyum simpul, tidak ada sedikitpun untuk menggurui Rara. Ayumi mengingatkan itu sebagai peringatan untuk dirinya sendiri. Bukan menasehati seseorang untuk mengikuti apa yang Ayumi lakukan, sama sekali tidak.


"Jangan ikuti aku, Ra. Jadilah dirimu sendiri dan jangan pernah menjadi orang lain karena sesuatu hal, kamu sendiri yang akan tersiksa," ucap Ayumi menjelaskan.


"Tidak Ay. Aku akan belajar seperti dirimu menjadi lebih baik juga. Paling tidak, dengan menyamai dirimu, Kak Kahfi bisa mencintai aku dikemudian hari. Mungkin aku yang harus bersabar dengan waktu dan proses," ucap Rara mantap.


"Tapi Ra?" ucapan Ayumi terhenti saat jari telunjuk Rara menutup bibir Ayumi.


"Kita hijrah bersama Ra. Belajar menjadi wanita yang lebih baik lagi dan sholehah," ucal Ayumi pelan.


"Aamiin ya Rabb," ucap Rara mengaminkan.


Malam itu keduanya saling bertukar cerita. Mulai dari Kak Zura, Rara, Afnan, Kahfi dan Ayumi. Semuanya saling berkaitan dan saling berhubungan.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tak terasa memang jika sudah mengobrol, ada saja topik yang dibahas.


"Tidur Ra. Katanya besok pagi mau jalan-jalan pagi," ucap Ayumi pelan mengingatkan jadwal mereka besok pagi.


"Iya, yuk tidur. Maafkan aku juga Ayumi, sudah salah paham dengan ini semua," ucap Rara pelan.


Mereka berdua berpelukan dan saling memaafkan satu sama lain.

__ADS_1


Lampu kamar sudah dimatikan, hordeng jendelanya juga sudah ditutup rapat. Keduanya merebahkan diri berdampingan.


Ayumi dan Rara sudah menutup mata, namun keduanya tidak bisa tidur. Keduanya masih memikirkan masalahnya masing-masing.


Malam yang semakin larut, membuat Ayumi dan Rara akhirnya tertidur pulas dengan pikirannya masing-masing.


Pagi ini tiba-tiba saja Ayumi rindu dengan Bunda Alisha. Ayumi langsung mendoakan kedua orangtuanya.


Seperi biasa, Ayumi melaksanakan sholat tahajud sebanyak dua rakaat.


Suara alarm berbunyi sangat nyaring saat waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.


Ayumi terbangun dan beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk berwudhu.


Sajadah milik Bunda Alisha sudah Ayumi gelar. Mukena yang dipakai Ayumi juga mukena milik mendiang ibunya.


Ayumi melaksanakan sholat tahajud dua rakaat dengan khusyuk. Setelah selesai sholat, Ayumi berdzikir lalu berdo'a.


Ayumi mendoakan kedua orangtuanya yang sudah meninggal, agar diterima iman Islamnya, agar diampuni segala dosanya dan agar bisa ditempatkan di sisi Allah SWT.


Air matanya mulai menetes ke pipi. Ayumi tidak bisa menahan rasa sedihnya mengingat kedua orangtuanya yang begitu cepat meninggalkan dirinya sendiri.


Terkadang Ayumi ingin ikut pergi bersama kedua orangtuanya juga. Hatinya perih dan pedih, rasanya ingin terus menangis di atas sajadah milik ibunya.


'Ayumi ...' suara hati Ayumi menenangkan hatinya sendiri.


Sajadah itu harum sekali, harumnya wewangian milik Bunda Alisha. 'Bunda ... Ayumi rindu. Ayumi sudah menemukan laki-laki baik yang menolong nyawa Ayumi sewaktu kecil. Sesuai janji Ayumi pada Bunda untuk mencintai laki-laki itu sepenuh hati Ayumi. Namun, semakin Ayumi kenal ada hal yang janggal di hati Ayumi,' batin Ayumi.


Air mata itu masih saja deras luruh begitu saja membasahi pipi Ayumi. Butiran tasbih yang masih ada di genggaman Ayumi, masih terus berputar mengikuti jari-jari mungil Ayumi melafalkan Asmaul Husna.


'Ayah ... Ayumi rindu pada Ayah. Ayumi sering takut pada kesendirian, tapi semua itu harus Ayumi lalui dengan ikhlas. Ayumi mencoba menerima semuanya dengan sabar sama seperti yang Ayah selalu ajarkan pada Ayumi,' batin Ayumi.


Kedua matanya terpejam, tangisan Ayumi dini hari itu membuat lega Ayumi. Ada kenikmatan tersendiri saat telah melakukan Sholat tahajud.

__ADS_1


Ayumi akhirnya tertidur pulas di atas sajadah, dan memimpikan kedua orangtuanya secara bergantian.


__ADS_2