Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
12


__ADS_3

Afnan sudah datang menjemput Ayumi. Motor besarnya sudah terparkir di halaman depan rumah Nenek Arsy. Afnan sendiri sudah duduk di teras menunggu Ayumi keluar dari rumah.


Nenek Arsy selesai berbelanja sayur dan datang dari arah depan. Tatapannya langsung tersorot pada motor besar yang sudah terparkir cantik dihalaman.


Langkahnya dipercepat untuk segera sampai di teras rumahnya. Di rumah hanya ada Ayumi seorang, yang ditakutkan Nenek Arsy itu bila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Semua itu bisa terjadi karena adanya kesempatan.


"Sudah datang Nak Afnan." ucap Nenek Arsy dengan suara sedikit keras hingga mengagetkan Afnan yang sedang melamun.


"Eh Nenek." ucap Afnan terhagap. Jantungnya langsung berdegup kencang karena terkejut.


"Nenek ... Ayumi berangkat ya." teriak Ayumi saat melihat Nenek sudah datang dari belanja sayuran. Ayumi mendekati Nenek dan berpamitan lalu mencium punggung tangan Nenek Arsy dengan sopan.


"Hati-hati Ayumi. Kalau pulang langsung pulang jangan main." ucap Nenek Arsy menasehati.


"Siap Nek. Kita berangkat sekarang Kak?" tanya Ayumi kepada Kak Afnan pelan.


"Nek, kita berdua berangkat dulu. Kita berangkat sekarang Ayumi." ucap Afnan dengan sopan kepada Nenek Arsy lalu mencium punggung tangan Nenek Arsy penuh hormat.


"Jagain cucu Nenek, Nak Afnan." ucap Nenek Arsy tegas.


"Pasti Nek. Afnan janji pada Nenek untuk selalu menjaga Ayumi." ucap Afnan singkat.


Ayumi sudah lebih dulu menuju motor Afnan. Afnan mengikuti dari belakang dan menaiki motor besar tersebut. Ayumi sudah duduk manis di belakang Afnan.


Nenek Arsy mengantarkan sampai tangga teras yang berpagar lalu memegang sebuah bungkusan kantong plastik yang tergantung disana.


"Ayumi, ini milikmu?" teriak Nenek Arsy kepada Ayumi. Nenek Ayumi langsung berjalan menghampiri Ayumi dan memberikan bungkusan kantong plastik hitam itu.


Ayumi menatap kantong plastik itu lalu menganggukkan kepalanya. Kantong plastik itu berisi roti tawar dengan selai srikaya pemberian Kak Kahfi tadi pagi.


"Iya Nek. Plastik itu punya Ayumi isinya roti dari Kak Kahfi." ucap Ayumi dengan polosnya.


Afnan mendengar nama adiknya tersebut dari bibir Ayumi langsung menoleh ke arah belakang dan menatap wajah Ayumi yang memang polos tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


"Dari siapa? Kahfi?" tanya Afnan dengan tatapan lekat kepada Ayumi.


"Iya Kak Kahfi. Kak Afnan kenal?" tanya Ayumi kemudian.


"Kahfi itu adikku. Apakah kamu tidak tahu Ayumi? Bukankah Kahfi di Pesantren, kapan Kahfi kesini?" tanya Afnan bertubi-tubi kepada Ayumi.


"Ayumi harus jawab yang mana dulu Kak Afnan. Pertanyaannya banyak sekali." ucap Ayumi pelan lalu terkekeh.


"Ceritakan saja kebenarannya." ucap Afnan seolah baik-baik saja padahal Afnan sedang terbakar api cemburu pada adiknya sendiri yang juga menyukai Ayumi.


"Tadi pagi Kak Kahfi datang dan memberikan ini dengan temannya satu motor." ucap Ayumi dengan jujur sambil mengingat-ingat kejadian tadi pagi yang begitu singkat.


"Benar itu Kahfi? Bukan orang lain?" ucap Afnan yang masih tidak percaya.


"Bener Kak Afnan, Ayumi gak bohong." ucap Ayumi pelan.


"Kita berangkat sekarang Ayumi. Kamu pegangan Kakak." ucap Afnan sedikit tegas.


Hatinya kesal dan marah campur aduk menjadi satu tak karuan. Senyum bahagia yang tersirat sejak pagi tadi, sekarang hilang begitu saja karena kecewa dan kesal. Ayumi terdiam dan hanya menuruti kata-kata Kak Afnan. Senyumnya merekah saat motor itu mulai berjalan melaju ke arah sekolah Ayumi.


"Iya Kak. Ayumi pasti belajar dengan baik agar hasilnya juga maksimal." ucap Ayumi dengan penuh semangat.


"Ay, memang kamu mau melanjutkan sekolah ke Al Azhar?" tanya Afnan kepada Ayumi.


"Kalau memang nilai Ayumi mencukupi kenapa tidak? Ayumi mau cari beasiswa untuk kuliah jurusan kedokteran. Ayumi ingin menjadi seorang dokter. Itu keinginan Ayah dan Bunda." ucap Ayumi pelan dan sangat lirih.


"Wah Kakak harus menunggu Ayumi sampai menjadi dokter dong?" ucap Afnan pelan.


"Apa maksud Kakak?" tanya Ayumi pelan kepada Afnan.


"Tidak apa-apa Ayumi. Kakak akan selalu mendukung study Ayumi hingga semua keinginan dan cita-cita Ayumi bisa terwujud. Satu pesan Kakak, jangan lupakan sholat dan membaca Al-Quran, agar hidupmu lebih berkah dan dekat dengan Allah." ucap Afnan pelan menasehati Ayumi.


"Terima kasih Kak atas semua perhatian dan motivasi Kakak untuk Ayumi." ucap Ayumi singkat.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian sampai ke sekolah, motor Afnan langsung masuk ke tempat parkiran guru. Ayumi turun dari motor Afnan dan merapikan pakaian seragamnya.


"Masuk duluan Ayumi. Kakak masih ada urusan mau ke ruang Tata Usaha di depan." ucap Afnan menitah.


"Iya Kak. Terima kasih." ucap Ayumi pelan lalu membalikkan badannya dan berjalan menuju kelasnya.


"Ayumi, nanti pulang sekolah langsung kesini. Tunggu Kakak disini." ucap Afnan setengah berteriak.


Ayumi menoleh dan memberikan jempol tangan kanannya tanpa menjawab dengan suara dan meneruskan berjalan di sepanjang koridor menuju kelasnya.


Afnan menatap Ayumi hingga bayangan Ayumi benar-benar hilang dari pandangannya. Tangannya terkepal dan dipukulkan ke arah tembok yang ada didekatnya.


"Kenapa harus ada kamu Kahfi! Kenapa!" teriak Afnan sedikit histeris.


"Kak Afnan." panggil Zura dengan suara teramat lembut. Suara itu mirip dengan suara gadisnya yang selama ini Afnan cintai.


Afnan menoleh ke belakang dan tersenyum kecut kepada Zura. Afnan masih bisa berpikir dengan sehat. Masih bisa mengendalikan emosinya hingga terlihat biasa saja.


"Kak Afnan? Ada apa dengan dirimu?" tanya Zura lembut dan berjalan mendekati Kak Afnan yang masih mematung menatap Zura dengan wajah masam.


"Aku tidak apa-apa, Zura. Cukup jangan lagi berpura-pura perduli padaku." ucap Afnan dengan ketus.


"Ada apa denganmu Kak? Tidak biasanya, Kakak berucap kasar seperti ini pada Zura." ucap Zura lirih. Hatinya terluka mendengar kata-kata kasar yang terlontar dari bibir Afnan.


"Kakak tidak bisa Zura. Kakak tidak sanggup menatap wajah sayumu itu lagi karena Kakak tidak bisa membalas cintamu Zura. Ada hati seorang gadis yang Kakak jaga selama ini. Sepuluh tahun lamanya, Kakak menunggu gadis itu dan sekarang Kakak menemukan gadis itu." ucap Afnan pelan menjelaskan dengan detil.


"Siapa gadis beruntung itu Kak Afnan. Siapa?" tanya Zura dengan nada menyentak dan menatap tajam ke arah Afnan.


Afnan membuang wajahnya dan menatap ke arah lain. Tangannya kembali terkepal saat urusan pribadinya di usik oleh orang lain sekalipun itu saudaranya sendiri.


"Siapa gadis itu Kak? Apa kurangnya Zura di mata Kakak, sehingga Kakak lebih memilih wanita lain daripada Zura." ucap Zura keras.


Lagi-lagi hati Zura kembali terluka mendengar pengakuan yang tidak biasa ini dari bibir orang yang Zura cintai. Afnan adalah lelaki yang selalu Zura banggakan di depan kedua orang tuanya. Tapi kini Afnan benar-benar membuat Zura sakit.

__ADS_1


'Siapa gadis itu,' batin Zura.


__ADS_2