Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
60


__ADS_3

Setelah mengantarkan Ayumi ke Pondok Pesantren Al Azhar, Kahfi melajukan mobilnya kembali menuju kampus barunya. Acara orientasi di kampus sudah dilakukan satu minggu sebelum acara perkuliahan dimulai dengan alasan agar tidak mengganggu jadwal perkuliahan mahasiswa baru.


Kahfi sudah memarkirkan mobil sportnya di lapangan parkir khusus mahasiswa. Sebenarnya Kahfi lebih nyaman menggunakan motor besar kesayangannya dibandingkan harus mengendarai mobil kerennya ini, alasannya yang pertama adalah Kahfi hanya sendiri tidak memiliki pacar atau gebetan untuk dibawa, yang kedua kota Yogyakarta itu padat dan macet jadi akan memakan waktu yang lama pula jika menggunakan mobil sportnya ini.


"Fi!!" teriak Andra dari arah belakang sambil menepuk bahu Kahfi.


Kahfi menoleh ke belakang dan tersenyum simpul pada sahabatnya sejak SMP itu.


"Ndra? Sendirian? Yang lain pada kemana?" tanya Kahfi pelan sambil mengambil tas selempangnya dari jok belakang lalu menutup pintu mobil dan menguncinya dengan remote.


Andra dan Kahfi berjalan menuju anak tangga yang menghubungkan kelas-kelas perkuliahan.


"Mata kuliah apa ya? Kok lupa!," ucal Andra pelan sambil menepuk jidatnya yang lebar.


"Pengantar Bisnis," ucap Kahfi pelan dan tetap berjalan melalui lorong kampus menuju arah belakang.


Di sekitar lorong banyak terdapat kelas dan kursi lorong untuk menunggu kelas sebelumnya selesai atau menunggu dosen mata kuliah yang belum hadir.


Kahfi berjalan menatap lurus ke depan, wajahnya yang tampan memang terlihat cuek dan cool ditambah dengan setelan kemeja lengan pendek dan celana panjang berbahan blue jeans dan sepatu olahraga yang sedang trend, membuat Kahfi makin mempesona dan digilai oleh banyak wanita.


"Fi, lihat tuh, kaum hawa menatap ke arah kita, berasa artis ya," ucap Andra pelan namun terlihat narsis.


Kahfi hanya diam tidak merespon ucapan Andra, kedua matanya mencari ruangan kuliah bernomor dua ratus lima yang artinya ruangan tersebut berada di lantai dua. Angka depan ruangan memberikan kode bahwa ruangan tersebut ada di lantai berapa.


"Itu Fi, ruangan dua ratus lima," ucap Andra mengeja nomor ruangan tersebut.


Kahfi menatap ruangan tersebut, dan melihat masih banyak maba yang berada di luar ruangan karena dosen mata kuliah tersebut belum hadir.


Kedatangan Kahfi dan Andra menjadi pusat perhatian para kaum hawa. Satu Minggu yang lalu, Kahfi terpilih sebagai raja Maba untuk angkatan tahun ini, dan Mutia sebagai ratu Maba angkatan tahun ini.


Jadi, setidaknya sudah banyak yang mengenal nama Kahfi dan sudah hapal persis perangai Kahfi itu seperti apa.

__ADS_1


"Fi, kita satu kelas juga?" tanya Mutia pelan dari arah dalam ruangan tersebut.


Kahfi menoleh ke arah sumber suara yang tidak asing lagi. Menatap wajah ayu Mutia dengan dress selutut, rambut panjang dengan potongan layer dan alas kaki bertali yang memiliki tumit tinggi.


Senyum Mutia melebar saat Kahfi menatap wajahnya dan tersenyum kepadanya.


"Iya kita satu ruangan Tya," jawab Kahfi singkat kepada Mutia.


Senyum Kahfi tertahan, wajahnya juga nampak dingin.


"Pilih belakang Ndra!" ucal Kahfi dengan nada agak keras.


Andra menatap kursi di shaf terakhir. Satu meja bisa di tempati oleh empat orang mahasiswa.


Dunia Sekolah dan dunia perkuliahan tentu sangat berbeda jauh. Dari segi susana, kondisi lingkungan, teman-teman dan juga dosen yang mengajar. Aturan disekolah itu sangat baku dan otoriter, mau tidak mau harus dan wajib dilakukan, berbeda dengan dunia perkuliahan, walaupun aturan baku, namun tidak otoriter atau mengikat, hanya saja resiko dan konsekuensinya ditanggung masing-masing mahasiswa.


Hari ini benar-benar melelahkan bagi Kahfi. Sejak pagi sarapan di rumah Ayumi, sore ini baru bisa ketemu nasi dan teman-temannya di piring makannya.


Dengan mulut yang masih penuh mengunyah makanan, Kahfi dengan cueknya sambil berbicara menjawab pertanyaan Bunda Icha.


"Alhamdulillah, baik kok Bunda, teman-teman Kahfi juga asyik, tapi ..." ucapan Kahfi terhenti sebentar.


Bunda Icha yang mendengar dan menyimak langsung menatap tajam ke arah Kahfi. Sudah menjadi kebiasaan seorang Kahfi kalau berbicara sering di putus membuat penasaran yang mendengarnya.


"Peace Bunda, sebentar ini lagi ngunyah, ditelen dulu ya, nanti Fi keselek kalau buru-buru," ucap Kahfi beralasan.


Kahfi sangat tahu persis tingkat keingintahuan Bundanya terhadap kehidupan asmara dan aktivitas Kahfi.


"Mau lanjut ceritanya atau Bunda bilang Abang, kalau adiknya menyukai wanita yang sama," ucap Bunda Icha sambil tertawa terbahak-bahak.


"Bunda!! Jangan dong, Abang jangan pernah tahu hal ini. Kalau Abang tahu, pasti Abang akan mengalah untuk Kahfi. Kahfi ingin lihat Abang Afnan bahagia dengan wanita pilihannya," ucap Kahfi pelan kepada Bundanya.

__ADS_1


Bunda Icha hanya mengangguk pelan tanda paham dengan penjelasan Kahfi.


"Tapi, kamu yakin akan tetap mencintai Ayumi? Kenapa tidak mencoba mencintai Rara, dia gak kalah cantik, Fi," tanya Bunda Icha pelan.


"Siapa sih Bunda yang bisa menolak rasa cinta? Kalau bisa memilih pasti, Fi memilih yang terbaik, tapi memang sudah takdir Fi mencintai Ayumi dan bukan yang lain, tentu Fi tidak bisa memaksakan hati," ucap Kahfi pelan menjelaskan kepada Bunda Icha.


"Bunda tidak tega lihat kamu kayak begini, kayak gak ada semangat hidup," ucap Bunda Icha pelan.


"Fi masih beruntung, bisa ketemu Ayumi, lihat senyumnya, walaupun sekarang Fi gak tahu kapan lagi bisa ketemu Ayumi," ucap Fi pelan.


"Fi, lebih baik kamu lanjutkan itu hapalan Qur'annya. Sayang tinggal sepuluh juz lagi kan" tanya Bunda Icha pelan.


"Tapi Bunda, Fi kan lagi kuliah disini," ucap Kahfi pelan kepada Bundanya.


"Kamu siang kuliah Fi, malam kamu coba tinggal di Pesantren lagi, kamu bisa lanjutkan hapalanmu Fi," ucap Bunda Icha pelan.


Kahfi mengunyah makanannya sambil berpikir sejenak. Ucapan dan nasihat Bundanya ada benarnya juga ya.


"Nanti Fi pikirkan Bunda. Maksud Fi, gimana caranya mengatur waktu Fi," ucap Kahfi pelan menjelaskan.


"Itu keinginan Bunda, tapi juga untuk kebaikan kamu, Fi," ucap Bunda pelan.


"Iya Fi paham Bunda," ucap Kahfi lirih laku menghabiskan makanannya.


"Itu gelang kok sama kayak yang dipakai Ayumi, bener kan Fi?" tanya Bunda Icha menatap gelang yang dipakai oleh Kahfi.


"Iya Bunda, memang sama, Kahfi yang beli untuk Ayumi sebagai kenang-kenangan aja," ucap Kahfi dengan santai.


"Jangan sakiti Abangmu dengan hal-hal kecil seperti ini. Lupakan Ayumi, Fi. Buka hatimu untuk wanita lain, cari idola baru untuk menetap dalam hati kamu, Fi," ucap Bunda memberikan solusi.


Kahfi hanya terdiam menelan seluruh makanan yang sudah di kunyah lalu meneguk air putih yang ada di gelas besar di meja makan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2