
Pagi ini hotel memang terlihat sangat ramai sekali. Semalam banyak tamu yang memesan kamar dan langsung chek in beberapa hari untuk berlibur. Ayumi yang baru saja datang langsung di suguhi banyak pekerjaan. Pagi ini, Manager hotel turun tangan untuk menerima tamu karena ada beberapa karyawan hotel yang tak hadir karena sakit dan keperluan yang lain. Fika dan Ayumi terpaksa beralih menjadi pengantar tamu menuju kamar dan mempersiapkan kamar serta membersihkan kamar tamu yang sudah di tinggalkan oleh tamunya.
"Kenapa kita jadi bersih -bersih begini? Benar -benar tidak sesuai dengan tupoksinya," ucap Fika mengeluh lelah. Sudah setahun enak bekerja di belakang meja dan mencatat tamu hotel. Hari ini mereka kembali dengan pekerjaan semula, memegang sapu, pelan, tempat sampah, mengganti sprei mengelap meja.
"Nikmati saja. Namanya juga bawahan. Lagi pula, kalau formasi karyawan lengkap, kita juga gak akan di geser pekerjaannya seperti ini. Lihat aja tuh Pak Reza juga harus terima tamu. Padahal dia tugasnya apa?" ucap Ayumi menjelaskan.
"Widih ... Dibelain nih. Ciee ... Pak Reza gak tuh," ucap Fika menggoda Ayumi.
"Lhaa ... Kok malah ganti godain. Ini serius," ucap Ayumi menarik napas dalam.
__ADS_1
"Ay!! Sini!!" panggil Reza. Ayumi langsung menghampiri dan bertanya apa keperluannya.
"Ada apa Pak? Ada yang bisa Ayumi bantu?" tanya Ayumi sopan.
"Ini kunci kamar nomor dua ratus sembilan puluh sembilan dan tiga ratus. Mereka minta tolong untuk di bersihkan dan ganti sprei sekalian minta minuman hangat pagi yang di letakkan di meja serta sarapan roti. Mereka sedang berjalan -jalan ke pasar, satu jam lagi kembali. Jadi kamu hanya ada waktu setengah jam untuk masing -masing kamar," ucap Reza pada Ayumi.
"Baik Pak. Ayumi kerjakan sekarang," ucap Ayumi selalu bersemangat. Ayumi memilih ke kamar yang di ujung, nomor tiga ratus.
Tepat di waktu setengah jam, Ayumi berpindah ke kamar yang satunya. Ayumi melakukan hal yang sama. Tanpa sengaja, Ayumi menyenggol tas kecil yang ada di nakas saat mengganti sprei, dan seluruh isi tas itu tumpah berceceran di lantai. Baru juga, Ayumi akan mengumpulkan barang -barang yang bercecer itu dan emmasukkan kembali ke dalam tas. Ada suara pintu terbuka dan Ayumi terkejut bukan main.
__ADS_1
"Kamu ngapain!! Kamu pasti ingin mencuri!!" teriak seorang laki -laki dengan suara keras.
Ayumi yang memakai baju seperti maid dengan kerudung instant dan masker di wajahnya membuat lelaki itu bergerak cepat ingin membuka masker wajah AYumi.
Ayumi yang kaget tambah di buat panik karena ia mengenal sosok lelaki yang ada di depannya.
"Ada apa sayang? Suaranya keras sekali? Sampai terdengar di luar," ucap seorang wanita yang sedang mengandung. Perutnya sangat besar dan sepertinya sudah waktunya untuk emlahirkan. Wajah perempuan itu terlihat kuyu, pucat dan lemas. Mungkin karena habis berjalan terlalu jauh hingga kelelahan.
"Lihat!! Dia menumpahkan isi tas kamu, Ra!! Dia pasti sengaja ingin mencuri. Padahal pekerjaannya belum selesai!! Akan aku laporkan pada manajer hotel. Kamu siapa!! Buka masker kamu!!" teriak Kahfi dengan suara keras dan lantang. Kahfi terlihat sangat marah sekali.
__ADS_1
"Maaf. Maafkan saya. Tadi tidak sengaja trejatuh saat merapikan sprei baru, dan saya berusaha memasukkan tanpa ingin tahu apapun. Kalau memang ingin di laporkan silahkan. Tapi saya sudah bicara dengan jujur," ucap Ayumi lirih dan menunduk.
Jantungnya berdegup keras. Ada apa denagn dirinya. Kenapa harus bertemu Kahfi dan Rara di saat seperti ini. Ayumi sudah bahagia dengan kehidupannya. Begitu juga dengan Kahfi dan Rara yang jelas sudah bahagia, karena Rara sedang mengandung. itu tandanya, Kahfi bisa menerima Rara dan memberikan buah cinta.