Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
26


__ADS_3

Ayumi dan Rara keluar dari kamar sudah menggunakan pakaian olahraga dengan rapi dan sopan. Namun, ada yang berbeda dari Rara pagi ini. Ya, Rara mencoba untuk menutup aurat mahkotanya dengan hijab.


Hari ini, senyum Rara terlihat sangat mempesona dan kharismanya nampak anggun.


"Selamat pagi Nek," sapa Ayumi kepada Nenek Arsy lalu mengecup pipi Sang Nenek.


"Pagi Nenek," sapa Rara juga dengan suara lembut.


"Pagi Ayumi sayang," jawab Nenek Arsy dan membalas kecupan Ayumi di pipi cucu kesayangannya itu.


"Nenek tidak menjawab sapaan pagi Rara," ucap Rara dengan nada manja.


"Cucuku Rara, kamu tampak menawan dengan hijab itu. Jangan lupa untuk tetap Istiqomah ya," ucap Nenek Arsy menasehati.


"Inshaa Allah Nek, doain Rara, Nek. Cantik gak Nek?" tanya Rara kepada Nenek Arsy.


"Semua perempuan itu cantik. Auranya makin terlihat cantik dan mempesona bila kalian rajin berwudhu, rajin ibadah, rajin baca Qur'an, rajin berdzikir, rajin bersholawat, dan memiliki akhlak yang baik sesuai tuntunan agama Islam," ucap Nenek Arsy menjelaskan.


"Berwudhu itu bisa membuat kita cantik, gitu Nek?" tanya Rara dengan polos.


Ayumi dan Nenek Arsy tertawa terkekeh mendengar ucapan Rara yang polos tanpa memahami dengan baik apa yang dimaksud Nenek Arsy.


"Bukan begitu maksud Nenek, Ra. Berwudhu itu kan salah satu syarat untuk sholat, ada doa-doanya juga kan. Pada saat kita membasuh tangan, wajah dan kaki, secara otomatis cahaya dari doa-doa yang kita lafalkan itu yang bisa memberikan aura yang berbeda," jelas Ayumi kepada Rara.


Rara hanya nampak menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Berwudhu itu suci, maka disaat kita melakukan wudhu dan masih memiliki wudhu, itu rasanya juga akan berbeda. Jaga selalu wudhu kita, sering-sering berwudhu walaupun bukan untuk melaksanakan sholat, biasakan setelah mandi berwudhu, setelah ke kamar mandi berwudhu, pokoknya bisa menjaga wudhu. Terlebih kalian berdua, gadis-gadis yang baru tumbuh dan berkembang, fungsi berwudhu juga bisa untuk menjaga diri kita dari sentuhan orang-orang yang bukan mahramnya," jelas Nenek Arsy panjang lebar.


Ayumi dan Rara sudah duduk di meja makan saking berhadapan Mereka bersua menyimak dengan baik apa yang dijelaskan oleh Nenek Arsy.


Ilmu agama itu bisa kita dapatkan dari mana saja, oleh siapa saja. Tidak harus yang lebih tua itu pasti memiliki ilmu agama yang tinggi atau yang lebih muda dianggap tidak memiliki ilmu agama yang mumpuni. Semua itu belum tentu, terkadang alim ulama juga memiliki kesalahan, itulah gunanya bertanya dan sharing tentang ilmu agama pada orang lain.

__ADS_1


Ilmu agama itu harus dibagikan dan diamalkan bagi yang sudah paham. Bagi yang belum paham, sering-sering bertanya, berkonsultasi dengan orang-orang yang paham dan mumpuni agar apa yang kita kerjakan itu tidak salah yang berakhir pada kesia-siaan bukan malah pahala yang didapat.


Tidak semua alim ulama itu pasti benar, dikaji dulu, dibedah dulu, disimak dan cari ulama lain untuk menyamakan persepsi apakah sudah sesuai tuntunan agama Islam, atau apakah ini yang benar-benar diajarkan yang tertulis jelas di Al-Quran.


"Rara, paham Nek. Nek, lalu apakah sepenting itu kita sebagai perempuan harus berhijab?" tanya Rara pelan.


Nenek Arsy meletakkan satu piring besar nasi goreng spesial, lalu satu piring telur dadar yang sudah diiris-iris, lalu satu piring berisi lalapan dan yang terakhir satu toples kerupuk udang.


Ayumi dan Rara sudah tidak sabar untuk mencicipi nasi goreng buatan Nenek yang sejak tadi harumnya sudah menggoyang lidah mereka dan membuat perut mereka berteriak untuk segera minta diisi.


"Hijab? Ini sangat penting. Untuk menutup aurat. Pertanyaan sederhana Nenek untuk Rara. Rara pilih masuk surga atau neraka?" tanya Nenek Arsy kepada Rara.


Nenek Arsy menggelengkan kepalanya melihat kedua cucunya tampak berebutan untuk mengambil nasi goreng terlebih dahulu seperti perempuan yang tidak memiliki adab.


"Kalian ini, satu-satu yang ambil, jangan seperti gadis yang tidak memiliki aturan dan serakah. Itu gunanya belajar budi pekerti, agar kita sebagai perempuan bisa menempatkan diri di manapun berada. Budi pekerti kita akan dikatakan baik, jika kita pintar menyesuaikan diri dengan keadaan di lingkungan sekitar. Boleh menjadi yang unggul tapi karena hal-hal yang positif, bukan unggul karena dikenal hal-hal buruknya," ucap Nenek Arsy menjelaskan dengan suara yang agak meninggi.


Ayumi dan Rara langsung terdiam dan satu per satu bergantian mengambil makanan lalu memakan nasi goreng itu dalam keheningan.


Nenek Arsy duduk di dekat Ayumi setelah menyiapkan air putih di teko besar dan beberapa gelas yang diletakkan di meja makan.


"Nek, tadi Nenek bertanya, Rara pilih Surga atau Neraka? Tentu Rara pilih Surga dong, Nek," ucap Rara dengan antusias sambil mengunyah nasi goreng didalam mulutnya.


"Nah, kalau pilih Surga, cari dong syarat apa tiket menuju Surga," ucap Nenek Arsy dengan singkat.


Nenek Arsy mengambil piring dan mengisi piring kosong tersebut dengan nasi goreng buatannya sendiri ditambah telur dadar dan irisan timun serta satu kerupuk udang.


Nikmat makan itu sebenarnya bukan terletak dari menu apa yang kita makan, tapi situasi dan kondisi kehangatan dan keharmonisan suatu keluarga yang bisa menghidupkan aura kebersamaan dengan cara bersyukur.


Rara sejak tadi berpikir keras, makanan yang dikunyah juga terasa hambar dan tidak berasa di dalam mulutnya, karena diotaknya masih ada beberapa pertanyaan yang akan di ajukan kepada Nenek Arsy.


"Nek, bisa kasih tahu Rara, tiket menuju Surga itu apa saja?" tanya Rara dengan suara pelan.

__ADS_1


Nenek Arsy mendengar pertanyaan Rara ikut tersenyum. Hanya orang-orang tertentu yang menyimak, lalu antusias bertanya karena ingin menjadi lebih baik lagi.


"Banyak sekali Ra, salah satunya berhijab, ini bukan sekedar penutup kepala atau penutup aurat, tapi lebih menjaga diri sebagai gadis. Melaksanakan sholat wajib, ini juga sangat penting dan diwajibkan. Bila yang wajib sudah biasa dilakukan, maka sunnah pun akan lebih mudah dilakukan juga. Karena kita sudah bisa membagi waktu dengan baik," jelas Nenek Arsy pelan.


"Itu baru dua hal Ra. Masih banyak lagi tiket menuju Surga, terlebih kita ini terlahir sebagai perempuan. Yang Nenek sebutkan tadi kita lakukan sebelum kita berkeluarga atau sebelum kita menikah. Kalau kita sudah menikah dan berkeluarga, tiket ke surganya pasti akan berbeda lagi," ucap Ayumi ikut mengomentari.


"Benarkah itu Nek? Apa Nek tiket ke surga kita jika sudah menikah?" tanya Rara makin semangat dengan topik pembicaraan yang semakin menarik ini.


"Waduh, semangat amat Neng, mau nikah muda?" goda Ayumi sambil menyelesaikan sarapan paginya.


"Nikah sudah pasti Ayumi, kalau boleh milih, nikahnya sama Kak Kahfi," ucap Rara semangat.


"Jadi menginap disini ada tujuan lain, Ra?" goda Nenek Arsy kepada Rara.


Rara hanya tersenyum malu-malu mendengar ucapan Nenek Arsy.


"Sambil menyelam minum air kan Nek. Apa Rara salah?" tanya Rara pelan kepada Nenek Arsy.


"Bukan salah, menyukai dan mencintai itu anugerah yang diberikan oleh Allah SWT. Tapi, kita harus menyikapinya dengan bijak. Jangan sampai rasa cinta itu melebihi cinta kita kepada Allah SWT dan Rasul-nya," ucap Nenek Arsy menjelaskan.


"Lebih tepatnya Ra, kita sekokah dulu," sela Ayumi lalu tertawa.


"'Ayumi, kamu itu. Nek, berharap boleh kan?" tanya Rara kemudian.


"Boleh saja, tapi kalau berharap yang berlebihan itu nafsu jadinya, ujung-ujungnya ada perbuatan yang tidak baik. Lebih baik, kita ikuti takdir Allah SWT, kita hanya berusaha dan mengusahakan sebaik mungkin," jelas Nenek Arsy mengakhiri suapan terakhirnya lalu meneguk air putih di dalam gelas hingga tak bersisa.


Ayumi dan Rara cukup jelas dengan hal yang dijelaskan Nenek Arsy pagi hari ini. Sarapan dapat, ilmu pun dapat.


Setelah sarapan pagi, Ayumi dan Rara memulai olahraga paginya dengan berjalan santai mengitari jalan kampung.


Mereka berdua lebih terlihat akrab dan santai. Rara pun semakin merasa nyaman bersahabat dengan Ayumi.

__ADS_1


__ADS_2