
Hari ini adalah hari kelulusan bagi Ayumi, setelah beberapa minggu lalu menghadapi ujian nasional secara serentak.
Semua murid dinyatakan lulus seratus persen. Kebahagian yang hakiki tentu setelah apa yang kita usahakan mendapatkan hasil yang maksimal dan memuaskan.
Ayumi adalah murid yang mendapatkan nilai tertinggi. Lulus dengan nilai sempurna. Nama sekolah ikut harum dengan prestasi salah satu muridnya yang memiliki tingkat kecerdasan diatas rata-rata.
Dengan bangga, sekolah memberikan beasiswa kepada Ayumi untuk bisa melanjutkan sekolah dengan gratis tanpa biaya.
Harapan Ayumi untuk bisa meraih cita-citanya pelan-pelan terbuka lebar. Ayumi juga bangga dengan hasil usaha dan kerja kerasnya untuk selalu giat dan rajin belajar, semuanya tidak ada yang sia-sia. Dimana ada kemauan dan niat maka disitu pula ada hasil akhir yang sudah menanti.
Lalu, bagaimana kabar Bunda Andara dan Kak Zura? Mereka berdua sudah pindah dari rumah Nenek Arsy seminggu yang lalu. Bunda Andara dan Zura putrinya sudah memiliki tabungan untuk membuka usaha sendiri dan menyewa tempat untuk membuka usahanya itu. Mereka berdua mengumpulkan uang dari hasil berjualan kue yang dibuat oleh Nenek Atau dan Ayumi baik secara langsung dari rumah ke rumah atau juga secara online. Setelah hasil tabungan mereka cukup, mereka mohon ijin untuk hidup lebih mandiri dan tidak ketergantungan pada Nenek Arsy dan Ayumi.
Bunda Andara membuka salon wanita, sedangkan Kak Zura bekerja di Perusahaan Manufaktur. Mereka memutuskan untuk pindah dan mencari tempat sendiri untuk membuka usahanya yang baru.
Lalu Afnan? Ya, Afnan sudah berangkat untuk ke Mesir untuk menyelesaikan studi magisternya disana. Sebelum berangkat untuk menyelesaikan studinya, Afnan menitipkan Ayumi pada Nenek Arsy dan kedua orang tua Afnan. Setelah program magisternya selesai, Afnan akan segera melamar Ayumi, walupun Ayumi belum menyelesaikan studi kedokterannya.
Sedangkan Kahfi? Baru kemarin Kahfi dinyatakan lulus dari sekolah lanjutan atas. Kahfi berniat melanjutkan kuliah jurusan Manajemen di Universitas Ternama di Kota Yogyakarta. Kahfi belum lulus sebagai Hafidz Qur'an, setidaknya Kahfi sudah berusaha dan berhasil di wisuda sampai lima belas juz saja.
Rara sahabat baik Ayumi, melanjutkan ke Sekolah Kesehatan jurusan Analis di luar kota. Setelah memilih berpisah dari Bunda Andara, kehidupan Rara dan Pak Sukoco semakin kurang harmonis. Pak Sukoco sering pulang malam, dan tidak mengurus usahanya dengan baik, hingga urusan bisnis yang diturunkan dari keluarga besar Pak Sukoco diambil alih oleh adik Pak Sukoco.
Perjalanan hidup adalah suatu takdir yang pasti. Proses pembelajaran dan pengalaman hidup dapat dinikmati dengan rasa syukur kepada Allah SWT. Suka dan duka dari pahit manis kehidupan itu adalah proses pendewasaan kita dalam bersikap.
Setiap perjalanan hidup seseorang pasti ujian dan cobaan yang menguji keimanan kita. Semua hasil akhir dari urusan di dunia ini sudah ditetapkan oleh Allah SWT.
Rejeki, jodoh, dan maut setiap orang sudah ada garis takdirnya masing-masing. 'Jika sesuatu hal ditakdirkan untuk menjauh darimu, maka ia takkan pernah mendatangimu.
Namun, jika ditakdirkan bersamamu dan untuk dirimu, maka kamu tidak akan bisa lari darinya.'
"Ayumi, besok aku berangkat ke solo," ucap Rara pelan kepada Ayumi.
__ADS_1
Keduanya diam dan hening, duduk dipinggir lapangan sekolah yang mempertemukan mereka berdua hingga menjadi sahabat. Pertemuan yang singkat, hanya beberapa bulan saja sejak kepindahan Ayumi ke sekolah tersebut.
"Kamu tidak mau ketemu dengan Bunda Andara dan Kak Zura, Ra?" tanya Ayumi pelan agar tidak menyinggung perasaan Rara.
Rara menggelengkan kepalanya pelan lalu menatap Ayumi sendu.
"Kenapa? Masih benci?" tanya Ayumi kepada Rara.
"Bisa jadi. Aku ikut sedih Ay. Ayahku sekarang berubah drastis hingga usaha keluarga pun saat ini di pegang oleh Om Broto," ucap Rara lirih.
Ayahnya adalah kebanggaan Rara. Senyum Ayahnya adalah kebahagiaan Rara. Luka Ayahnya akan menjadi cambuk bagi Rara.
"Jangan membenci seseorang terlalu berlebihan Ra. Apalagi Bunda Andara adalah Ibu kandungnya sendiri. Kita akan menyesal bila sudah kehilangan, Ra. Seperti aku?" ucap Ayumi menasehati Rara.
"Aku harus bagaimana Ay. Minta maaf? Kan yang salah Bunda, Ay," tanya Rara kepada Ayumi.
"Tapi aku benci Bunda, Ay. Aku benci karena Bunda, Ayah jadi berubah seperti sekarang ini," ucap Rara menangis.
Ayumi iba melihat Rara yang sedang terpuruk seperti ini. Ayumi memeluk sahabatnya dengan erat, sambil mengusap punggung Rara dengan pelan untuk memberikan kenyamanan disana.
"Kadang aku jadi takut untuk berumah tangga, Ay," ucap Rara pelan.
Kepala Rara bersandar pada bahu Ayumi.
"Aku antar ke rumah Bunda Andara ya, Ra? Minta maaf dan mohon pamit, doa seorang Ibu itu mustajabah, Ra," ucap Ayumi pelan.
"Tapi Ay? Aku masih belum bisa menerima Bunda," ucap Rara pelan. Hatinya masih kecewa akan perbuatan Bunda Andara.
"Jangan biarkan setan itu tinggal di hatimu Ra. Benci itu temennya setan kan?" ucap Ayumi pelan.
__ADS_1
Rara melepas pelukan dari sahabatnya dan menatap sahabatnya dengan senyuman.
"Kamu banyak mengajarkan aku Tetang kebaikan Ay. Aku tahu, aku salah dan aku sudah durhaka pada Bunda. Seharusnya aku sebagai anak tidak boleh berpihak pada salah satu, seharusnya aku membela mereka semua dari sudut pandangan yang berbeda," ucap Rara pelan.
"Jawaban yang tepat Ra. Kamu harus bisa memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik, dan jangan sampai timbangannya tidak seimbang," ucap Ayumi dengan lembut.
"Beneran dianter ya, Ay," ucap Rara pelan.
"Iya , aku antar Ra," ucap Ayumi pelan.
Pengumuman kelulusan hari itu sudah selesai. Semua murid berbahagia dengan caranya masing-masing. Ada yang berkeling kota dengan convoy motor, ada yang mencoret-coret seragam dengan memberikan tanda-tangan sebagai kenang-kenangan.
Pihak sekolah tidak melarang semua murid ingin berselebrasi seperti apa, asalkan tidak mengganggu ketertiban umum di Masyarakat.
Ayumi dan Rara sudah bersiap untuk pulang dan sesuai dengan rencana, mereka berdua akan mampir ke tempat Bunda Andara.
Perjalanan menuju rumah Bunda Andara tidak jauh, hanya sekitar lima belas menit bukan naik kendaraan umum.
"Masih jauh, Ay," tanya Rara pelan. Degub jantungnya makin terasa kencang.
"Itu depan ada tulisan salon wanita, kita turun disitu," ucap Ayumi memberi tahu.
Mereka berdua sudah turun dari angkutan umum dan berjalan memasuki teras rumah yang disewa oleh Bunda Andara. Disana tertulis open yang tergantung di pegangan pintu.
"Bunda Andara yang punya salon wanita ini?" tanya Rara pelan.
"Oh iya Ra. Kemajuan ya, Bunda Andara itu adalah wanita pekerja keras dan mandiri," ucap Ayumi pelan memuji Bunda Andara.
Setelah mendekati pintu masuk, Ayumi mengetuk pintu kaca dan beberapa kali memencet bell yang berbunyi dengan sangat nyaring.
__ADS_1