Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
126


__ADS_3

Dua keluarga besar itu sudah sampai di bandara tujuan. Satu mobil jemputan dari kelurga Faisal sudah menunggu di parkiran. Supir kepercayaan keluarga Faisal sudah menunggu di lobby kedatangan untuk menjemput dua keluarga yang merupakan sahabat Faisal sejak SMP.


Dari kejauhan sudah nampak dua keluarga besar itu masuk ke lobby kedatangan sambil celingukan mencari supir yang ditugaskan oleh Keluarga Faisal untuk menjemput dua keluarga sahabatnya itu.


"Assalamu'alaikum, Keluarga Pak Sukoco dan Keluarga Pak Kyai Toha," ucap salah satu supir yang menghampiri Pak Sukoco sambil membaca tulisan yang ada di kertas untuk memastikan tidak salah dalam pengucapan nama.


"Waalaikumsalam, Iya betul sekali, kamu pak Pardi?" tanya Pak Sukoco kepada supir itu.


"Betul sekali Pak Sukoco, saya Pardi, supir yang ditugaskan untuk menjemput anda semuanya," ucap Pak Pardi dengan sopan.


Semua rombongan mengikuti Pak Padi, supir dari keluarga Faisal menuju parkiran mobil dan memasukkan semua barang bawaan mereka ke dalam bagasi mobil.


Perjalanan dari bandara hingga menuju apartemen Kahfi dan Rara, akan memakan waktu satu jam dengan waktu normal, karena haru sudah sore, jalanan akan semakin padat dengan kendaraan yang berlalu lalang, mungkin perjalanan pulang akan lebih terasa lama dan lambat.


Di apartemen Kahfi dan Rara, satu kamar udah dibersihkan dengan rapi, kamar yang tadinya digunakan untuk penyimpanan barang yang tidak terpakai kini akan dugunakan sebagai kamar tamu.


Informasi kedatangan dua keluarga besar itu sudah sampai di telinga Rara karena Umi Latifa menceritakan semuanya. Persiapan untuk menyambut tamu agung sudah rapi sekitar sembilan puluh sembilan persen. Siti, asisten rumah tangga itu sudah memasak beberapa menu makanan untuk menjamu para tamu yang sebentar lagi akan sampai disini.


Pak Faisal, suami Umi Latifa juga sudah ada dalam perjalanan menuju ke rumah ini. Rara adalah orang yang paling merasakan kebahagiaan dengan surprise ini.


"Mandi dulu Ra, tamunya sudah dalam perjalanan," ucap Umi Latifa pelan yang sedang duduk bersandar di ruang tengah sambil mengusap-usap perutnya yang terasa kencang sejak tadi.


Rara menganggukkan kepalanya pelan dan berjalan menuju kamarnya untuk segera mandi dan mempersiapkan diri.

__ADS_1


"Rara mandi dulu ya Umi," ucap Rara pelan sambil tersenyum bahagia.


Siti sudah mengatakan beberapa kue kering dan makanan ringan lainnya yang diletakkan di meja ruang tamu dan meja ruang tengah.


"Sudah beres semua Siti?" tanya Umi Latifa dengan pelan sambil meringis kesakitan.


"Alhamdulillah sudah beres semua, Ibu Latifa bisa cek ke dapur," ucap Situ dengan sopan kepada Umi Latifa.


"Tidak perlu Siti, saya percaya dengan pekerjaan kamu yang selalu beres gan tidak mengecewakan," jawab Umi Latifa pelan, wajahnya seperti menahan sakit dan meringis.


Siti menatap lekat arah Ibu Latifa yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja.


"Ibu Latifa sedang sakit?" tanya Siti pelan lalu menghampiri Ibu Latifa sambil ikut mengusap perut besar itu.


Umi Latifa menggelengkan kepalanya pelan lalu bersandar mencari posisi yang enak agar rasa sakit di perutnya bisa segera menghilang.


Siti tahu persis, Ibu Latifa ini adalah sosok wanita yang kuat dan tidak mudah menyerah, tapi kalau wajahnya sudah meringis seperti ini, sudah tentu rasa sakitnya tidak tertahan lagi.


"Tidak perlu Siti, ini hanya keram mungkin kelelahan terlalu banyak duduk," ucap Umi Latifa dengan lembut menjelaskan.


Mendapatkan jawaban yang dapat menenangkan hati, Siti pun kembali kendaour untuk menyelesaikan tugasnya yang belum selesai.


Rara sudah keluar dari kamar dengan pakaian gamis berwarna biru langit dengan penuh renda membuat pakaian itu semakin cantik dan indah untuk dipandang.

__ADS_1


Pak Faisal juga datang ikut menunggu kedatangan tamu itu. Sesekali perut istrinya di usap dengan lembut dan penuh kasih sayang. Rara hanya bisa melihat keromantisan keduanya dengan iri. Berharap suatu hari Rara bisa berada di posisi yang sama dengan Umi Latifa saat ini. Mengandung anak dari orang yang dicintai dan melahirkannya serta merawat anak itu dengan sepenuh hati.


'Ahh, andaikan itu bisa terjadi dengan Kak Fi, tentu rasanya akan sangat bahagia sekali. Menyentuhku saja bahkan tidak pernah, bagaimana bisa hamil,' batin Rara di dalam hatinya mengkhayal sesuatu yang tidak mungkin terjadi karena mereka berdua belum menikah dan belum ada ikatan yang halal.


Tidak sampai dua jam menunggu kedatangan tamu agung, akhirnya dua keluarga itu sampai di apartemen milik Kahfi dan Rara.


"Assalamu'alaikum, Rara," panggil Bunda Icha yang menerobos masuk ke dalam apartemen itu sambil berlari kecil mencari sosok mungil yang akan menjadi menantunya.


"Waalaikumsalam, Bunda Icha, Masya Allah, cantik sekali," jawab Rara pelan membalas salam Bunda Icha.


Semua orang masuk ke dalam apartemen itu dan duduk di kursi tamu. Pak Sukock, Pak Kyai Toha dan Pak Faisal ketiga sahabat itu tampak langsung bersenda gurau hingga lupa dengan keadaan sekitar.


Ustad Ikhsan hanya ikut duduk bersama para bapak-bapak itu dan menyantap beberapa makanan ringan yang ada di meja. Sesekali melihat ponselnya dan ada pesan masuk ke dalam ponselnya dari istri kecilnya itu.


Isi pesan itu agak membuatnya sedikit bingung, "Mas Ikhsan, Bulan sebentar lagi akan berangkat hanya dengan Ayumi, mendadak Kak Afnan ada tugas kampus yang tidak bisa ditinggalkan, tapi tolong jangan katakan hal ini kepada siapapun, nanti akan Bulan ceritakan bila kita bisa telepon." Begitu kira-kira isi pesan itu. Bulan tidak tahu jika Ustad Ikhsan juga ikut datang untuk menyaksikan pernikahan Kahfi.


Pak Pardi, naik turun lobby untuk membawa beberapa koper dan barang bawaan masuk ke dalam apartemen yang dibantu oleh Siti. Koper besar dan tas besar itu sudah tertata rapi dikamar tamu. Kamar tamu itu sudah siap digunakan.


Sedangkan Mama Anna sudah akrab dengan Umi Latifa yang selama ini ikut membantu menjaga Rara selama berada disini.


"Bunda kok tidak mengabari Rara, jika ingin kemari, kasih surprisenya beneran bikin kaget," ucap Rara pelan yang bergelayut manja di lengan Bunda Icha.


Kedekatan Bunda Icha dan Rara sudah tidak diragukan lagi. Bunda Icha yang sudah menganggap Rara sebagai anak kandungnya sendiri, kini akan menjadi menantunya.

__ADS_1


Pikiran Bunda Icha tiba-tiba melayang kepada Kahfi yang masih berselisih paham dengannya dua hari yang lalu, hingga sampai hari ini hubungan antara anak dan Bundanya itu belum membaik. Bukan bum membaik, tapi Kahfi belum sempat menghubungi Bunda Icha walau hanya untuk bertukar kabar. Bunda Icha sendiri merasa memiliki salah tidak berani menghubungi Kahfi, anak bungsunya itu takut salah paham.


"Bunda sengaja, mau bikin Rara terkejut bahagia," jawab Bunda Icha dengan gemas sambil mengecup kening calon menantunya itu.


__ADS_2