
Bulan bergegas mencari bantuan kepada perawat yang ada di sekitar lobby tersebut untuk membawa Ayumi ke IGD.
Ada dua perawat yang menghampiri Bulan dan Ayumi lalu membawa Ayumi ke IGD dengan segera.
Dokter Ikhsan sedang memeriksa kondisi Ayumi, sedangkan Bulan berdiri di samping bed Ayumi terbaring lemah dengan wajah pucat.
"Kenapa dengan sahabat saya, dokter?" tanya Bulan pelan kepada dokter Ikhsan yang masih memeriksa kondisi Ayumi.
Dokter Ikhsan tersenyum kepada Bulan lalu menjawab dengan suara pelan, "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Ayumi hanya kelelahan saja." Hanya itu jawaban dari dokter Ikhsan tapi cukup membuat Bulan lega dan tenang.
"Apakah masih lama siumannya dokter?" tanya Bulan yang masih terlihat panik.
Kedua tangan Ayumi sangat dingin sekali, tubuh Ayumi terbaring lemah tak berdaya.
Bulan menggenggam lembut tangan mungil itu dan mengusap kepala Ayumi yang tertutup hijab.
"Sebentar lagi juga sadar, tunggu saja, kalau sudah tidak lemas sudah diperbolehkan pulang," ucap dokter Ikhsan menjelaskan.
Dokter Ikhsan kembali ke meja tugasnya, malam itu beliau bertugas sebagai dokter jaga dengan didampingi beberapa perawat yang ikut membantu menangani pasien di ruang IGD.
Sepuluh menit kemudian, kedua mata Ayumi terbuka sangat pelan, dan dengan perlahan mengerjapkan kedua bola matanya. Menatap ke arah Bulan dengan wajah sendunya.
"Kak Kahfi mana?" tanya Ayumi lirih dengan kondisi tubuh yang belum sepenuhnya sadar.
Bulan hanya menatap Ayumi dengan tatapan kosong dan terdiam tanpa menjawab pertanyaannya. Sedikit banyak, Bulan banyak mempelajari ilmu kesehatan dari berbagai sumber yang dibaca dan dilihatnya, baik dari buku, majalah, koran, radio ataupun televisi. Semua itu ilmu yang bisa dinikmati dan dipelajari dengan gratis tanpa harus menempuh pendidikan tinggi.
Kedua mata Ayumi terpejam kembali dan tidak lama terdengar suara dengkuran halus dari bibir mungilnya itu. Ayumi tertidur pulas.
Bulan masih setia menunggu Ayumi hingga tersadar dan terbangun dari tidur nyenyaknya.
Setengah jam kemudian, Bulan membangunkan Ayumi pelan dengan membisikkan kata-kata yang baik di dekat telinganya dan menepuk pelan pipi Ayumi.
"Ay, bangun yuk, kita pulang. Nanti yang lain pada khawatir," ucap Bulan dengan lirih.
Tidak ada tanggapan dan tidak ada respon dari Ayumi. Ayumi masih tertidur dengan sangat pulas.
__ADS_1
Bulan datang ke meja dokter untuk meminta minyak kayu putih agar Ayumi bisa cepat terbangun dan sadar sepenuhnya. Dengan cepat, Bulan mengolesi minyak kayu putih tersedia sekita indera penciuman Ayumi.
Tidak menunggu lama hanya sekitar sepuluh menit, Ayumi kembali membuka kedua matanya. Tatapannya langsung tertuju pada Bulan yang ada disampingnya.
"Bulan?" ucap Ayumi dengan suara serak dan lirih.
Bulan tersenyum dan mengegnggkedua tangan Ayumi dengan perasaan senang.
"Sudah bangun Ay?" tanya Bulan lembut kepada Ayumi.
"Apa aku tertidur?" jawab Ayumi yang sudah bisa menjawab pertanyaan Bulan sesuai dengan pertanyaannya.
Bulan menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum lebar.
"Iya kamu tertidur Ay, sangat pulas sekali, kamu mimpi apa?" tanya Bulan lembut yang duduk di kursi dengan kepala berada di bed Ayumi.
Ayumi menatap langit-langit ruangan IGD itu mengingat kembali apa yang baru saja terjadi atau mimpi apa Ayumi selama tertidur. Ayumi hanya ingat Kahfi, ya Kahfi yang terakhir kali Ayumi temui di lorong gelap itu.
"Kak Kahfi, Bulan," ucap Ayumi lirih kepada Bulan yang menunggu jawabannya.
Ayumi hanya menggeleng pelan.
"Cintaku hanya untuk Kak Afnan, tidak ada yang lain," jawab Ayumi lirih.
Bulan mengangguk pelan dan tersenyum kepada Ayumi.
"Ada yang ingin kamu ceritakan padaku Ay, jika kamu mempercayai aku sebagai sahabatmu," tanya Bulan dengan sangat lembut.
Ayumi tampak berpikir dan menatap sendu wajah Bulan yang terlihat tulus.
"Bulan, kita pulang yuk, Ayumi lapar," ucap Ayumi pelan setelah dirinya sadar bahwa Bulan sedang mencari kebenaran dalam hati Ayumi.
Ayumi sendiri belum bisa merasakan apa-apa, beberapa kali terakhir saat bertemu Kahfi seperti ada suatu magnet yang menginginkan untuk dekat, dekat dan semakin dekat. Perasaan kagum kepada Kahfi juga mulai dirasakan Ayumi, seperti ada sesuatu yang berbeda dan unik dari kepribadian Kahfi.
Terkadang perasaan rindu itu tiba-tiba muncul dari hati Ayumi, perasaan ingin diperhatikan, dimanja, dan selalu diprioritaskan. Walaupun sebenarnya itu semua sudah dilakukan Kahfi kepada Ayumi sebagai gadis pujaannya selama ini.
__ADS_1
Namun, karena Ayumi bersikeras dalam hatinya untuk tetap mempertahankan cintanya kepada Afnan. Perasaannya kini kepada Afnan hanya sebatas perasaan sayang kepada Kakak dan menghargai saja, bukan perasaan cinta yang terus ingin memperjuangkan bersama.
Ayumi belum bisa memutuskan kepada siapa hatinya akan berlabuh. Tapi bukankah semuanya sudah terlambat, Ayumi terlambat merasakan cinta yang sesungguhnya hadir tanpa disadarinya. Cinta yang sebenarnya hadir dan sudah tumbuh kepada Kahfi. Cinta yang hadir karena doa-doa Kahfi yang selalu berharap untuk didekatkan pada gadis yang Kahfi inginkan selama ini.
Bulan menatap Ayumi yang masih melamun saat menegakkan tubuhnya untuk turun dari bed ruang IGD tersebut. Tatapan Ayumi lurus ke depan menghadap tirai yang menutup dan sebagai sekat pembatas dengan kosong. Kedua matanya terus menatap tirai itu tanpa berkedip.
Bulan menepuk bahu Ayumi pelan.
"Kamu sedang memikirkan apa Ay? Ceritakan padaku Ay?" tanya Bulan pelan kepada Ayumi.
Ayumi terkejut saat telapak tangan Bulan menepuk pelan bahunya, memang tidak sakit, tapi Ayumi tersadar dari lamunannya yang mengisyaratkan hati dan pikirannya sedang tidak baik-baik saja.
"Aku belum siap Bulan, aku harus meminta petunjuk dari Allah SWT tentang perasaanku saat ini," ucap Ayumi pelan tanpa menoleh ke arah Bulan yang berada disampingnya.
Ayumi menatap lantai kemudian berusaha untuk turun lalu memakai alas kaki dan berjalan pelan ke luar ruangan IGD bersama Bulan. Bulan menggandeng tangan Ayumi dengan erat.
"Kita ke kantin dulu? Makan dan minum?" tanya Bulan memberikan opsi.
Ayumi menganggukkan kepalanya pelan.
"Ide baik Bulan, lagipula hujan begini tentu tidak akan pulang malam ini," ucap Ayumi pelan saat menatap ke luar gedung rumah sakit yang masih basah karena rintikan hujan yang belum kunjung terhenti.
Mereka berdua berjalan menuju kantin rumah sakit Kasih Ibu yang berada disisi kanan gedung, cukup lumayan memutar arah dari ruangan IGD sebelumnya. Melewati lorong dengan disisi kanan dan kiri tertulis ruangan laboratorium, ruangan EKG, ruangan obat, ruangan USG, ruangan Rontgen, dan lain sebagainya.
Ayumi melirik ke kanan dan ke kiri, harapannya suatu hari nanti, Ayumi benar-benar bisa merasakan menjadi salah satu bagian yang memeriksa pasien di sebuah rumah sakit.
Kantin Kenangan, itulah tulisan yang tertera saat masuk ke dalam kantin rumah sakit itu. Kenangan saat menjaga orang sakit, kenangan bila orang yang kita jaga adalah orang yang kita sayangi, kenangan bila kita kehilangan orang yang sakit dan lain sebagainya.
Ayumi duduk di meja ketiga dengan dua kursi besi berwarna putih, satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Bulan.
Bulan memesan makanan dan minuman ke meja pemesanan didepan.
"Habis ini makan dulu, nanti minum vitamin ini, lihat tuh wajahmu terlihat lelah," ucap Bulan pelan sambil menyentuh pipi Ayumi.
Makanan dan minuman pesanan Bulan sudah datang, mereka berdua menyantap makanan itu dengan penuh nikmat.
__ADS_1