Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
57


__ADS_3

Rara sudah merapikan pakaiannya di dalam lemari yang sudah disediakan. Ayumi membantu membereskan tempat tidur Rara. Bunda Icha dan Kahfi melihat keadaan sekitar yang masih sepi dan belum banyak murid baru yang datang.


Asrama ini memang dikhususkan untuk murid baru yang berasal dari luar kota, agar tidak kesulitan untuk mencari tempat tinggal atau kost bagi yang tidak memiliki keluarga.


Satu kamar hanya akan digunakan untuk lima orang murid baru dengan fasilitas tempat tidur, kamar mandi di dalam, ada dapur kecil dan ada teras untuk menjemur pakaian atau menerima tamu bisa sedang mendapat kunjungan.


Saat ini sudah ada tiga orang yang tinggal disana, semuanya adalah murid baru. Rara menghampiri beberapa teman barunya dan mengajaknya berkenalan.


Ada Fanny, Sita dan Renata, mereka saling berkenalan satu sama lain. Ayumi ikut berkenalan dengan mereka.


"Ra, baik-baik disini, udah punya temen juga," ucap Ayumi pelan.


Ayumi duduk di tepi ranjang Rara, dan menatap Rara yang masih fokus membereskan lemari dan meja belajarnya.


"Iya Ay, Rara akan berjuang untuk lebih baik dan lulus dengan nilai baik. Kita sama-sama berjuang Ay untuk bisa berhasil dan sukses," ucap Rara pelan sambil meletakkan bingkai foto.


"Ini foto Bunda Andara dan Kak Zura?" ucap Ayumi pelan menatap bingkai foto disana.


"Iya Ay, dan ini foto Kak Kahfi, hanya dia yang membuatku bertahan Ay," ucap Rara pelan menatap sendu wajah Ayumi.


Ayumi tersenyum manis lalu memeluk Rara dari belakang.


"Rara pasti bisa mendapatkan Kak Kahfi, lakukanlah yang terbaik, pasti luluh kok," ucap Ayumi pelan.


"Terima kasih sudah mendukung Rara, Ay," ucap Rara dengan lembut dan membalas pelukan Ayumi.


"Ayumi pamit ya Ra, sukses buat kamu. Kapan-kapan Ayumi main kesini," ucap Ayumi pelan.


"Iya Ay. Makasih sudah antar Rara kesini, Ayumi sukses juga jadi dokter, nanti suatu saat kita akan bersama lagi, maafkan Rara yang selalu bersikap buruk pada Ayumi," ucap Rara pelan dan memeluk Ayumi sahabatnya sambil menangis.

__ADS_1


Rara mengantarkan Ayumi keluar kamar dan berjalan menghampiri Bunda Icha dan Kahfi yang sedang melihat pemandangan dari balik gedung.


Pemandangan dari balik gedung sungguh indah, terlihat sawah yang masih membentang luas dengan padi yang sudah mulai menguning dan merunduk.


"Bunda Icha," panggil Ayumi pelan sambil melambaikan tangannya.


Bunda Icha menoleh dan melempar senyum indah kepada Ayumi dan Rara.


"Sudah selesai beres-beresnya?" tanya Bunda Icha pelan.


"Sudah Bunda, tadi dibantu sama Ayumi jadi cepat selesai," jawab Rara pelan.


"Rara kita cari makan siang dulu yuk, kamu pasti lapar?" ucap Bunda Icha pelan.


"Kahfi ada acara Bunda," sela Kahfi yang terlihat kesal sejak datang.


Ayumi menatap Kahfi meminta penjelasan tentang kesibukannya, acara apa hingga Kahfi merasa kesal saat ini.


"Ya ada, kalian tidak usah kelo sama urusan Kakak," ucap Kahfi dengan ketus dan berlalu meninggalkan ketiga perempuan itu di belakang gedung asrama.


"Bunda Icha dan Ayumi saja yang makan, tadi kan Rara sudah dibawakan bekal, biar nanti Rara makan bekal dari Bunda dan dari Ayum. Makasih Ayumi, sudah bawakan banyak bekal untuk Rara disini," ucap Rara pelan. Kedua matanya mulai sembab dan berair.


Demi memperjuangkan cita-citanya, Rara harus berjauhan dengan keluarganya yang saat ini sedang hancur. Terkadang lari dari masalah itu ada hikmahnya, bukan berarti lepas tangan atau cuci tangan dengan apa yang terjadi di keluarga atau bersikap masa bodoh tetapi sesungguhnya kita sedang mencari solusi terbaik yang tidak merugikan satu sama lain.


Mulai hari ini Rara harus berpisah dengan Bunda Andara dan Kak Zura, setelah sebelumnya harus berpisah dengan Ayah Sukoco yang saat ini sedang mengalami depresi berat. Rara harus meninggalkan Ayumi sahabat terbaiknya, harus berjauhan dengan Kahfi, orang yang selama ini Rara cintai, dan harus berpisah dengan Bunda Icha yang sudah dianggap sebagai pengganti Bunda Andara.


"Yakin tidak mau makan bareng Bunda?" tanya Bunda Icha kepada Rara lembut.


"Bunda Icha memang Bunda terbaik, ijinkan Rara menjadi bagian keluarga Bunda dengan menjadi menantu Bunda," ucap Rara lirih sambil memeluk Bunda Icha dengan erat hingga Rara enggan melepaskan.

__ADS_1


Pelukan itu sangat nyaman dan membuat Rara tidak bisa melepaskan. Tangisan kecil dengan sesekali sesegukan terdengar lirih dari mulut Rara.


"Maafkan Rara, Bunda. Kalau Rara ada salah, permintaan Rara hanya itu saja," ucap Rara lembut.


"Rara sayang, siapapun boleh menjadi menantu Bunda termasuk kamu. Tapi Bunda tidak bisa menentukan perasaan seseorang apalagi memaksakan kehendak Bunda terhadap anak-anak Bunda. Lebih baik Rara berusaha keras untuk bisa mengambil hati Kahfi, cari cara tepat yang membuat Kahfi itu mau menerima kamu apa adanya, dengan menjadi seseorang yang sesuai dengan keinginan Kahfi. Bunda hanya bisa berdoa dan membantu sekedarnya saja, semua kita kembalikan sama Allah SWT," ucap Bunda Icha pelan sambil mengusap kepala Rara yang terbalut hijab dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.


"Makasih Bunda atas nasihatnya, Rara akan selalu mengingat apa yang Bunda Icha katakan, semoga Rara bisa mengambil hati Kak Kahfi," ucap Rara pelan.


"Bunda dan Ayumi pulang dulu Ra, kapan-kapan Bunda akan datang bersama Ayumi untuk menjenguk kamu Ra," ucap Bunda Icha pelan dan melepas pelukan Rara.


Bunda Icha dan Ayumi pergi meninggalkan Rara yang akan mengerti mimpi dan cita-citanya sebagai analis. Nasihat Bunda Icha membuat Rara termotivasi untuk menjalani hidupnya lebih baik lagi dan lebih semangat lagi.


Rara berbalik arah menuju kamar asramanya dengan teman-teman yang baru.


"Assalamu'alaikum, hai semua, ini ada kue bolu, silahkan cicipi, buatan sahabat Rara," ucap Rara pelan menghampiri ketiga teman barunya yang sedang asyik berbincang diatas ranjangnya.


"Waalaikumsalam, hai Ra, sini gabung Ra," ucap Sita pelan.


"Sini duduk sini Ra, bolehlah nyobain kue bolunya," ucap Ranata dari arah kamar mandi.


Mereka berempat adalah murid baru sekolah kesehatan, memiliki cita-cita mulia sebagai analis untuk membantu orang lain yang menginginkan kesembuhan dengan mengetahui penyakit yang dideritanya, sama seperti Rara yang selama ini tidak pernah tahu, penyakit apa yang menggerogotinya hingga saat ini, kenapa tidak kunjung sembuh.


Kahfi sudah menunggu kedua perempuan berbeda usia di dalam mobil sportif miliknya.


Perutnya sudah lapar dan berbunyi berkali-kali, tubuhnya lemas seolah tidak berdaya. Kepalanya di atas setir mobil sesekali matanya terpejam.


Terdengar suara pintu mobil dibuka dan Bunda Icha masuk ke dalam mobil di kursi belakang.


"Ay, duduk depan donk, Kakak bukan supir," teriak Kahfi saat Ayumi membuka pintu mobil disamping.

__ADS_1


"Iya Ay, temani Kahfi didepan. Bunda mau istirahat nanti sore ada majelis di Mushola," ucap Bunda Icha pelan.


Ayumi memutar tubuhnya dan berbalik menuju pintu depan mobil, lalu masuk dan duduk tepat disamping Kahfi. Sabuk pengaman sudah dipakai melingkari tubuhnya. Duduknya bersandar dan menatap lurus ke depan tanpa bersuara sedikitpun.


__ADS_2