Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
147


__ADS_3

Duta menatap laki -laki yang tersenyum manis ke arah Yumna sambil membawa tas ransel di punggungnya. Yumna membalas senyuman lelaki itu dengan sapaan yang begitu ramah sekali.


"Nick? Kamu? Mau kemana?" tanya Yumna pada Nick yang terlihat sangat rapi sekali.


"Mau ke Indonesia. Ada perlu sebentar di rumah. Kamu mau kemana?" tanya Nick pelan.


"Ohhh gitu. Aku juga mau pulang ke Indonesia. Ayahku meninggal," ucap Yumna dengan wajah sedih.


"Ohhh gitu. Maaf ya Na. Aku ikut berduka. Kamu pulang sama ekhemmm ... Suami kamu?" ucap Nick sedikit gugup ingin memanggil seniornya itu.


"Gak. Kebetulan Kak Duta sibuk kerja, baru masuk satu hari, masa iya mau ambil libur, yang ada di pecat dong. Lagi pula yang meninggal kan Ayah Yumna," ucap Yumna menyindir Duta dengan nada sedikit ketus.


Nick bisa membaca bahasa tubuh Yumna yang terlihat kecewa dan etrsenyum di paksakan ke arah Duta.

__ADS_1


"Hai Kak Duta. Masih inget saya? Nick, teman sekelas Yumna sewaktu SMA," ucap Nick dengan suara mantap sambil mengulurkan tangan kanannnya untuk menjabat tangan Duta.


Duta tak tersenyum dan sama sekali tak merespon Nick. Tapi, Duta membalas uluran tangan Nick dan menjabat tangan Nick sebagai tanda persahabatan.


"Duduk yuk. Gak baik kan, ibu hamil berdiri lama -lama yang ada keram tuh kaki," goda Nick santai.


Yumna mengangguk kecil dan duduk di ruang tunggu. Duta merasa di abaikan karena Yumna, istrinya mulai sibuk berbincang dengan Nick, sahabat SMA -nya dulu.


Tak berselang lama, suara dari pusat informasi memberitahukan bahwa pesawat yang akan di naiki Yumna sudah siap dan semua penumpang di harapkan untuk segera memasuki pesawat dan duduk sesuai dengan nomor tempat duduknya.


"Iya," jawab Yumna singkat.


Duta menggenggam tangan Yumna dengan sangat erat sekali.

__ADS_1


"Yumna mau berangkat," ucap Yumna berpamitan dan melepaskan genggaman tangan Duta di tangannya.


Duta menatap ke arah Yumna yang sudah berdiri sedangkan ia masih duduk dengan santai di kursi besi itu tanpa melepaskan tanagn Yumna lalu berdiri dan emmeluk tubuh Yumna dengan sangat erat sambil berbisik.


"Hati -hati ya sayang. Kakak tunggu kamu pulang lagi kesini secepatnya. Kakak sayang banget sama kamu. Bukan Kakak tidak peduli pada situasi ini, tapi ini smeua demi kamu dan anak kita," ucap Duta mencoba membuat Yumna terus mengerti pilihan dan keputusan yang Duta ambil.


"Yumna lagi bad mood Kak. Gak usah bahas ini dulu. Kalau gak ada rasa sayang atau rasa cinta tentu kita tidak akan menikah. Tapi, jujur, Yumna masih kecewa sama kakak. Yuman tidak tahu, kapan perasaan kecewa itu pudar dari hati dan pikiran Yumna. Yumna pergi," ucap Yumna melepaskan pelukan Duta dan segera berbalik berjalan ke arah pesawat Yumna berada.


Nick sudah berjalan lebih dulu, karena tetap saja ada rasa tak enak denagn Duta jika ia menunggu di sana. Nick tetap harus membiarkan pasanagn halal itu saling meluapkan ucapan perpisahan.


"Na ...," teriak Duta mengejar Yumna. Yumna menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang dan Duta kembali memeluk tubuh mungil istrinya lalu bersujud did pean istrinya untuk mengusap pelan perut Yumna dan emngajak bicara pada janin yang tumbuh di perut Yumna.


"Anak Papah Duta, gak boleh nakal ya. Jangan bikin Mama kesakitan, kecapean, dan kelelahan. Kasihan Mama, Papahnya mau kerja dulu buat kamu, sayang," ucap Duta sambil mengecup perut Yumna lalu berdiri dan mencium pipi Yumna dnegan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Kabarin Kakak kalau sudah sampai Indonesia," ucap Duta pada Yumna. Begitu berat rasanya melepaskan Yumna pulang sendiri ke negaranya, tapi ini adalah jalan terbaik yang sudah Duta pilih.


__ADS_2