
Hati Bunda Icha menjadi tidak tenang setelah mendengar kabar kecelakaan yang menimpa calon menantu kesayangannya itu. Sejak tadi ponselnya menekan tombol nomor Afnan, Ayumi dan Bulan secara bergantian. Namun, ketiga nomor itu tetap saja tidak bisa dihubungi semua.
Perasaan Bunda Icha semakin cemas dan panik serta was-was luar biasa sebelum mendapatkan kabar yang sebenarnya tentang bagaimana kabar Ayumi saat ini.
Bunda Icha berjalan mondar-mandir di depan kamar tidurnya menuju ruang tengah dan begitu sebaliknya tanpa arah dan tujuan.
Sejak kepulangan Pak Sukoco dan Mama Anna, pikiran Bunda Icha semakin kalut dan kacau. Kyai Toha sejak tadi memperhatikan tingkah laku istrinya yang sedang bingung malah ingin tertawa rasanya.
"Sudahlah Istriku, jangan terlalu cemas dan panik, kalau sesuatu terjadi pada Ayumi, pasti Afnan sudah memberitahukan kabar tentang Ayumi. Ini tidak ada kabar, berarti Ayumi baik-baik saja," ucap Kyai Toha menjelaskan dengan pelan.
"Mas, kamu itu tidak bisa merasakan kesedihan Bunda, ini Ayumi yang jadi korbannya, calon menantu kesayangan Bunda" ucap Bunda Icha pelan kepada Kyai Toha, suaminya.
Ponsel Bunda Icha tiba-tiba bergetar dan berdering dengan nada dering yang sangat keras. Bunda Icha masih memegang ponselnya sejak tadi, satu panggilan masuk menampilkan nama Kahfi di depan layar ponsel Bunda Icha.
Bunda Icha menggeser tombol hijau yang kemudian menghubungkan dengan orang yang meneleponnya.
"Assalamu'alaikum, Bunda, apa kabar? Fi, rindu dengan Bunda," ucap Kahfi pelan dan lembut bertanya kepada Bundanya.
"Waalaikumsalam, Fi, Masya Allah, baru saja Bunda mau telepon kamu, nanyain kabar kamu, kabar Rara, bagaimana?" tanya Bunda Icha dengan pelan kepada Kahfi.
"Alhamdulillah Fi baik-baik saja, kalau Rara masih sama Bunda. Bunda ada hal yang ingin Kahfi bicarakan sama Bunda, Kahfi salah ucap pada Ayah Sukoco kemarin, Kahfi benar-benar tidak habis pikir, kenapa hal itu bisa terjadi," ucap Kahfi pelan menjelaskan dengan pelan.
"Apa itu Fi, ceritakan pada Bunda, jika kamu ingin bercerita," ucap Bunda Icha pelan kepada Kahfi.
Kahfi mulai menceritakan dari awal hingga akhir. Mulai dari Kahfi dipanggil oleh dokter yang menangani Rara hingga Ayah Sukoco yang meneleponnya dan akhirnya kaya yang tidak semestinya itu terucap.
Kahfi bercerita tentang kondisi Rara yang sesungguhnya, yang usianya hanya bertahan kurang lebih satu tahun saja. Itu juga sudah dibantu dengan kontrol, obat dan kemoterapi yang wajib dijalankan dan jangan sampai terlambat atau melalaikan karena akan berpengaruh pada kesehatan Rara.
__ADS_1
Setelah itu Kahfi menceritakan bagaimana Ayah Sukoco memintanya untuk membantu membahagiakan Rara, karena hanya Kahfi kebahagiaan untuk Rara, hingga Kahfi sanggup untuk menikahinya.
"Kahfi harus bagaimana, sejujurnya Kahfi menyesal mengatakan hal itu karena tidak sesuai hati nurani Kahfi," ucap Kahfi pelan dengan nada memelas.
Bunda Icha tidak bisa berbuat apa-apa, lusa rombongan dua keluarga besar akan datang dan menikahkan kalian berdua, tapi kenapa rencana sebesar dan sepenting ini harus dirahasiakan. Bukankah lebih baik di publish secara umum agar semua orang mengetahui termasuk calon mempelainya sendiri.
"Fi, Bunda rasa, ada baiknya lebih baik kalian menikah. Kalian sudah bersama cukup lama, tinggal satu rumah, satu atap bahkan satu kamar, mungkin saat ini bisa kamu bilang, tidak akan pernah terjadi, tapi setan itu lebih keji membawa kamu ke lembah dosa, ingat itu Fi," ucap Bunda Icha menasehati.
Kahfi nampak sedang berpikir karena terdiam membisu.
"Fi? Masih bisa denger Bunda kan?" tanya Bunda Icha pelan kepada Kahfi.
"Maaf Bunda, iya Kahfi denger," ucap Kahfi pelan.
"Pikirkan baik-baik dan dengan matang, berpikirlah secara jernih, jangan ikuti rasa egomu itu, buang jauh rasa gengsi itu. Percaya sama Bunda, semua itu ada hikmahnya," ucap Bunda Icha dengan suara pelan.
"Bunda, memang pada mau menjenguk kemari?" tanya Kahfi tiba-tiba dengan pelan.
"Ayah Sukoco yang memberi kabar pada Rara, tapi ada apa? Kayaknya ada sesuatu yang penting? Bunda ikut kesini?" tanya Kahfi dengan suara pelan.
Bunda Icha malah terdiam, rasanya ini semua harus ditutupi agar Kahfi tidak bisa mengelak dan mau menerima pernikahan siri ini.
"Bunda tidak tahu, Fi," ucap Bunda Icha pelan namun jawabannya terdengar sangat ragu.
"Apa ada yang Bunda tutupi dari Kahfi, katakanlah Bunda?" tanya Kahfi pelan kepada Bunda Icha.
Kahfi merasa ini semua ada yang tidak beres. Kenapa semua orang diam dan seolah menutupi apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
Terdengar suara Bunda Icha menarik napas dengan dalam dan menghembuskan napas itu dengan kasar.
Terdengar seperti sangat berat, dan sulit sekali untuk dikeluarkan.
"Bunda, sebenarnya ada apa ini, jangan buat Kahfi bingung dengan semua ini," ucap Kahfi dengan sangat sedikit keras dan nampak frustasi.
"Baiklah Bunda akan ceritakan, tapi tolong kamu harus menerima ini semua dengan lapang dada, Fi," ucap Bunda Icha pelan dengan nada memohon.
"Menikahi Rara, itu kan yang Bunda mau katakan pada Kahfi," ucap Kahfi dengan suara keras dan meninggi.
"Kahfi, dengarkan Bunda, Nak," ucap Bunda Icha pelan menenagkan hati Kahfi yang kacau.
"Sudahlah Bunda, kalian semua itu, tidak pernah mau mengerti perasaan Kahfi. Kahfi ini hanya dijadikan tumbal dan korban dari kebahagiaan kalian semua, tapi batin Kahfi menderita. Kalian pikir, Kahfi bahagia disini? Kahfi seperti sedang bermain drama hanya demi menyenangkan hati penonton, tapi batin Kahfi tersiksa!" teriak Kahfi keras dan frustasi dengan keadaannya.
Sambungan telepon itu diputus secara sepihak oleh Kahfi.
"Hallo, Kahfi, dengarkan Bunda, Nak?" teriak Bunda Icha dengan sangat keras.
"Kahfi!!" teriak Bunda Icha keras.
"Kahfi!! Masya Allah, dengarkan Bunda Nak, jangan putus teleponnya, Bunda ingin bicara," teriak Bunda Icha dengan sangat keras berteriak.
Hatinya bisa merasakan betapa kecewanya putar bungsunya itu terhadap dirinya. Suakpa kasarnya karena Kahfi, masih belum bisa menerima dengan semua yang terjadi dan apa yang menjadi takdir dalam hidupnya.
Bunda Icha terduduk namun dan menangis dengan keras dilantai. Ponselnya terjatuh begitu saja dari genggaman tangannya. Tubuhnya terasa lemas dan lututnya terasa bergetar dan tidak kuat menopang tubuh mungilnya itu. Wajahnya sudah basah karena air mata kesedihan, menangisi kekecewaan putra bungsunya itu.
Kyai Toha berlari menghampiri Bunda Icha, istrinya yang menangis di lantai keramik itu.
__ADS_1
"Istriku, sudahlah, biarkan Kahfi sendiri dan berpikir dengan dewasa, suatu saat Kahfi pasti akan mengerti arti dari mencintai dan arti peduli dengan orang yang membutuhkan perhatiannya," ucap Kyai Toha pelan sambil membantu mengangkat tubuh istrinya untuk direbahkan di kasur kamar tidurnya.
Bunda Icha hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan dan tetap menangis sambil memukul lantai keras itu dengan kepalan tangannya.