
Kahfi dan Ayumi masih bertatapan dan masih berdiri saling berhadapan. Mereka berdua hanya terdiam dan sama-sama mengunci mulut mereka.
"Ayumi kembali ke ruang tunggu duluan Kak Fi," ucap Ayumi pelan kepada Kahfi yang masih berdiri tegak menatap Ayumi.
Kahfi tak bersuara namun kepalanya terangguk pelan.
"Pergilah jika ingin pergi, jauhi Kakak, jika kamu ingin menjauh, tapi hati ini akan selalu menyebut namamu setiap waktu dan setiap saat Ay," ucap Kahfi lirih, namun masih tetap terdengar oleh Ayumi.
"Lupakan aku Kak Fi, jangan pernah ingat aku lagi, bahagiakan Rara disana, Rara yang akan menemani hari-hari Kakak hingga maut memisahkan kalian berdua," ucap Ayumi pelan. Kedua matanya basah, menahan air mata yang akan turun ke pipinya.
'Kenapa aku ini, kenapa kata-kata Kak Fi begitu meyayat hatiku hingga rasa nya seperti teriris iris,' batin Ayumi di dalam hatinya.
Ayumi sudah membalikkan tubuhnya dan masih menahan langkahnya untuk kembali ke ruang tunggu, ada perasaan tidak rela dengan perpisahan ini. Ada perasaan tidak terima dengan kepergiannya. 'Apa aku cemburu? Apa aku takut kehilangan?' batin Ayumi di dalam hatinya.
"Kenapa berhenti, pergilah, pergilah yang jauh Ay, hingga Kakak tidak bisa lagi melihat wajahmu, melihat tingkahnya, menggapai hatimu, pergilah Ay, Kakak kuat dan Kakak harus Ikhlas dengan ini semua," ucap Kahfi pelan namun menghujam langsung ke dalam sanubari.
"Ayumi tidak tahu Kak Fi, perasaan ini salah atau benar, atau hanya semu, Ayumi tidak bisa merasakan apa-apa, maafkan Ayumi jika telah mengganggu kehidupan Kak Fi selama ini," ucap Ayumi pelan kepada Kahfi.
Kepalanya menengadahkan ke atas saat bulir kristal itu akan luruh.
"Boleh Kakak minta satu permintaan?" tanya Kahfi pelan kepada Ayumi.
"Apa itu Kak Fi," tanya Ayumi pelan sambil menatap wajah Kahfi yang sendu.
"Kakak ingin memelukmu sebagai tanda perpisahan Kakak kepada Adiknya," ucap Kahfi pelan sambil menundukkan kepalanya.
Ayumi menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Permintaan yang tidak masuk akal, lupakan Ayumi, jika Kakak tidak bisa menghargai Ayumi, tidak bisa menjaga kesucian Ayumi, maafkan Ayumi," ucap Ayumi dengan ketus.
Ayumi melangkahkan kakinya dengan sangat tegas. Pikirannya sangat kacau dan hatinya terasa kesal dan kecewa dengan permintaan Kahfi tadi.
Ayumi sudah sampai di ruang tunggu dan duduk di samping Bunda Icha.
"Darimana Ay, kok lama?" tanya Bunda Icha pelan sambil menatap kedua mata Ayumi yang terlihat basah seperti habis menangis.
Ayumi tersenyum lebar.
__ADS_1
"Dari kamar mandi Bunda, lalu ketemu teman SMP sewaktu di Jakarta, tadi ngobrol sebentar," ucap Ayumi pelan dan jujur.
Afnan sudah berdiri dihadapannya dan memberikan sapu tangannya kepada Ayumi.
"Ini apa Kak Afnan?" tanya Ayumi menatap Kak Afnan sambil menunjuk ke arah saputangan itu.
"Hapus air matamu, wajahmu kusut dan jelek jadi kurang enak dilihat," ucap Afnan pelan dan lembut.
Ayumi menerima saputangan itu dan mengusap seluruh wajahnya dan sisa air matanya yang masih menempel pada wajah cantiknya.
"Sini, biar Kakak yang membersihkan wajahmu," ucap Afnan dengan sabar.
Afnan berjongkok dengan depan Ayumi dan mengusap lembut wajah cantik tunangannya itu.
"Kenapa kamu menangis Ay? Ada yang membuatmu sedih?" tanya Afnan pelan kepada Ayumi.
Sebenarnya saat Kahfi pergi untuk ijin ke kantin, secara diam-diam Afnan mengikuti Kahfi, adik kandungnya itu. Afnan melihat dari kejauhan, betapa Kahfi menginginkan tunangannya itu. Kahfi dengan sengaja menghampiri Ayumi yang sedang keluar dari kamar mandi bandara. Mereka berdua terlibat pembicaraan yang amat serius hingga akhirnya Ayumi pergi meninggalkan Kahfi begitu saja di lorong menuju kamar mandi bandara.
Mendengar pertanyaan itu dan tatapan lembut Afnan, Ayumi juga menatap lembut kedua mata Afnan dengan ketulusan.
"Kenapa pertanyaan Kak Afnan seperti itu?" tanya Ayumi pelan kepada Afnan.
Ayumi menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Bukan tidak mau menjawab atau ingin menyembunyikan sesuatu, tapi Ayumi lebih ingin menghargai Kak Afnan sebagai tunangan Ayumi," jawab Ayumi pelan tanpa mau berdebat.
"Kamu yakin Ay, itu semua yang kamu katakan dari hati?" tanya Afnan sambil menatap tajam kedua mata Ayumi untuk mencari sesuatu yang janggal disana.
Ayumi menganggukkan kepalanya pelan lalu tersenyum lebar.
"Ayumi tulus dengan Kak Afnan, jangan berpikir yang macam-macam ya," ucap Ayumi pelan kepada Afnan.
"Kakak pegang janji kamu Ay," ucap Afnan pelan lalu tersenyum pada tunangannya itu.
"Ini makanlah, sejak tadi kami belum makan Ay," ucap Afnan memberikan satu kantong plastik berisi cemilan.
Ayumi tersenyum bahagia, Kak Afnan yang tegas dan terkesan dingin itu sangat peduli dan perhatian dengan dirinya.
__ADS_1
"Makasih ya Kak," ucap Ayumi pelan sambil menerima bungkusan tersebut.
"Kakak bukain ya, ini makan dulu," ucap Afnan dengan penuh kelembutan.
Afnan masih berjongkok sambil membuka roti isi cokelat dan menyuapkan ke mulut Ayumi. Awalnya malu-malu, namun Ayumi juga tidak tega bila tunangannya itu terus menunggu saat-saat bisa bersama seperti ini.
Ayumi mengunyah suapan demi suapan roti yang diberikan oleh Afnan untuknya. Mereka berdua saling bertatap mesra seperti pasangan yang sedang kasmaran.
"Mau minum?" tanya Afnan pelan kepada Ayumi.
Ayumi menganggukkan kepalanya pelan. Afnan membuka satu botol air mineral dan diberikan kepada Ayumi.
"Terima kasih Kak Afnan," ucap Ayumi pelan.
Kahfi datang dengan bungkusan yang berada ditangannya. Melihat Bang Afnan dan Ayumi yang sedang bermesraan hatinya panas dan terbakar api cemburu.
"Fi, udah mau waktunya, bersiap sana," ucap Bunda Icha dengan penuh kelembutan sambil mengusap kepala putra bungsunya itu.
Tatapan Kahfi beralih kepada Ayumi.
"Hati-hati besok kalau ke Mesir, jangan manja," ucap Kahfi pelan sedikit ketus.
Ayumi menatap Kahfi dengan heran. Afnan juga menatap Kahfi tajam, lalu beranjak dari duduknya.
"Bicara yang sopan Fi, Ayumi itu calon Kakak ipar kamu," tegas Afnan kepada Kahfi.
"Baru calon Kakak ipar, belum jadi juga. Bilang gak usah manja jadi perempuan," ucap Kahfi pelan kepada Afnan.
Ayumi menatap tajam kepada Kahfi. Ayumi hanya diam, karena Ayumi tahu, pikiran Kahfi sedang kacau hingga meracau tidak jelas.
"Sudah cukup, kalian ini malah berantem, bukannya saling mendukung, mensupport, menasehati, ini malah berantem tidak karuan," ucap Bunda Icha menasehati.
Tatapan kedua Kakak beradik itu saling bertemu dan saling menatap tajam pada kedua matanya.
Rara yang sejak tadi mengamati Kahfi akhirnya menghampiri Kahfi dan membantu membawa tas kecil yang dibawanya.
"Kamu kenapa Ra? Kakak bisa kok bawa sendiri," ucap Kahfi dengan ketus.
__ADS_1
Jleb ....
Rasanya seperti tertimpa bebatuan yang besar. Kahfi yang biasa lembut dalam bicara kini menjadi ketus dan keras.