Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
21


__ADS_3

Kahfi pulang dengan mengendarai motor besarnya. Dengan sengaja melajukan motornya dengan pelan agar bisa bertemu dengan gadis pujaannya yang sudah berhasil mengoyak hatinya hingga gagal fokus selama berada di Pesantren.


Wajah cantik Ayumi selalu terbayang saat Kahfi berada di Kobong. Apalagi selama seminggu tidak bertemu, sekalinya bertemu gadis pujaannya tampil sempurna dengan hijab yang menutupi aurat, gimna Kahfi tidak semakin kesengsem dengan penampilan baru Ayumi yang semakin anggun dan cantik.


Motor besar Kahfi berhenti di ujung jalan sebelum perempatan. Terlihat angkutan umum yang tadi ditumpangi Ayumi sudah berjalan lagi. Dari kejauhan tampak Ayumi yang sedang berjalan santai tanpa beban menuju rumah Nenek Arsy.


Dengan tas sekolah yang berada di punggungnya dan baju seragam yang tampak longgar serta hijab yang masih rapi terbalut menutupi kepalanya.


Ayumi semakin dekat dan mendekat dengan posisi Kahfi yang masih setia menunggu di perempatan jalan menuju rumahnya.


"Ayumi!" teriak Kahfi menatap Ayumi yang berjalan menuju ke arahnya.


Ayumi menatap Kahfi dengan heran, lalu mendekati Kahfi.


"Ada apa Kak?" tanya Ayumi singkat tanpa basa-basi.


"Gak usah basa-basi, kenapa malah nyuruh Kakak pulang sama nenek Lampir? Hemm?" ucap Kahfi sedikit keras dan pura-pura kesal.


"Mana ada Nenek Lampir siang-siang begini?" jawab Ayumi mengulum senyum.


"Tuh si Rara yang katanya sahabat kamu. Gak ada yang lain? Selain Rara untuk dijadikan sahabat olehmu?" ucap Kahfi kesal.


"Rara baik Kak Kahfi. Dia suka sama Kakak, dan ingin dekat sama Kakak. Apa salah jika Ayumi membantunya?" ucap Ayumi dengan sikap polos.


"Ayumi, kamu itu gak perlu sok baik untuk membantu Rara? Apa kamu gak peduli sama perasaan Kakak? Kamu kira Kakak gak laku hingga kamu harus jadi pahlawan kesiangan untuk memberikan wanita untuk Kakak? Gak usah deketin Kakak sama nenek lampir seperti Rara. Kamu belum kenal Rara seperti apa?" ucap Kahfi menjelaskan.


"Apa salahnya Rara dengan Kakak? Lalu apa salahnya Kak Zura untuk Kak Afnan?" tanya Ayumi polos yang semakin bingung.


"Kamu tahu tentang Kak Afnan dan Kak Zura? Selama ini kamu dekat dengan Kak Afnan selama Kakak gak ada?" tanya Kahfi dengan kedua mata melotot ke arah Ayumi.

__ADS_1


"Lha? Ayumi mau dekat dengan siapa saja itu kan ha Ayumi Kak Kahfi. Kenapa Kakak yang ikut sewot? Nenek aja gak keberatan," jawab Ayumi dengan keras.


Wajah Ayumi sudah tampak terlihat lelah dan kesal. Hawa panas terik membuat keringat Ayumi sudah bercucuran di sekitar dahi dan wajahnya.


"Jangan dekat-dekat dengan lelaki lain selain Kakak. Tunggu Kakak sampai Kakak jadi Hafizh Qur'an. Ayumi mau menunggu kan?" ucap Kahfi dengan rasa percaya diri yang begitu tinggi.


Kahfi selama ini berprasangka bahwa Ayumi juga memiliki perasaan yang sama. Padahal perasaan Ayumi sudah terpupuk dan tersimpan rapi hanya untuk Afnan, Kakak Kahfi.


"Apa maksud Kak Kahfi dengan menunggu Kakak? Kak Kahfi jangan salah paham dengan kedekatan kita. Kita hanya berteman karena bertetangga, tidak ada yang lain bukan? Lagipula, Ayumi harus menjaga hati untuk seseorang yang selama ini sudah memiliki hati dan cinta Ayumi. Ada hati seseorang yang harus Ayumi jaga," ucap Ayumi pelan dan tegas.


"Siapa? Siapa lelaki yang bisa membuatmu luluh? Siapa Ayumi?" ucap Kahfi semakin kesal.


Ayumi tidak menggubris pertanyaan Kahfi, dan berusaha mengalihkan perhatian Kahfi dengan pertanyaan lain dari Ayumi.


"Nanti malam Ayumi dan Rara akan pergi ke taman, paling tidak Kak Kahfi bisa menghargai perasaan Rara. Datanglah ke taman," ucap Ayumi memohon.


"Kakak akan datang asal kamu jawab pertanyaan Kakak. Siapa laki-laki yang beruntung itu?" tanya Kahfi pelan.


Ayumi hanya terdiam, Ayumi berpikir keras untuk tidak menyakiti hati seseorang yang sudah baik pada dirinya. Tetapi, Ayumi juga ingin orang lain tahu bahwa Ayumi tidak mau bermain-main dengan hati, atau ada yang salah paham tentang kebaikan dan keramahan Ayumi selama ini.


"Kenapa diam? Sebenarnya ada atau tidak? Jangan-jangan itu hanya akal-akalan kamu saja ya? Agar aku dekat sama nenek lampir sahabatmu itu?" ucal Kahfi dengan kesal.


Kahfi tidak tahu bahkan tidak berpikir jauh tentang kedekatan Ayumi dan Afnan selama ini. Keduanya memiliki perasaan yang sama, namun harus memendam rasa itu untuk menentukan masa depan keduanya.


"Ayumi tidak mengada-ada dan tidak akal-akalan. Itu fakta dan nyata, ada seseorang yang Ayumi tunggu dan yang menunggu Ayumi hingga Ayumi menjafi dokter," ucap Ayumi dengan jujur.


"SIAPA?!" teriak Kahfi yang sudah tidak sabar mendengar nama laki-laki itu disebut oleh Ayumi.


Ayumi seperti mempermainkan dirinya, memutar-mutar pernyataannya yang tidak ada ujungnya. Intinya hanya satu, Kahfi ingin mengetahui siapa nama laki-laki yang beruntung itu.

__ADS_1


"Kak Afnan. Dia adalah Kak Afnan, Kakak kandung Kak Kahfi. Puas?" ucap Ayumi yang kesal dengan emosi Kahfi.


Kedua mata Kahfi melotot dan menatap tajam ke arah Ayumi hingga membuat gadis pujaannya itu merasa takut dan tidak nyaman.


"Kak, jangan melihat Ayumi seperti itu. Ayumi takut," ucap Ayumi pelan dan memalingkan wajahnya dari tatapan tajam Kahfi kepadanya.


"Coba ucapkan sekali lagi Ayumi, siapa dia?" ucap Kahfi melembut dan melemah.


Hatinya mencoba menerima kenyataan pahit itu, tubuhnya terasa lemas dari ujung kaki hingga ujung kepala. Pikirannya tiba-tiba saja nge-blank seperti sistem komputer yang tidak bisa menerima rumus baru.


"Dia Kak Afnan, ceritanya cukup panjang dan berkesinambungan," ucap Ayumi lirih.


Ayumi sadar, kejujurannya akan membuat luka bagi Kahfi. Tapi lambat laun, Kahfi harus tahu semuanya, apa yang sudah terjadi di masa lalu antara Afnan dan Ayumi.


"Kakak akan tetap menunggu Ayumi untuk bisa menerima Kakak. Kakak akan selalu berharap Ayumi adalah takdir dunia dan akhirat untuk Kakak," ucap Kahfi pelan kepada Ayumi.


Kahfi menyentuh kepala Ayumi yang tertutup hijab berwarna putih itu. Senyumnya begitu sempurna yang membuat hati Ayumi seperti tertusuk. 'Desiran apa ini,' batin Ayumi didalam hati saat Kahfi menyentuh kepala Ayumi.


Ayumi tidak percaya dengan ucapan Kahfi yang begitu semangat untuk tetap maju terus pantang mundur. Kata-kata Kahfi membuat Ayumi melayang, menjadi takdir dunia dan akhirat.


"Kak, maafkan Ayumi. Kalau kata-kata Ayumi membuat Kakak tidak nyaman," ucap Ayumi pelan pelan.


Kahfi hanya tersenyum kecut mendengar permintaan maaf Ayumi. Jujur, ada perasaan kecewa, tapi itulah hidup, ada hitam ada putih, ada menang ada kalah, ada pintar ada bodoh dan semuanya saling melengkapi.


"Kakak pulang dulu, Ayumi juga pulang. Nanti jam tujuh malam kita bertemu di taman " ucap Kahfi pelan dan lembut.


Kahfi berusaha tetap legowo dan ikhlas. Tapi ikhlasnya hanya mendengar bukan untuk melepaskan secara utuh.


Ayumi menganggukkan kepalanya pelan. Lalu berjalan menuju rumahnya meninggalkan Kahfi yang masih menatap Ayumi dari belakang untuk memastikan baik-baik saja.

__ADS_1


Kahfi menarik napas dalam dan menghembuskan napas itu perlahan. Lalu menyalakan mesin motornya dan melajukan dengan pelan hingga menuju rumahnya.


__ADS_2