Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
97


__ADS_3

Pagi ini, suasana di meja makan menjadi hening. Kahfi yang akhirnya mengalah untuk tidur dan beristirahat di sofa ruang tengah.


Kahfi sudah duduk di meja makan dan menunggu makanan seperti biasa uang dilakukan oleh Bunda Icha kepada dirinya.


Rara masih mengaduk nasi goreng dengan bumbu rahasia yang diberikan oleh Bunda Icha, semua dicatat lengkap oleh Rara.


Seperti biasa, Rara membuat teh panas manis dengan dua piring nasi goreng spesial dengan telur mata sapi diatasnya.


Kahfi menatap Rara yang terlihat luwes saat berada di dapur. Hari ini adalah hari kedua mereka tinggal di negara lain, jauh dari orang tua dan kerabat.


"Makan Kak Fi, maaf kalau tidak seenak buatan Bunda Icha," ucap Rara dengan suara pelan.


"Terima kasih Ra," ucap Kahfi dengan suara pelan.


Kahfi tersenyum menerima satu piring nasi goreng spesial dengan telur mata sapi dan satu gelas teh manis panas yang menjadi bagiannya.


Perut Kahfi sudah sejak tadi terasa perih karena lapar, ini saja sudah terhitung terlambat makan.


Satu suapan Kahfi masuk kedalam mulut, Kahfi mulai mengunyah makanan itu yang rasanya memang sangat mirip dengan nasi goreng yang biasa dibuat oleh Bunda Icha.


"Kenapa Kak Fi? Gak enak ya?" tanya Rara saat melihat mimik Kahfi yang seakan sedang berpikir.


Kahfi menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Siapa yang bilang tidak enak?" tanya Kahfi dengan cepat sambil menyuapkan kembali nasi goreng itu ke dalam mulutnya.


"Itu mukanya gitu waktu makan, kayak gak enak? Jujur aja kurang apa sama rasanya, Kak Fi?" tanya Rara pelan sambil menyuapkan satu sendok nasi goreng buatannya sendiri ke dalam mulutnya.


"Enak banget Ra, ini Kak Fi lagi ngerasain kok hampir sama kayak buatan Bunda," ival Kahfi pelan kepada Rara.


Rara tersenyum lebar dan senang masakannya dipuji, secara Rara itu bukan tipe perempuan yang bisa memasak seperti Ayumi.


"Beneran enak Kak Fi?" tanya Rara pelan kepada Kahfi dengan rasa tidak percaya.

__ADS_1


Kahfi menganggukkan kepalanya pelan dan mengambil teh manis dan meneguknya hingga habis setengah gelas.


"Beneran, masa Kak Fi bohong, untuk apa? Tapi ini beneran Ra, rasanya mirip sama masakan Bunda, ternyata kamu punya bakat terpendam juga, Ra?" ucap Kahfi memuji Rara yang sejak tadi tersenyum bahagia.


Lagi-lagi Rara hanya tersenyum lebar mendengar pujian yang diberikan Kahfi kepadanya.


"Rara mau berusaha menjadi yang terbaik buat Kak Fi, semoga apa yang Rara lakukan ini membuahkan hasil," ucap Rara dengan jujur.


Kahfi meletakkan sendok dan garpunya dengan pelan. Lalu menatap ke arah Rara yang masih mengunyah makanannya dengan pelan. Kedua mata Rara terpejam dan tersenyum sendiri sambil sesekali menggoyangkan bahunya ke atas.


Kahfi menatap Rara yang salah tingkah sendiri ikut tersenyum dan tertawa pelan. Sadr dengan tingkah konyolnya, Rara membuka matanya dan tatapannya langsung tertuju pada Kahfi yang sedang terkekeh pelan menatap wajah Rara.


Rara menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Rasanya sangat malu sekali saat ketahuan melakukan hal konyol didepan orang yang kita sukai, apalagi ini hidup satu rumah.


"Sudah terlihat semua, ternyata kamu itu lucu ya, Ra?" ucap Kahfi sambil terkekeh pelan pelan.


"Awww ... Kak Fi, Rara kan jadi malu," ucap Rara pelan dengan wajah yang sudah memerah.


"Heleh, kamu Ra," ucap Kahfi pelan sambil menghabiskan nasi goreng yang ada di piringnya sambil menatap Rara yang masih salah tingkah dengan kekonyolannya.


Kahfi terkekeh pelan dan meneguk air teh manis itu hingga habis.


"Makasih sarapannya Rara, ini beneran enak. Kamu mau ke rumah sakit jam berapa? Lebih cepat lebih baik, agar kamu segera ditangani dengan baik," ucap Kahfi dengan pelan menasehati.


"Iya Kak Fi, Rara tunggu Pak Pardi katanya mau jemput," ucap Rara pelan sambil menghabiskan makanannya.


Kahfu beranjak dari duduknya menuju kamar untuk membersihkan diri dan bersiap untuk pergi ke kampus barunya. Kahfi membuka pintu kamar dan akan membuka lemari untuk mencari pakaian untuk ke kampus.


"Kak Fi, baju untuk ke kampus udah Rara siapin di kasur," ucap Rara teriak dari arah dapur dengan suara keras dan lantang.


"Iya Ra," jawab Kahfi berjalan menuju kasur.


Memang sudah disiapkan, baju kemeja dengan warna kesukaan Kahfi, celana panjang berbahan jeans, dan pakaian dalam. Kahfi terkekeh pelan, melihat pakaian dalam yang sudah ada juga diatas pakaian kemejanya.

__ADS_1


'Ini cewek beneran belajar jadi Istri yang baik, tapi sulit Ra, Kak Fi tidak bisa berpindah ke lain hati, cinta Kak Fi hanya untuk Ayumi. Apa kabarmu Ay? Apakah kamu merindukan Kakak, seperti Kakak merindukan kamu dari sini,' batin Kahfi dalam hati dengan memegang gelang couple yang mereka beli saat pergi bersama.


'Semoga kita berjodoh Ay, tunggu Kak Fi sampai sukses,' batin Kahfi lagi di dalam hatinya.


Satu jam kemudian, Kahfi dan Rara sudah bersiap untuk pergi. Pak Pardi, supir Om Faisal sudah datang untuk menjemput. Acara hari ini adalah yang pertama mengantarkan Rara ke rumah sakit untuk mendaftarkan tetapi dengan dokter yang sudah ditunjuk.


"Kak Fi, surat rujukannya dibawa kan?" tanya Rara saat menunggu kedatangan dokter Kevin, dokter yang akan menangani Rara selama terapi dan kontrol di negara ini.


Kahfi hanya mengangguk pelan.


"Sudah ada, semua ada ditas ransel ini," ucap Kahfi pelan sambil duduk di ruang tunggu menunggu panggilan antrian.


Penyakit Rara adalah penyakit serius dan sudah berada di tahap akhir. Terapi yang akan dilakukan oleh Rara bukan untuk menyembuhkan tetapi hanya untuk memperpanjang hidup seseorang yang sakit.


"Kak Fi, sakit gak sih kemoterapi itu," ucap Rara pelan dan cemas.


Kahfi hanya menghela napas panjang dan mengeluarkan perlahan dari mulutnya. Kahfi menggelengkan kepalanya pelan. Kahfi benar-benar tidak tahu masalah kemoterapi, tapi menurut informasi yang Kahfi dengar itu akan sakit sekali.


"Kak Fi tidak tahu Ra, tapi Rara tenang ya, ada Kak Fi yang selalu menemani Rara disini," ucap Kahfi dengan pelan dan menenangkan hati Rara.


Rara kembali bersandar pada kursi tunggu itu, dengan perasaan tidak menentu. Rasanya sangat was-was untuk melakukan kemoterapi pertama kalinya.


Satu tangan Rara mengalungkan pada lengan Kahfi yang duduk disebelahnya, lalu bersandar di lengan kekar milik Kahfi. Nyaman sekali bersandar seperti itu, rasanya seperti tidak ada beban berat yang sudah jelas ada di depan mata Rara.


Kahfi mengusap kepala Rara dengan lembut dan berbisik pelan.


"Kamu pasti bisa Ra, kamu pasti kuat dan kamu pasti sembuh," ucap Kahfi lirih.


"Kalau Rara sembuh, Kak Fi mau nikah dengan Rara?" tanya Rara pelan kepada Kahfi.


Deg ...


Deg ...

__ADS_1


Jantung Kahfi seolah mencelos ingin keluar dari tubuhnya. 'Bagaimana aku bisa mencintaimu, Ra, jika cinta dan kasih sayang saja tidak kumiliki untukmu,' batin Kahfi dalam hatinya. Rasa sesak di dada itu kembali hadir, setiap dihadapkan pada masalah cinta dan kasih sayang.


__ADS_2