
Hari ini Ayumi dan Bulan dan beberapa siswa dan siswi lain sedang mengikuti ujian kompetensi untuk kelayakan mengikuti program pertukaran pelajar ke Mesir selama satu bulan.
Dari lima puluh orang yang mengikuti ujian kompetensi hanya akan ada sembilan orang yang bisa dinyatakan lolos untuk mengikuti program pertukaran pelajar ini.
Masing-masing angkatan hanya diambil tiga orang sebagai wakil dalam program pertukaran pelajar.
Ujian kompetensi dilakukan hari ini untuk beberapa materi, sekitar tiga materi umum yang harus dikuasai. Jika lolos mulai besok mengikuti bimbingan untuk belajar bahasa dan penggunaannya dalam berbicara sehari-hari selama berada di Mesir.
Ujian kompetensi ini akan diberikan hasilnya besok di papan pengumuman sekolah. Sembilan orang yang berhasil menjadi wakil sekolah untuk program pertukaran pelajar adalah sesuatu yang membanggakan.
"Ay, kamu sudah siap untuk ujian hari ini?" tanya Bulan pelan kepada Ayumi saat berjalan menuju ruang ujian.
"Banyak berdoa saja Bulan. Siap tidak siap kita harus tetap siap bukan?" jawab Ayumi pelan.
Jujur sebenarnya Ayumi sangat gugup menghadapi ujian kompetensi hari ini, karena ujian hari ini adalah ujian terakhir dan babak akhir penentuan siapa saja yang berhak mendapatkan program pertukaran pelajar ke Mesir.
"Semangat ya Ay, apapun itu kita harus bersama Ay," ucap Bulan pelan kepada Ayumi saling memberikan semangat dan motivasi.
"Kamu juga harus semangat Bulan, kita berdua pasti bisa berangkat kesana," ucap Ayumi penuh semangat.
Dua jam pertama masuk ke dalam materi pertama pun selesai. Semua peserta bisa beristirahat selama setengah jam dan mempersiapkan untuk materi kedua untuk dua jam berikutnya, dan dia kan berikutnya lagi untuk materi ketiga.
Tiga materi sudah terlaksana dengan baik dan lancar semua peserta memberikan mimik wajah yang berbeda-beda saat keluar dari ruangan ujian kompetensi itu.
Ada beberapa peserta yang keluar dari ruangan ujian dengan wajah yang lesu dan tak bergairah, ada juga yang mimik wajahnya terlihat biasa saja, ada juga yang tersenyum bahagia, ada juga yang menangis merasa tidak bisa mengerjakan semua soal-soal yang diberikan. Ayumi dan Bulan termasuk peserta yang mimik wajahnya terlihat biasa saja, ada keyakinan tersendiri bahwa mereka sanggup lolos dalam seleksi terakhir ini.
"Gimana Ay, soal-soalnya cukup mudah hanya perlu ketelitian saja, kalau salah membaca soal pasti jawabannya juga akan berbeda," ucap Bulan pelan saat mereview kembali soal-soal ujian kompetensi tadi.
__ADS_1
Ayumi menganggukkan kepalanya pelan tanda setuju.
"Betul Bulan, banyak sekali soal yang ambigu, kita harus jeli dan membaca ulang soal tersebut dengan baik, bisa salah kaprah," ucap Ayumi menjelaskan bagaimana tadi Ayumi mengulang membaca pertanyaan dengan baik, hingga maksud dari pertanyaan itu bisa dicerna dan dicari jawaban yang paling tepat dan benar.
"Ay, ada titipan surat dari Rara, sebetulnya mau Bulan berikan kemarin, tapi kita mau ujian kompetensi, takutnya mengganggu konsentrasi Ayumi," ucap Bulan pelan sambil memberikan amplop berisikan surat dari Rara sahabat Ayumi.
"Terimakasih Bulan, sudah mau peduli denganku. Gimana Rara sudah keluar dari rumah sakit?" tanya Ayumi pelan kepada Rara.
"Sudah Ay, Alhamdulillah kesehatannya membaik. Sepertinya memang hanya Kak Kahfi yang mampu membuat Rara bertahan hidup," ucap Bulan pelan.
"Betul Bulan, Ayumi juga sudah minta tolong Kak Kahfi untuk menjaga Rara dengan baik. Rara sekarang di asrama?" tanya Ayumi pelan.
"Iya, sampai hari jumat, sabtu minggu libur lebih banyak untuk praktikum dan praktek," jawab Bulan singkat.
"Syukurlah semoga semuanya baik-baik saja," ucap Ayumi pelan.
"Ay, kemarin sepertinya Ayah Sukoco menginginkan agar Rara dan Kahfi segera menikah. Ayah melihat perbedaan signifikan saat Rara selalu berada didekat Kak Kahfi," ucap Bulan menjelaskan.
Ayumi cukup terkejut mendengar ucapan Bulan yang tidak mungkin berbohong. Ada rasa perih dan pedih dihatinya. Kedua matanya pun terasa basah dan sakit rasanya.
"Ay, kamu baik-baik saja? Maaf kalau Bulan salah ucap atau terlalu ikut campur dalam hubungan Kak Kahfi dan Rara," ucap Bulan pelan.
"Ayumi tidak apa-apa Bulan, semua baik-baik saja, cuma kaget aja," ucap Ayumi pelan. Wajahnya menunduk ke bawah, agar matanya yang mulai basah tidak terlihat oleh Bulan.
"Ay, kamu mau menangis dan kamu pasti sakit bukan, mendengar berita ini," ucap Bulan pelan mendekati Ayumi dan memeluk sahabatnya.
Ayumi hanya diam dan membalas pelukan Bulan dengan erat dan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Tanpa kamu sadari, kamu itu sayang dengan Kak Kahfi, jangan bohongi perasaanmu sendiri," ucap Bulan dengan pelan.
Satu tangan Bulan mengusap punggung Ayumi. Ayumi melepaskan pelukan itu dan duduk di tepi ranjang bersama Bulan.
"Ayumi tidak tahu Bulan, perasaan apa ini setiap mendengar Kak Kahfi dan Rara, Ayumi merasa sakit, saat dekat dengan Kak Kahfi memang Ayumi merasa nyaman dan tenang. Sebentar lagi, Ayumi akan bertunangan dengan Kak Afnan saat liburan semester nanti. Ayumi tidak bisa menolak karena memang Ayumi sudah sejak awal menyukai Kak Afnan sudah sejak lama," ucap Ayumi pelan menjelaskan semuanya kepada Bulan.
"Cinta itu bisa hadir tiba-tiba, kita gak bisa menolak Ay, bisa hadir lewat doa, bisa hadir karena seringnya berkomunikasi, bisa hadir karena sering bertemu dan bisa hadir karena memang kepribadian orang itu sendiri, banyak hal sebenarnya yang membuat kita merasa nyaman dan makin nyaman dengan seseorang. Tapi lewat doa itu biasanya yang paling ampuh, dengan menyebut nama pasangan kamu di sepertiga malam, Inshaa Allah akan diberikan petunjuk dan jawaban," ucap Bulan menjelaskan dengan pelan dan secara detil.
Ayumi hanya tersenyum tersipu, Ayumi sangat malu pada Bulan yang bisa menebak suasana hatinya saat ini.
"Kamu pernah jatuh cinta Bulan?" tanya Ayumi pelan.
Bulan tersipu malu, pipinya merah merona mendengar pertanyaan Ayumi.
"Beliau ada disini, salah satu guru kita, ustad ikhsan namanya," ucap Bulan dengan mantap.
"Ustad Ikhsan? Guru Fiqih kita?" tanya Ayumi setengah berteriak tidak percaya.
"Iya Ay, Ustad Ikhsan beliau Guru Fiqih kita. Setelah lulus, beliau akan mengkhitbah Bulan," ucap Bulan singkat.
"Hebat, ternyata sahabatku sudah memiliki jodoh," ucap Ayumi pelan dan memeluk Bulan kembali sebagai tanda ikut bahagia.
"Beliau adalah santri dekat rumah dulu, lalu dengan berani meminta Bulan saat lulus kemarin, tapi Mama ingin Bulan menyelesaikan lanjutan atas, setelah itu baru boleh menikah dan melanjutkan kuliah kedokteran," ucap Bulan pelan.
"Memang jodoh itu adalah takdir yang sudah digariskan, kita tidak bisa memilih kepada siapa perasaan itu hadir," ucap Ayumi pelan.
"Tolong rahasiakan ini semua, Ustad Ikhsan tidak ingin berita ini terhembus oleh siapapun," ucap Bulan dengan nada memohon.
__ADS_1
"Iya Bulan pasti. Ayumi akan menjaga rahasia ini selamanya. Pantas, ada yang janggal tatapan kalian berdua jika bertemu dikelas," ucap Ayumi mengungkapkan kejujurannya karena ada keanehan setiap Ustad Ikhsan mengajar di kelasnya.
"Sudah jangan dibahas, yuk kita persiapan sholat ashar, sebentar lagi sudah masuk waktu ashar," ucap Bulan pelan menyudahi pembahasan tentang calon imam Bulan.