Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
139


__ADS_3

Di sepanjang jalan, degup jantung Ayumi terasa begitu cepat berdetak hingga napasnya terasa tersengal -sengal berjalan di koridor panjang itu. Sesekali Ayumi menarik napas panjang untuk mengisi ruang di rongga -rongga parunya agar bisa di kontrol dengan baik pengaturan napasnya.


Ayumi berjalan cepat menuju lobby dan melepas celemek yang ia pakai lalu berdiri di samping Reza yang sedang menunggu para tamu untuk memesan kamar atau orang yang ingin mengembalikan kunci karena sudah selesai menginap.


Ayumi memasang kembali name tag sebagai customer service dan berdiri sambil menatap ke arah depan lalu tersenyum ramah pada pengunjung yang menatap ke arahnya.


"Kamu kenapa?" tanya Reza tiba -tiba.


"Ekhemm ... Gak apa -apa," jawab Ayumi sambil mengangkat alisnya memastikan bahwa dirinya baik baik saja. Tangannya sedikit gemetar saat memegang pulpen untuk menulis nama pengunjung yang datang.


"Gak usah berbohong sama aku. Kamu kenapa?" tanya Reza menatap lekat dantajam ke arah Ayumi. Biar bagaimana pun, Ayumi adalah bawahan Reza dan smeua karyawa adalah tanggung jawab Reza. Jangan sampai ia mendapat aduan macam -macam yang sama sekali tidak di ketahui yang bisa mencemarkan nama baik hotel karena perilaku buruk satu karyawan.


"Gak apa -apa, Pak Reza," ucap Ayumi mencoba menenangkan Reza.


"Kunci kamar mana? Sudah selesai belum kerjaan kamu tadi?" tanya Reza pada Ayumi.

__ADS_1


"Sudah. Ekhemmm ... Sebentar," ucap Ayumi merogoh kantongnya dan hanya ada satu anak kunci saja. Satu anak kuncinya tidak ada.


"Kan dua. Ini satu, yang satunya?" tanya Reza sambil menengadahkan tangannya ke arah Ayumi.


"Tadi ada Pak. Ya ampun, ketinggalan Pak. Sebentar," ucap Ayumi dnegan cepat. Ayumi langsung berlari lagi menuju ke lantai atas untuk mengambil anak kunci yang masih tertinggal di daun pintu kamar Rara.


Ayumi berlari kencang hingga napasnya habis dan tersengal -sengal. Ayumi sudah berdiri di depan pintu kamar Rara dan menarik anak kunci yang masih menggantung di depana pintu. Sepertinya Rara tidak tahu, kalau kunci duplikat itu masih tertancap di daun pintu.


"Ayumi?" panggil Afnan dari arah belakang sambil menepuk bahu Ayumi yang sudah memasukkan anak kunci ke dalam kantung rok serangamnya.


Ayumi tahu, itu suara Afnan. Suara bariton yang berat dan lantang.


"Ayumi!! Apa yang kamu lakukan pada kamar itu? Kamu mengambil anak kuncinya?" tanay Afna penasaran.


"Maaf ... Saya tadi membersihkan kamar itu dan lupa mengambil kuncinya kembali. Ini kunci duplikat milik hotel," ucap Ayumi menjelasakan dengan jujur.

__ADS_1


Afnan berjalan ke arah Ayumi dan berdiri mensejajarkan langkahnya.


"Kamu sengaja? Menghilang dari Kakak? Kamu sengaja meninggalkan Kakak di posisi sulit dan akhirnya Kakak harus emnjalani takdir yang Kakak tidak sukai," ucap Afnan dengan suara keras.


Ayumi melirik sekilas ke arah tangan Afnan. Cincin mereka sudah tak ada lagi. Kini, cincin itu sudah terganti cincin emas putih lain yang bentuknya juga berbeda dengan miliknya.


"Maaf Kak. Jangan bahas masa lalu. Saya harus kembali kerja. Permisi," ucap Ayumi pelan dan pergi dari hadapan Afnan.


Afnan menarik tangan Ayumi, membuat Ayumi tertarik tubuhnya dan memeluk tubuh Afnan.


"Maaf Kak," ucap Ayumi berusaha berontak dan melepaskan tubuhnya dari pelukan Afnan.


"Kakak rindu sama kamu!! Kakak mau menikahi kamu secepatnya!!" ucap Afnan lantang.


"Sayang ... Perutku mulas lagi," ucap seorang wanita yang keluar dari kamar dan menatap tajam ke arah Ayumi dan Afna yang sedang berpeplukan dari jarak beberapa meter.

__ADS_1


__ADS_2