
Pagi ini, Moneta terlihat sedikit berbeda di bandingkan hari biasanya. Moneta sedikit memoles wajahnya agar terlihat dewasa dan lebih cantik. Wajahnya tak hanya memakai pelembab saja tapi juga menggunakan sedikit foundation dan bedak padat. Tidak lupa memakai eye liner dan maskara agar bulu matanya terlihat lentik. Softlens juga tak pernah lepas dari mata indah Moneta dan terakhir memakai liptint agar bibirnya terliat lembab dan berkilau.
Moneta sudah turun dan duduk di meja makan lalu meneguk susu cokelat dan sereal kesukaannya.
"Cantik bener anak mommy? Mau kemana? Kok kayak beda?" tanya Mommy Anya pada anak gadisnya yang sudah beranjak dewasa.
"Sekolah dong, Mom. Katanya di suruh sekoalh yang bener," jawab Moneta santai.
"Pagi semua ... Monny ... Nanti siang pulang sekolah, daddy tunggu di restaurant strawberry," titah daddy Monny.
"Ada apa dad? Monny kayaknya gak bisa, soalnya ada tambahan belajar untuk menghadapi ujian akhir," jawab Monny sambil menyuapkan satu sendok sereal ke adalam mulutnya.
"Pilih sekolah atau pilih daddy?" tanya daddy Paskalis menatap tajam ke arah putrinya.
Putrinya memang anak baik. Tapi sedikit keras kepala yang menurun pada dirinya. Jadi perlu pengawasan yang cukup ketat agar tidak memberontaak.
__ADS_1
"Sekolah. Bukannya daddy selalu bilang, agar Monny sekolah dengan baik dan rajin, biar bis amenggapai semua cita -cita Monny. Daddy kan tahu, Monny pengen banget jadi duta besar," ucap Monny pada daddynya.
"Pilih sekolah atau di coret dari kartu keluarga?" ancam daddy Paskalis pada Moneta, putrinya.
Monny meletakkan sendoknya dan meneguk sisa susunya lalu bangkit berdiri dan berjalan cepat ke arah keluar rumah.
"Monny!! Berhenti!! Daddy belum selesai bicara," ucap daddy Pasakalis pada putrinya yang mengabaikan ucapan daddynya itu.
Mengetahui teriakannya di abaikan oleh putri semata wayangnya. Daddy Paskalis murka dan langsung menelepon pada seseorang dengan wajah serius.
"Sayang ... Bisa di pending dulu kan, acara perjodohannya," tanya Anya makin bingung.
"Gak bisa, Anya. Kamu tahu, Abraham tidak akan menghentikan semua yang sudah di sepakati. Lagi pula AFthur itu sudah ada di sini, dan katanya sudah punya beberapa usaha baru," ucap PAskali dengan wajah serius.
"Iya, Anya paham. Tapi lihat, Monny itu masih remaja, dia masih butuh senang -sennag," bela Anya.
__ADS_1
"Kalau aku bilang lanjut tetap lanjut. Kalau kamu tidak suka, ya sudah. Pernikahan Anya akan tetap di laksanakan beberapa bulan lagi setelah ulang tahunnya yang ke tujuh belas," ucap Pasakalis pada Anya, istrinya.
"Tapi ...." ucapan Anya sungguh tak berarti. Paskalis adalah tipe lelaki diktator. Jadi apapun keputusannya harus di ikuti dan tidajk bisa di ganggu gugat.
"Tidak ada tapi -tapian. Aku harus pergi sekarang. Urus putrimu agar tidak menjadi gadis pemberontak," titah Pasakali menasehati Anya, istrinya.
Anya hanya bisa mengangguk pasrah dengan semua permintaan Pasakalis itu.
***
Tepat jam delapan pagi, Moneta sudah duduk manis di salah satu meja. Pakaian seragamnya tertutup rapat oleh jaket jeansnya.
Moneta sudah memesan minuman jus dan sesekali mengetuk -ngetukkna buku- buku jarinya di atas meja lalu menatap ponselnya. Sudah pukul delapan lewat sepuluh menit. Kliennya yang bernama Sultan belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Kamu yang namanya Molly? Pacar sewaan yang saya pesan?" tanya Sultan yang sudah berdiri di belakang Moneta. Dengan cepat, Moneta menoleh ke arah Sultan. Sungguh takjub melihat lelaki yang ada di belakangnya. Wajahnya seperti lelaki arab, tinggi, putih sedikit brewokan dan tubuhnya atletis, gagah dan kekar. Bulu matanya lentik sehingga membuat wajahnay begitu sempurna sebagai laki -laki idaman.
__ADS_1
"Iya, Sa -saya Molly. Anda yang namanya Sultan?" tanya Moneta gugup dan terbata.