
Rara menepuk bahu Kahfi dengan sangat keras.
"Kenapa Bang? Sedih lu liat begituan? Rara aja mewek," ucap Rara dengan cuek dan masih mengusap kedua pipinya yang masih basah.
Pelan-pelan rasa suka Rara terhadap Kahfi harus ditahan agar tidak diketahui orang banyak. Rara berusaha menutupinya dengan bersahabat baik dengan Kahfi.
Kahfi ikut ke luar rumah menuju teras dan menghampiri Bunda Icha serta Ayumi.
"Bunda, di panggil Bapak," ucap Kahfi dengan sopan sambil menepuk bahu Bunda Icha dengan sangat pelan.
Bunda Icha menoleh ke arah Kahfi dan mengedipkan satu matanya untuk diam terlebih dulu.
"Ayumi, kita makan dulu ya? Ayumi mau kan, makan masakan Bunda?" tanya Bunda Icha dengan lembut masih dengan mengusap kepala Ayumi yang tertutup dengan hijab.
Ayumi melepaskan pelukannya dan berdiri tegap di hadapan Bunda Icha. Ayumi menyimak ucapan Bunda Icha dengan baik, namun tidak ada satu patah kata pun yang terlontar dari bibir Ayumi.
Kedua matanya sudah basah karena air mata, leleran air mata yang bercampur cairan dari hidung yang terus saja mengalir menjadi satu membuat wajah Ayumi basah tidak karuan.
"Ayumi malu Bunda," jawab Ayumi singkat.
Bunda Icha hanya terdiam menatap Ayumi.
"Malu sama siapa?" tanya Bunda Icha sambil merapikan hijab Ayumi.
Kedua mata Ayumi menatap Kahfi lalu menoleh ke arah dalam rumah untuk menatap Rara secara bergantian.
Ayumi kembali menatap Bunda Icha dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Masuk ya?" ucap Bunda Icha sambil memegang tangan Ayumi dan menggandengnya untuk masuk ke dalam rumah.
Bunda Icha berjalan beriringan dengan Ayumi, lalu Rara dan Kahfi berjalan dibelakangnya.
"Kita kedatangan tamu lagi. Ini namanya Ayumi. Ayumi, ini Pak Toha, suami Bunda, dan itu Ayah dan Bunda Rara, dan yang cantik itu Zura calon istri Afnan," ucap Bunda Icha memperkenalkan semua yang ada di ruang makan.
Deg ...
Deg ...
__ADS_1
Deg ...
Bagai dilempar batu besar dan tepat mengenai jantung Ayumi. Sakit, itu kata pertama yang ada dalam pikiran Ayumi. Tatapannya langsung berpindah kepada Afnan dan Zura secara bergantian.
Zura mendengar ucapan Bunda Icha yang telah mengakui Zura sebagai calon istri Afnan pun merasakan kebahagiaan luar biasa. Selama ini dirinya tidak dianggap oleh Afnan, namun keluarganya Afnan terlebih Bunda Icha sangat perduli dan mengakui Zura sebagai calon menantunya. Zura tersenyum lebar penuh kemenangan.
Afnan sadar ditatap tajam oleh Ayumi langsung angkat bicara perihal hubungannya dengan Zura. Afnan menatap Zura yang tampak bahagia dengan pengakuan Bunda Icha.
Afnan berdiri lalu berucap, "Bunda, tolong jangan mengucapkan hal yang belum tentu benar." Suara tegas Afnan penuh rasa kesal.
Bunda Icha menatap ke arah Afnan penuh tanda tanya.
"Apa maksud kamu Afnan?" tanya Bunda Icha dengan suara agak keras.
"Afnan tidak mau berdebat masalah ini, maafkan Afnan, dan untukmu Zura, maaf dengan tegas, saya tidak bisa menerima penawaran ta'aruf darimu, selamat siang," ucap Afnan dengan sangat tegas lalu berjalan menuju kamarnya.
Saat berpapasan dengan Ayumi, Afnan menatap sendu wajah Ayumi. Ayumi membalas tatapan itu dengan rasa kecewa teramat dalam.
"Afnan! Jangan pergi meninggalkan meja makan. Mereka tamu harus kita hormati," ucap Kyai Toha dengan lantang.
Langkah kaki Afnan pun terhenti mendengar ucapan Kyai Toha, Bapaknya. Afnan membalikkan tubuhnya dan berdiri tepat di samping Ayumi.
Ayumi tersentak kaget mendengar pengakuan Afnan yang sangat berani berbicara lantang di depan orang banyak. Ayumi menoleh ke arah Afnan seolah tidak percaya. Afnan membalas tatapan Ayumi penuh kehangatan dan kelembutan.
"Apa!" teriak Zura spontan.
Semua mata memandang ke arah Zura, menatap sedih dan kasihan terhadap Zura. Cintanya selama ini kepada Afnan ternyata benar-benar bertepuk sebelah tangan.
"Afnan! Kamu tidak menghargai Ayah!" teriak Pak Sukoco yang sudah menganggap Afnan sebagai putranya sendiri.
"Maafkan Afnan, Ayah. Selama ini Afnan berusaha untuk bisa mencintai Zura, namun cinta itu tidak pernah tumbuh bahkan tidak pernah ada untuk Zura," tegas Afnan kepada Pak Sukoco.
"Itu karena perasaan kamu telah mati! Perasaan kamu sudah dibutakan oleh gadis yatim piatu itu!" teriak Pak Sukoco sambil mengebrak meja makan dengan kesal.
Kyai Toha hanya diam dan menarik napas dalam, mencari cara untuk menengahi masalah ini.
Kahfi hanya menatap Ayumi dengan perasaan hampa dan kecewa.
__ADS_1
Rara menatap Kahfi yang terlihat sedikit melamun menatap Ayumi. Rara tidak tahu, seharusnya bagaimana dia bersikap, harus senang karena memang Kahfi bisa menjadi miliknya, atau harus sedih melihat orang yang di sayangnya kecewa dan bersedih.
Bunda Icha menatap Ayumi yang terlihat memerah wajahnya karena malu dan sedih. Tangan Ayumi masih digenggam oleh Bunda Icha, dan semakin kuat genggamannya itu.
Ayumi menoleh kepada Bunda Icha yang tersenyum ramah kepadanya.
Wajah Bunda Icha mendekat ke arah telinga Ayumi dan setengah berbisik, "Ternyata kamulah calon menantunya yang asli."
Dalam hati Ayumi bahagia mendengar bisikan itu, namun tetap saja kecewa, pengungkapan itu dilakukan saat yang tidak tepat. Ada orang lain yang terluka karena kebahagiaannya tentu membuat Ayumi ikut bersedih.
"Kita tidak dihargai disini! Lebih baik kita pulang saja. Bunda, Zura, Rara, kita pulang sekarang!!" teriak Pak Sukoco dengan penuh amarah dan emosi.
Kyai Toha ikut berdiri dan menghampiri Pak Sukoco yang masih dikuasai oleh nafsu amarah.
"Pak Sukoco, maafkan Afnan putra saya. Saat ini sudah mengecewakan Pak Sukoco d an keluarga, saya atas nama keluarga benar-benar minta maaf atas kejadian yang kurang baik ini," ucap Kyai Toha pelan dan melemah.
Melemah bukan berarti kalah, namun lebih menghargai Pak Sukoco sebagai tamu, dan Kyai Toha sebagai tuan rumah sebaiknya memberikan kenyamanan maksimal.
Kejadian ini benar-benar di luar dugaan kedua keluarga tersebut.
"Mari kita bicarakan di ruang keluarga agar lebih santai," ucap Kyai Toha dengan lembut bagai menyihir Pak Sukoco yang akhirnya menuruti kata-kata Kyai Toha.
Semua meninggalkan ruang makan menuju ruang keluarga sesuai dengan permintaan Kyai Toha. Semua mengambil posisi duduk masing-masing.
Ayumi, Bunda Icha, Kahfi dan Rara tetap berada di ruang makan untuk menyantap makan siang yang tertunda karena masalah tadi.
"Ayumi, kok ambil nasinya sedikit. Ayo ambil lagi," ucap Bunda Icha dengan lembut sambil menumpahkan sayur ke piring Ayumi dan Rara secara bergantian.
"Ay, Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Kahfi pelan. Kahfi sejak tadi memperhatikan Ayumi yang terlihat tertunduk lesu dan sedih.
"Tidak apa-apa Kak," jawab Ayumi pelan.
"Ay, jangan dimasukkan hati ucapan Ayah Rara," ucap Kahfi kemudian yang tidak rela melihat gadis kesayangannya dipermalukan seperti tadi.
"Iya Ay, Ayahku memang keras dan kasar. Maafkan Ayahku ya?" ucap Rara menjelaskan.
"Aku baik-baik saja. Gak perlu lebay ya," ucap Ayumi tersenyum lalu terkekeh.
__ADS_1
Ayumi tidak tega melihat sahabatnya memohon maaf. Lebih baik Ayumi merasakan sakit hati dan tetap diam tanpa diketahui oleh yang lain.