Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
49


__ADS_3

Kabar buruk mengenai Rara yang melakukan percobaan bunuh diri sudah didengar oleh Ayumi melalui komunikasi online dengan Kahfi beberapa waktu lalu sebelum Rara siuman.


Ayumi cukup terkejut mendengar berita buruk itu. Sempat bertanya kepada Kahfi, kenapa hal ini bisa terjadi, namun Kahfi tidak menjawab pertanyaan Ayumi.


Penundaan keberangkatan Rara ke Sekolah barunya juga sudah disampaikan kepada Ayumi. Kahfi hanya berucap, "Maafkan Kakak, Ay. Rasa bersalah ini membuat hati Kakak jadi tak menentu." Ucapan Kahfi terdengar lirih dan penuh penyesalan.


'Sebenarnya ada masalah apa? Apa yang terjadi antara Kak Kahfi dan Rara,' batin Ayumi di dalam hatinya.


Hari ini Ayumi sudah memiliki janji dengan Bunda Icha untuk membantunya membuat kue kering. Kue-kue kering tersebut akan dijadikan buah tangan Bunda Icha untuk sahabat-sahabatnya yang akan datang di acara silaturahmi alumni sekolahnya dahulu.


Acaranya akan dilakukan tiga hari lagi di daerah Semarang. Sesuai rencana awal, Bunda Icha akan berangkat ke acara tersebut dengan mengajak Kahfi dan Ayumi untuk menemaninya. Kahfi bertugas untuk membawa mobil sedangkan Ayumi bertugas untuk menemani Bunda Icha selama perjalanan menuju Semarang.


Pikiran Ayumi menjadi tidak fokus, karena memikirkan keadaan sahabatnya yang masih tidak sadarkan diri.


"Ayumi, kamu kenapa? Sedang sakit?" tanya Bunda Icha pelan sambil memegang kening Ayumi yang tidak hangat.


"Ayumi tidak sakit Bunda, hanya saja..." ucapan Ayumi terhenti sejenak mengatupkan kedua bibirnya untuk segera diam dan tidak bersuara.


Bunda Icha menatap wajah Ayumi yang terlihat sedikit gugup dan menundukkan wajah cantiknya.


"Hanya saja? Coba teruskan Ay, jangan buat Bunda penasaran," ucap Bunda Icha dengan lembut.


Dagu Ayumi diangkat oleh Bunda Icha, agar dapat menatap wajahnya. Hanya raut wajah sedih yang terukir dalam senyum keterpaksaan.


"Apa yang terjadi? Nenek Arsy sakit?" tanya Bunda Icha pelan.


Ayumi menggelengkan kepalanya dengan cepat.

__ADS_1


"Bukan Bunda, Nenek baik-baik saja," ucap Ayumi pelan.


"Lalu apa Ayumi? Rindu dengan Afnan?" tanya Bunda Icha pelan dengan senyum menggoda.


Ayumi hanya mengerucutkan bibirnya ke depan.


"Bukan Bunda. Ini masalah Rara dan Kak Kahfi," ucap Ayumi pelan sambil melanjutkan aktivitasnya mencetak adonan kue untuk di masukkan ke dalam oven.


"Kahfi? Rara? ada hubungan kah mereka berdua? Setahu Bunda, Kahfi itu menyukai ..." ucap Bunda Icha pelan langsung terdiam seolah tidak melakukan kesalahan.


"Kak Kahfi menyukai siapa Bunda?" ymtanya Ayumi dengan rasa penasaran.


"Bukan siapa-siapa, lupakan saja Ayumi," ucap Bunda Icha pelan.


"Iya Bunda," jawab Ayumi pelan seakan tidak peduli.


"Kahfi dan Rara, kenapa?" tanya Bunda Icha kepada Ayumi.


"Astagfirullah, ada apa dengan Rara ya. Lalu hubungannya dengan Kahfi?" tanya Bunda Icha dengan rasa penasaran.


"Rara menyukai Kak Kahfi, tapi Kak Kahfi tidak menyukai Rara dengan alasan ada hati lain yang sedang dijaga," ucap Ayumi menjelaskan.


Bunda Icha hanya tersenyum, lalu melanjutkan aktivitasnya merapikan adonan kue yang sudah tercetak ke atas loyang dan memasukkannya ke dalam oven.


"Bunda setuju kan kalau Kak Kahfi bersama Rara?" tanya Ayumi pelan menatap Bunda Icha yang sejak tadi tersenyum sendiri.


Bunda Icha mengangkat wajahnya dan tertawa pelan ke arah Ayumi.

__ADS_1


"Bunda tidak mau berurusan dengan urusan hati. Biarkan anak-anak Bunda bebas memilih dengan siapa mereka hidup nantinya, mencari pasangan hidup yang seperti apa sesuai keinginan hati mereka, yang terpenting harus seiman, hanya itu saja, yang lainnya bisa menyesuaikan dengan belajar bersama," ucap Bunda Icha menjelaskan.


"Berarti restu Bunda akan selalu ada untuk anak-anak Bunda?" tanya Ayumi kemudian.


"Benar sekali, untuk apa Bunda menyiksa anak-anak Bunda dengan masalah pilihan jodoh. Jodoh sudah diatur sama Allah SWT, tugas Bapak dan Bunda hanya merestui, membimbing dan menasehati," ucap Bunda Icha menjelaskan.


"Ayumi mengerti Bunda," ucap Ayumi pelan merapikan kue-kue kering yang sudah matang ke dalam toples yang sudah disiapkan oleh Bunda Icha.


"Kamu tahu Ay, saat Afnan bicara dengan Bapak dan Bunda ingin melamar kamu, kami berdua hanya memberikan restu dan mendukung niat baik Afnan, hanya saja semua niat baik yang kita inginkan tidak menghambat niat baik lainnya seperti menyelesaikan studi atau mengejar cita-cita, seperti yang Ayumi inginkan. Kalau saat itu Ayumi siap, setelah selesai sekolah pasti Afnan akan mengkhitbah Ayumi," ucap Bunda Icha menjelaskan.


"Maafkan Ayumi. Bukan Ayumi menolak tapi hanya menunda saja sampai Ayumi menjafi dokter," ucap Ayumi lirih.


"Tidak ada yang salah Ayumi, semua itu pilihan. Meneruskan pendidikan, mengejar cita-cita, menikah muda, mempunyai usaha mandiri, atau apapun, itu semua pilihan. Bunda tahu kalian berdua saling mencintai dan menyayangi dan hanya waktu yang akan menjawab, tapi ingat itu semua proses, takdir yang menentukan, manusia hanya bisa berharap tapi tetap Allah SWT yang menentukan," ucap Bunda Icha pelan lalu menutup toples-toples yang sudah penuh dan merekatkan dengan lem perekat yang terbuat dari plastik agar rapi.


"Iya Bunda. Ayumi hanya ingin membuat Nenek bangga, membuat Ayah dan Bunda yang sudah di keabadian pun bangga pada Ayumi," ucap Ayumi lirih.


Bunda Icha memeluk Ayumi dengan penuh kasih sayang. Memberikan kehangatan agar kepada calon menantunya itu agar tetap semangat dalam menjalani kehidupan serta tetap semangat untuk menggapai cita-citanya.


"Ayumi tidak rindu sama Afnan, tadi malam Afnan telepon Bunda, katanya Afnan sudah mulai masuk kuliah, semoga saja betah disana," ucap Bunda Icha pelan.


"'Ayumi takut mengganggu Kak Afnan, Bunda. Ayumi saja tidak berani menghubungi Kak Afnan duluan, selalu menunggu Kak Afnan yang memulai duluan baru Ayumi membalas," ucap Ayumi dengan jujur dan polos.


Bunda Icha terkekeh pelan sambil mengusap kepala Ayumi dengan gemas karena kepolosannya.


"Kamu itu memang bikin Bunda rindu, gimana Afnan tidak klepek-klepek dengan kamu, Ay. Afnan itu senang dengan wanita yang manja namun mandiri, wanita yang sederhana namun bisa menempatkan diri, dan itu hanya ada pada kamu, Ay," ucap Bunda Icha pelan.


"Bunda suka gitu kalau memuji bikin Ayumi terbang ke awan," ucap Ayumi membalas pelukan Bunda Icha.

__ADS_1


"Calon menantu Bunda kesayangan," ucap Bunda pelan dan mencium kepala Ayumi yang terbalut hijab.


Semakin hari keduanya semakin kompak. Hubungan antara Bunda Icha dan Ayumi, tidak hanya sebatas hubungan calon mertua dan calon menantu. Mereka berdua memiliki hobby yang sama, yaitu mencari resep baru untuk di eksekusi. Obrolan kedua wanita beda umur itu selalu nyambung dan selalu saja ada topik pembahasannya, bukan melulu masalah masakan atau resep baru, tapi juga masalah kecantikan dan model gamis dan hijab yang sedang menjadi tren saat ini.


__ADS_2