
Selama perjalanan Kahfi menjadi bahan ghibah antara Bunda Icha dan Ayumi. Kedua wanita berbeda usia itu memang berniat mendekatkan atau menjodohkan antara Rara dengan Kahfi. Bunda Icha memiliki maksud lain dengan mendekatkan Rara kepada Kahfi, agar Kahfi bisa melupakan Ayumi.
Beberapa hari yang lalu, Kahfi mencurahkan isi hatinya pada Bunda Icha. Bunda Icha bukan saja sebagai Ibu tetapi bisa juga dianggap sebagai sahabat bagi Kahfi.
Kahfi menceritakan seluruh isi hatinya, rasa sayangnya, rasa cintanya saat ini kepada Ayumi. Tetapi, karena Ayumi sudah jelas-jelas lebih memilih cinta pertama sekaligus cinta sejati di masa kecil, tentu tidak mudah bagi Kahfi untuk berharap lebih.
Jangan berharap kepada sesama makhluk Allah SWT, akan tetapi gantungkan semua harapanmu kepada Allah SWT, Sang Pencipta alam semesta dan seisi dunia melalui doa-doa yang dipanjatkan.
Lalu, doa yang seperti apa yang bisa dengan cepat di jabah atau dikabulkan oleh Allah SWT. Doa yang kita panjatkan dengan khusyuk, dengan tangisan dan derai air mata. Doa yang kita panjatkan di waktu-waktu yang mustajabah. Doa yang kita panjatkan sebelumnya didahului dengan hadorohan dan sholawat kepada Nabi Muhammad.
Lalu, apakah itu semua pasti akan terkabul? Pasti akan dikabulkan, hanya waktu yang akan menentukan dan semua harus diridhoi oleh Allah SWT, dan yang terpenting itu semua adalah kebutuhan yang dibutuhkan oleh manusia itu sendiri.
Sejatinya, Allah SWT akan memberikan atau akan mengabulkan doa-doa umat manusia sesuai dengan kebutuhannya manusia itu sendiri bukan keinginan umat manusia. Bukan Allah SWT tidak memberi tapi akan disesuaikan dengan waktu serta kondisi yang tepat bagi kita.
Maka itu, berharaplah yang baik-baik, berdoalah yang baik-baik, agar Allah SWT juga mememberikan yang baik-baik untuk kita. Aamiin ya Rabb.
"Fi, Bunda lihat diam saja?" tanya Bunda Icha yang sejak tadi tidak melihat keceriaan putra bungsunya.
Kahfi hanya menggelengkan kepalanya pelan tanpa bersuara dan tetap fokus pada jalan raya.
"Kak Fi, di depan ada lampu merah, dari sana nanti belok kiri, tidak jauh ada tulisan Sekokah Kesehatan," ucap Rara memberikan penjelasan alamat sekolah yang baru.
"Iya, bawel," jawab Kahfi sekenanya.
Sejak awal pertemuan Kahfi memang kurang menyukai Rara. Sifatnya yang kelewat manja terlalu berlebihan. Tapi memang begitu, kalau tidak suka mau sifat atau karakter seseorang pasti akan dianggap tidak baik atau kurang baik.
Rara mendengar jawaban Kahfi hanya terdiam kembali.
Ayumi menyimak keduanya berkomunikasi dan hanya menatap Kahfi dari spion tengah. Sadar ditatap makhluk manis dari arah belakang Kahfi membalas tatapan itu dengan penuh tanya.
__ADS_1
"Kak? Memang Kakak tahu jalannya?" tanya Ayumi dengan lembut.
"Gak tahu Ay, kamu tahu?" tanya Kahfi b
kembali kepada Ayumi.
"Ayumi juga tidak paham, itu Rara lagi menjelaskan, tolong disimak dengan baik Kak," ucap Ayumi pelan kepada Kahfi.
"Hemm iya," jawaban singkat yang memuat kesal Ayumi.
Kahfi melirik ke arah Rara yang masih kesal dengan Kahfi.
"Ini kemana lagi," tanya Kahfi kepada Rara dengan ketus.
"Lampu merah belok kiri terus lurus aja, nanti kelihatan gedung sekolahnya," ucap Rara pelan tanpa menatap Kahfi yang memang fokus dengan menyetir.
Pikiran Kahfi fokus dengan jalan, ingin sekali rasanya cepat sampai dan meninggalkan Rara disana lalu kembali pulang. Entah kenapa Kahfi begitu benci dengan Rara, padahal sejak dahulu Rara sudah sering bermain ke rumah Kahfi untuk alasan silahturahmi atau sekedar mengantarkan Kak Zura menemani untuk bertemu Afnan.
Gedung Sekolah itu sangat besar dan tampak luas hingha ke belakang. Tertulis di papan depan, sekolah ini menyediakan asrama bagi murid yang tinggal di luar kota.
Rara sudah turun lebih dahulu, wajahnya sangat sumringah saat menatap nama sekolah yang tertulis besar di depan gedung. Sekolah ini adalah sekolah impian Rara sejak kecil, saat bisa memakai jaslab berwarna putih dan mengambil darah seseorang untuk sample dan mencari hasilnya.
Angan-angan itu kini menjadi kenyataan saat kedua kaki Rara benar-benar sudah masuk ke dalam gedung Sekolah Kesehatan tersebut.
Bunda Icha dan Ayumi sudah berdiri di dekat belakang mobil untuk menunggu Kahfi yang masih merapikan rambut dan pakaiannya. Maklum anak muda jaman sekarang selalu ingin terlihat klimis, maskulin, keren dan dipuja banyak wanita.
Kahfi turun dari mobilnya lalu menghampiri Bunda Icha dan Ayumi. Lalu ketiganya berjalan menuju gedung utama sekolah itu dengan membawa beberapa perlengkapan Rara yang akan digunakan selama berada di asrama.
Rara berjalan paling depan dengan menarik koper berisi beberapa pakaian. Kedua matanya melirik ke kiri dan ke kanan mencari seseorang yang bisa membantunya mengetahui situasi dan kondisi serta letak ruangan yang ada dalam gedung.
__ADS_1
Terlihat satpam dan tukang kebun sedang berbincang di dekat taman gerbang sekolah. Rara menghampiri satpam tersebut dan bertanya letak ruangan administrasi untuk daftar ulang dan daftar untuk masuk asrama selama bersekolah disini.
"Assalamu'alaikum, Pak, mau tanya, ruang administrasi untuk daftar ulang dimana?" tanya Rara dengan sopan.
"Waalaikumsalam, anak baru? Silahkan di ruangan nomor tiga, lurus saja nanti ada tulisannya, itu ruangannya. Langsung saja ketemu dengan Bapak Vincent, beliau pengurus dan pengelola sekolah ini," ucap Satpam tersebut dengan sopan menjelaskan.
Setelah mendapatkan informasi Rara segera menghampiri Bunda Icha, Ayumi dan Kahfi untuk menuju ruangan yang sudah dijelaskan tadi.
Tidak jauh sekitar beberapa langkah, ruangan itu terlihat dengan tulisan angka tiga persis di depan pintu masuk ruangan itu.
"Bunda Icha ikut masuk ya, takutnya harus ada yang ditanda tangani, Bunda Icha bisa menjadi wakil Rara, kan?" ucap Rara dengan nada memohon.
"Baik Rara, yuk kita masuk," ucap Bunda Icha mengajak Rara untuk segera masuk ke dalam ruangan tersebut.
Di dalam ruangan itu ada tiga meja, masing-masing meja dengan satu orang guru untuk wawancara dan pengembalian berkas untuk daftar ulang.
Rara mengisi formulir dan mempersiapkan beberapa syarat yang masih kurang untuk dilengkapi. Senyumnya mengembang saat guru tersebut menerima dan memberikan tanda bukti bahwa Rara sudah diterima di sekolah tersebut dengan diberikannya baju seragam termasuk jaslab keinginannya sejak dulu.
"Kamu bahagia, Ra?" tanya Bunda Icha pelan menatap wajah Rara.
"Sangat bahagia Bunda, ini cita-cita Rara sejak kecil, menjadi seorang analis," ucap Rara berbinar saat berjalan masuk menuju gedung lainnya.
Rara, Bunda Icha, Ayumi dan Kahfi menuju asrama tempat Rara akan tinggal. Asrama itu sangat besar dengan bangunan modern dan terlihat bersih.
"Itu asramanya Ra? Keren ya?" tanya Ayumi penuh semangat.
"Iya Ay, keren banget ya," jawab Rara pelan.
Semua berjalan menuju gedung berwarna putih untuk mengantarkan Rara menuju asrama. Tempat dimana Rara akan menimba ilmu selama tiga tahun ke depan dan lulus menjadi seorang analis.
__ADS_1
Hidup adalah sebuah anugerah, maka kita patut mensyukuri semua nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Tidak semua bisa merasakan kebahagiaan yang kita rasakan, dan tidak semua orang merasakan kesedihan yang kita rasakan.
Semakin tinggi ilmu yang kita cari, seharusnya semakin baik ibadah dan akhlak kita.