
"Iya Kak. Nanti Yumna pasti berakbar kok," ucap Yuman sedikit malas.
Duta memahami sikap Yumna pagi ini yang sama sekali kurang enak di lihat. Sikapnya ketus dan masa bodoh. Ya, Yumna terlalu kecewa dengan sikap Duta tadi. Duta emmang ebrbohong, tapi itu smeua demi Yumna dan bayi yang ada dalam kandungan Yumna.
Duta harus rela melepas Yumna pagi ini untuk kembali dan tak bisa memaksakan Yumna untuk kembali ke Paris secepatnya juga. Duta harus bisa memahami situasi dan kondisi Yumna dari beberapa sisi, baik mental dan kesehatan bayinya. Yumna tidak boleh lelah dan cape, selain itu Yumna tidakboleh banyak pikiran, begitu pesan dokter yang memeriksa Yumna saat itu.
Yumna mencium pipi Duta dan mencium punggung tangan Duta dengan sikap hormat. Yumna pun langsung pergi meninggalkan Duta sendiri, kedua tangan itu mulai terlepas dan Yumna mulai masuk ke jalan menuju pesawat.
Duta menatap kepergian Yumna yang lama -lama punggung Yumna menghilang dari pandangannya. Satu bulir air matanya turun begitu saja. Selama ini Duta sellau menjadi lelaki yang kuat dan mampu menjaga emosi dan batinnya. Tapi entah kenapa, pagi ini dadanya begitu sesak melihat istrinyaa pulang sendiri.
Hidup harus terus berjalan. Tidak ada yang bisa menanggung beban hidup mereka jika bukan mereka sendiri. Setelah memastikan Yumna sudah masuk ke dlama pesawat, Duta memilih menatap peswat yang di naiki Yumna, hingga benar -benar pergi dan terbang menuju Indonesia.
***
Nick sengaja menunggu Yumna di depan pintu pesawat dan mengajak Yumna tersenyum.
__ADS_1
"Nomor kursimu berapa? Jangan -jangan kita dapat nomor kursi yang tak jauh," ucap Nick menatap tiket pesawatnya. Yumna ikut menatap tiket pesawatnya dan benar saja, kursi mereka bersebelahan. Takdir apa ini? Seolah semesta memberikan jalan dan kesempatan bagi Nick untuk bisa berdekatan dan menjaga Yumna, sahabatnya.
"Kita sebelahan?" ucap Yumna dnegan kedua mata berbinar. Akhirnya Yumna tak kesepian selama berada di pesawat nanti. Setidaknya ada Nick yang bakal menemani Yumna berbicara.
"Ini tandanya, aku di tugaskan menjadi pengawal pribadimu sampai Indonesia," ucap Nick merasa bangga.
"Dasar kamu ya," ucap Yumna masuk lebih dulu dan mencari tempat duduknya.
Kebetulan sekali, Yumna mendapatkan kursi di samping kaca. Itu yang di harapkan Yumna untuk meminimalisir mabuknya selama hamil di trisemester pertama ini.
Yumna mengangguk kecil dan duduk di kursi miliknya. Nick pun ikut duduk di samping Yumna dan meletakkan satu kantong makanan yang ia bawa tadi untuk Yumna.
"Makanlah. Kamu pasti lapar dan belum sarapan kan?" ucap Nick menuduh.
"Sok tahu kamu. Gak berubah dari dulu sikap sok tahu kamu. Ini aku juga bawa susu hamil sama roti. Tadi Kak Duta membelikan untuk aku," ucap Yumna jujur.
__ADS_1
"Oke. Aku simpan milikku. Klaau mau tinggal bilang. Kalau sakit juga jangan di tahan, kamu harus bilang," ucap Nick yang mulai khawatir.
"Iya. Siap. Ekhemmm ... Ngomong -ngomong kamu ada perlu apa pulang? Bukankah Mama kamu sudah ...," ucapan Yumna terhenti dan takut menyinggung perasaan Nick.
"Sudah meninggal? Memang. Aku pulang karena sesuatu hal. Cinta sejatiku tertinggal di sana. Mungkin aku akan menemaninya beberapa saat saja. Setelah itu aku bakal kembali lagi," ucap Nick dengan tatapan lekat ke arah Yumna.
"Nick? Jangan bilang kamu ingin menemui kekasihmu? Katanya jomblo? Dasar tukang bohong," ucap Yumna pura -pura marah.
"Memang jomblo. Cinta sejati memang harus memiliki? Kan gak. Kita cukup menatap, melihat, menemani. Itu saja sudah cukup mengobati rasa rindu aku," ucap Nick santai.
"Kenlain dong sama Yumna," ucap Yumna pada Nick.
"Oke. Tapi kamu janji untuk tetap sehat dan gak boleh sedih," ucap Nick menasehati.
"Iya Nick," jawab Yumna.
__ADS_1