
Wedang ronde itu sudah habis di nikmati keduanya. Tubuh keduanya kini mulai menghangat dan terasa segar. Minuman rasa asli jahe itu memang cocok untuk menembus malam yang dingin. Seakan tidak ada topik pembicaraan, mereka berdua hanya saling menatap dan melempar senyum.
Afnan memulai pembicaraan, saat keduanya hanya sama-sama hening dan larut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Ayumi, ada hal yang ingin Kakak katakan. Mungkin ini bukan waktu yang tepat, tapi waktu akan terus berjalan tanpa kita sadari, kita akan melakukan banyak kesalahan, hingga apa yang menjadi tujuan kita tidak akan pernah tercapai jika kita tidak mengungkapkan sejak awal. Termasuk hal yang akan Kakak sampaikan kepada Ayumi malam ini." ucap Afnan sangat pelan dan jelas. Tatapannya tetap lurus depan tanpa berkedip.
Ayumi menoleh ke arah Afnan dan menatap serta mendengarkan dengan baik, apa yang akan dikatakan oleh Afnan kepadanya. Hati dan pikiran Ayumi mulai tidak tenang dan cemas saat Afnan mulai berbicara. Kedua mata Afnan yang menatap kosong ke arah lain, membuat Ayumi semakin tak karuan perasaannya.
Pembicaraan Afnan kini terlihat serius dan sedikit kaku. Afnan menoleh ke arah Ayumi, kedua mata mereka bertemu dan saling menatap satu sama lain. Afnan memperbaiki posisi duduknya menghadap ke arah Ayumi. Kedua mata Afnan menatap lekat kedua mata Ayumi.
"Apa yang ingin Kak Afnan katakan. Katakanlah, Ayumi akan mendengarkan dengan baik." ucap Ayumi lirih. Seolah tatapan itu mengisyaratkan sesuatu yang kurang baik untuk Ayumi.
"Berjanjilah untuk tidak membenciku Ayumi. Jika Kakak menceritakan semuanya, apapun alasannya. Ayumi jangan pernah membenci Kakak." ucap Afnan singkat dengan nada bicara memohon.
"Ayumi juga memiliki suatu rahasia Kak. Rahasia ini hanya Bunda yang tahu. Mungkin sudah saatnya Kakak mengetahuinya dari Ayumi." ucap Ayumi pelan kepada Afnan.
"Apa itu Ayumi?" tanya Afnan penuh semangat dan tampak berbinar di sekitar wajahnya. Senyumnya terlihat tertarik dengan tulus.
"Kakak bicara duluan. Ayumi janji, setelah Kak Afnan selesai bicara, Ayumi akan katakan semuanya." Ucap Ayumi pelan.
"Baiklah. Kakak akan jujur kepadamu Ayumi. Sebenarnya Kakak menyimpan rasa kepadamu sejak sepuluh tahun yang lalu. Sejak pertemuan itu. Kamu masih ingat Ayumi? Kejadian sepuluh tahun yang lalu?" tanya Afnan sedikit ragu kepada Ayumi.
Ayumi menyimak dengan baik, lalu menganggukkan kepalanya pelan tanda paham dan mengerti maksud pembicaraan Afnan.
"Ayumi ingat Kak. Waktu itu usia Ayumi masih sangat kecil mungkin sekitar delapan tahun. Ayumi bermain di sekitar sungai yang arusnya sangat deras. Tanpa sengaja, bola Ayumi terlempar ke arah sungai dan Ayumi berniat mengambil bola itu, tanpa tahu bahaya mengancam Ayumi. Hingga ..." ucapan Ayumi terhenti. Pandangannya yang sejak tadi menatap Afnan juga berpindah ke arah lain. Air matanya menetes ke pipi, mata Ayumi basah mengingat kejadian itu.
"Hingga, Kamu masuk ke dalam sungai yang deras itu hanya sebuah bola baru yang dibelikan oleh Ayahmu. Nyawamu hampir hilang karena tenggelam dan kehabisan napas." ucap Afnan melanjutkan ucapan Ayumi.
__ADS_1
Ayumi hanya menganggukkan kepalanya, lagi-lagi semua perkataan Afnan adalah suatu kebenaran dan fakta. Kejadian itu memang sudah sepuluh tahun yang lalu, tapi ingatan itu tetap membekas di pikiran dan hati keduanya.
"Lalu, Kak Afnan menolong Ayumi dan membawa Ayumi ke daratan. Memberikan napas buatan saat Ayumi tidak sadarkan diri." ucap Ayumi terbata-bata.
Di saat yang sama kedua orangtua Ayumi sedang mencari keberadaan Ayumi yang bermain tanpa pamit.
"Kamu tahu, apa yang ada di pikiran Kakak saat itu?" tanya Afnan pelan kepada Ayumi.
Ayumi hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan. Kedua matanya masih terbuka dan menatap keadaan sekitar. Sesekali, Ayumi mengusap air mata yang masih mengalir di pipinya.
"Apa Kak?" tanya Ayumi lirih tanpa menatap Afnan di hadapannya.
"Kakak hanya memohon sama Allah, untuk menyadarkan Ayumi lagi. Dan Kakak berjanji akan selalu menjaga Ayumi, padahal Kakak tidak mengenal siapa Ayumi." ucap Afnan pelan.
"Kenapa Kakak ingin menjaga Ayumi?" tanya Ayumi pelan kepada Afnan.
Ayumi menatap Afnan dengan rasa tidak percaya. Ada pria sebaik Afnan yang betul-betul menjaga diri Ayumi dengan baik sejak kecil, lebih tepatnya sejak kejadian itu.
"Maksud Kak Afnan? Ayumi tidak mengerti?" tanya Ayumi meminta penjelasan.
"Ayumi, semua berjalan dan mengalir begitu saja. Sejak kejadian itu, Kakak tidak pernah lagi bertemu Ayumi. Kabar terakhir yang Kakak tahu, orang tua Ayumi akan pindah ke Yogyakarta dan membuka usaha baru di kota ini. Rasanya Kakak begitu senang mendengar itu kabar tersebut. Selama ini Kakak berharap dan masih menanti Ayumi." ucap Afnan menjelaskan dan mengakhiri pembicaraannya dengan senyum yang begitu tulus.
"Kak Afnan? Kak Afnan menunggu Ayumi? Untuk apa?" tanya Ayumi yang kurang paham dengan maksud Afnan.
"Kakak jatuh cinta kepadamu sejak awal kita bertemu, sejak Kakak memberikan napas buatan itu, Kakak merasa aliran darah Kakak berdesir begitu hebat. Kakak merasa yakin, Ayumi adalah jodoh yang diberikan untuk Kakak." ucap Afnan pelan dan terdengar sangat lirih.
"Kak? Ayumi tidak salah mendengar? Ayumi masih kecil." ucap Ayumi dengan perasaan haru dan bahagia bercampur menjadi satu.
__ADS_1
Kata-kata ini yang memang diharapkan oleh Ayumi sejak tadi. Paling tidak, ada perasaan yang sama dan berbalas diantara keduanya.
Afnan mengangguk pelan, "Memang itu yang Kakak rasakan. Perasaan itu tidak pernah berubah hingga saat ini, semuanya masih sama. Kakak sayang padamu Ayumi. Lalu, apa rahasia Ayumi?" tanya Afnan tiba-tiba dengan rasa penasaran.
Senyum Ayumi mengembang, "Ayumi, sedang mencari seseorang yang dengan berani menolong Ayumi saat itu. Ayumi berjanji pada diriku Ayumi untuk menemukan lelaki yang sudah menolong Ayumi saat itu. Mungkin perasaan Ayumi juga sama, Ayumi menyukai lelaki itu tanpa syarat, rasa itu tiba-tiba saja muncul dan terpupuk dengan baik hingga malam ini. Ternyata setelah Ayumi mencari tahu, lelaki itu adalah Kak Afnan." ucap Ayumi pelan dengan detail menjelaskan.
Afnan menyimpan senyumnya untuk ditahan. Ada perasaan senang dan bangga, karena keduanya sama-sama menyukai dan menyayangi satu sama lain. Dan semuanya itu terpupuk dari kejadian sepuluh tahun yang lalu. Semuanya masih tersimpan rapi dan baru terungkap malam ini tepat sepuh tahun lamanya mereka saling memendam rasa. Semua itu takdir dan perjalan hidup. Berjodoh atau tidaknya semua hanya Allah yang tahu. Kita sebagai manusia hanya bisa berharap, memohon kepada Allah SWT dan berdoa untuk dikabulkan.
Allah SWT akan memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Termasuk rejeki, kesehatan dan jodoh.
Malam semakin larut, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sudah waktunya untuk kembali pulang ke rumah dan mengantarkan Ayumi tepat pada waktunya kepada Nenek Arsy.
Mereka sudah membuka rahasia masing-masing. Rahasia yang baru terungkap setelah sepuluh tahun lamanya di pendam.
"Ayumi, sudah larut malam. Berceritanya bisa kita lanjutkan besok lagi." ucap Afnan pelan.
"Iya Kak. Kita pulang sekarang, udaranya juga makin dingin." jawab Ayumi sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya agar tetap terasa hangat.
Mereka berdua berdiri dan berjalan menuju motor besar Afnan di parkiran sekitar alun-alun.
"Terima kasih untuk hari ini Kak Afnan. Terima kasih juga untuk traktirannya. Kapan-kapan Ayumi yang akan traktir Kak Afnan. Mau ya, Kak." ucap Ayumi kepada Afnan.
Tatapan keduanya bertemu. Tatapan rindu dan tidak ingin berpisah satu sama lain. Tatapan yang mengisyaratkan untuk selalu ingin bersama.
"Terima kasih untuk kejujuran Ayumi. Kakak sungguh bahagia. Lain waktu, Kakak akan bicarakan hal ini pada Nenek Arsy." ucap Afnan dengan antusias.
Hatinya benar-benar bahagia. Setelah sekian lama, semuanya bersambut dan tidak bertepuk sebelah tangan. Mereka berdua memiliki perasaan yang sama.
__ADS_1
"Tunggu sampai Ayumi selesai sekolah Kak. Ayumi mau fokus mencari sekolah terbaik di kota ini." ucap Ayumi singkat.